
Foto: Freepik
Teknologi.id - Upaya untuk memperlambat penuaan selama ini identik dengan perawatan kulit, suplemen, hingga terapi mahal. Namun, para ilmuwan kini menemukan pendekatan yang jauh lebih mendasar: menjaga sistem kekebalan tubuh tetap “muda”. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meremajakan sel imun dapat menjadi kunci untuk mempertahankan kesehatan di usia lanjut secara lebih alamiah.
Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh memang mengalami penurunan fungsi. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, kanker, dan berbagai penyakit kronis. Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan perlahan sejak usia muda. Salah satu faktor utamanya adalah menyusutnya kelenjar timus, organ kecil yang terletak di depan jantung dan berperan penting dalam produksi sel T.
Baca juga: MIT Ciptakan Ultrasound Otak Non-Invasif, Membuka Misteri Kesadaran Manusia
Peran Penting Sel T dalam Tubuh

Foto: akadeum life science
Timus merupakan organ yang penting bagi sel T, yaitu sel imun yang bertugas mengenali dan melawan ancaman seperti virus, bakteri, hingga sel kanker. Saat masih muda, timus aktif memproduksi sel T dalam jumlah besar dan beragam. Namun, seiring waktu, organ ini mengecil dan aktivitasnya menurun drastis.
Akibatnya, tubuh orang yang lebih tua memiliki jumlah dan variasi sel T yang lebih sedikit. Sistem imun menjadi kurang sigap dalam merespons vaksin maupun melawan penyakit. Inilah yang mendorong tim peneliti dari Broad Institute di MIT dan Harvard mencari cara untuk mempertahankan fungsi imun tersebut lebih lama.
"Kami ingin memikirkan bagaimana kita dapat mempertahankan perlindungan kekebalan tubuh semacam ini untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar ahli saraf MIT, Mirco Friedrich. Menurutnya, menjaga sistem imun tetap kuat adalah salah satu langkah paling logis untuk memperpanjang masa sehat seseorang.
Pengobatan mRNA untuk Produksi Protein
Dalam penelitian ini, para ilmuwan mempelajari perbedaan sistem imun antara tikus muda dan tua. Mereka menemukan tiga protein pensinyalan utama yang menurun seiring usia, yaitu DLL1, FLT3-L, dan IL-7. Ketiga protein ini berperan dalam mengubah sel menjadi sel T serta menjaga kesehatannya. Alih-alih mencoba memperbaiki timus secara langsung, tim peneliti mengambil pendekatan berbeda.
Mereka merancang pengobatan berbasis mRNA (messenger ribonucleic acid) yakni molekul yang membawa instruksi untuk memproduksi protein di dalam tubuh. Paket pengobatan mRNA ini dirancang agar tubuh memproduksi kembali protein-protein penting tersebut.
Menariknya, terapi ini tidak diarahkan ke timus, melainkan ke hati. Hati dipilih karena merupakan organ yang sangat efisien dalam memproduksi protein, bahkan pada usia lanjut. Selain itu, hati mudah diakses dan memiliki aliran darah yang strategis karena darah dari lambung dan usus selalu melewatinya.
Hasil yang Menjanjikan
Hasilnya cukup mencolok. Tikus yang menerima terapi menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah dan keragaman sel T. Tidak hanya itu, mereka juga merespons vaksinasi dengan lebih kuat dan mampu melawan tumor kanker dengan lebih efektif.
Menurut Feng Zhang, ahli saraf MIT yang terlibat dalam penelitian ini, pendekatan tersebut bersifat sintetis. “Kami merekayasa tubuh untuk meniru sekresi faktor timus,” jelasnya.
Yang tak kalah penting, peningkatan produksi sel T ini bersifat sementara. Hal ini dinilai penting untuk mengurangi risiko sistem imun menjadi terlalu aktif, yang dapat memicu peradangan atau bahkan penyakit autoimun, di mana tubuh menyerang selnya sendiri.
Baca juga: Hanya Lewat Kulit, Ilmuwan Temukan Cara Baru Menghentikan Dengkur
Alternatif yang Lebih Aman?
Upaya meremajakan sistem imun sebenarnya bukan hal baru. Beberapa pendekatan sebelumnya mencoba menyuntikkan faktor peningkat imun langsung ke aliran darah. Namun, metode tersebut kerap menimbulkan efek samping karena memicu respons imun yang berlebihan. Pendekatan berbasis hati ini dinilai lebih terkontrol dan berpotensi lebih aman.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap awal dan baru diuji pada model tikus. Para peneliti berencana memperluas studi ke hewan lain serta mengeksplorasi protein sinyal dan jenis sel imun tambahan sebelum mempertimbangkan uji coba pada manusia.
Jika terbukti efektif dan aman pada manusia, metode ini bisa menjadi terobosan besar dalam dunia kesehatan. Pendekatan ini berpotensi memperpanjang masa hidup sehat, di mana seseorang tetap aktif dan terlindungi dari penyakit lebih lama.
Penemuan ini membuka harapan baru bahwa rahasia awet muda mungkin bukan terletak pada kosmetik atau terapi mahal, melainkan pada kemampuan menjaga sistem imun tetap tangguh seiring bertambahnya usia.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)