
Foto: Cortical Labs
Teknologi.id – Batas antara kecerdasan biologis dan komputasi digital semakin kabur. Perusahaan bioteknologi asal Australia, Cortical Labs, berhasil menggabungkan sekitar 200.000 sel otak manusia (neuron) dengan chip komputer, lalu melatihnya untuk memainkan game klasik Doom.
Dalam demonstrasi yang dipublikasikan, jaringan neuron tersebut mampu mengontrol karakter di dalam game, mulai dari bergerak hingga menembak musuh. Menariknya, sel otak ini tidak dikendalikan langsung oleh manusia. Seluruh aksi di dalam permainan dihasilkan dari respons alami jaringan neuron yang diterjemahkan oleh sistem komputer.
Cara Kerja Sistem CL1
Eksperimen ini menggunakan sistem komputasi biologis bernama CL1 yang terhubung dalam jaringan Cortical Cloud. Neuron manusia ditumbuhkan di atas chip kecil yang dilengkapi elektroda untuk mengirim dan membaca sinyal listrik.
Sistem akan mengubah kondisi di dalam game menjadi rangkaian sinyal listrik, lalu mengirimkannya ke neuron. Respons yang dihasilkan sel otak kemudian diterjemahkan kembali menjadi aksi di dalam game, seperti bergerak, berputar, atau menembak saat musuh muncul, mekanisme ini menciptakan interaksi dua arah antara lingkungan digital dan jaringan biologis secara real-time.
Baca juga: Masa Depan AI! Singapura Bangun Pusat Data Berbasis Sel Otak Pertama di Dunia
Performa Masih Seperti Pemula

Foto: Cortical Labs
Meski tergolong terobosan besar, performa neuron dalam bermain game masih terbatas. Peneliti menyebut kemampuannya menyerupai pemain pemula yang baru pertama kali mencoba game.
Karakter di dalam permainan masih sering kalah atau gagal merespons serangan dengan cepat. Namun, jaringan neuron mulai menunjukkan tanda adaptasi, seperti mampu mencari musuh, bergerak di dalam peta, dan merespons ancaman meski belum konsisten.
Pengembangan dari Eksperimen Sebelumnya
Eksperimen ini merupakan lanjutan dari riset tahun 2022, saat Cortical Labs melatih sekitar 800.000 neuron untuk memainkan game Pong melalui sistem DishBrain.
Dibandingkan Pong yang berbasis dua dimensi, Doom menghadirkan tantangan lebih kompleks karena menggunakan lingkungan tiga dimensi yang membutuhkan navigasi dan refleks lebih tinggi, meski jumlah neuron yang digunakan lebih sedikit.
Baca juga: Gempur Neuralink! China Kini Balap Teknologi Implan Otak untuk Produksi Massal
Potensi untuk Ilmu Saraf dan Medis
Eksperimen ini tidak hanya bertujuan menunjukkan kemampuan teknologi, tetapi juga membuka peluang riset di bidang ilmu saraf.
Para peneliti berharap interaksi langsung antara sel otak dan sistem digital dapat membantu memahami cara otak belajar dan beradaptasi. Pengetahuan tersebut berpotensi mempercepat pengembangan obat, sekaligus menjadi fondasi bagi teknologi komputasi masa depan.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)