
Foto: Freepik
Teknologi.id - Belum usai perbincangan mengenai brain rot, brain fry, hingga kebiasaan buruk doomscrolling, Generasi Z kini kembali dihantui oleh "penyakit" mental baru di era digital yang dikenal dengan istilah popcorn brain atau "otak berondong jagung". Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana fokus seseorang menjadi sangat rapuh dan mudah melompat-lompat, persis seperti biji jagung yang meletup tak beraturan di dalam pemanggang.
Gejala ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang tanpa disadari. Pernahkah Anda berniat menonton serial di Netflix, namun baru lima menit berjalan, tangan Anda secara refleks meraih ponsel dan tiba-tiba Anda sudah menghabiskan satu jam menonton video pendek di TikTok? Jika situasi ini terasa sangat akrab, besar kemungkinan otak Anda tengah mengalami popcorn brain.
Baca juga: Ahli Saraf Sebut IQ Gen Z di Bawah Milenial Akibat Doomscrolling dan Malas Membaca
Mengenal Mekanisme "Otak Berondong Jagung"
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh David Levy dalam bukunya yang berjudul “Mindful Tech”. Secara neurosains, fenomena ini menggambarkan kecenderungan pikiran untuk terus berpindah dari satu hal ke hal lain dengan perhatian yang terfragmentasi. Dr. Ashwini Nadkarni, Asisten Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, menjelaskan bahwa kondisi ini ditandai dengan tingkat gangguan yang tinggi dan penurunan kemampuan fokus yang drastis.
Meskipun bukan istilah medis resmi, para pakar sepakat bahwa penyebab utamanya adalah konsumsi media digital yang berlebihan. Bagi Gen Z, hidup berdampingan dengan smartphone dan laptop adalah sebuah keniscayaan, namun perangkat inilah yang memaksa otak untuk terus melakukan multitasking. Kebiasaan mengetik tugas sambil membuka aplikasi belanja daring atau membalas pesan WhatsApp secara bersamaan mendorong otak beroperasi tanpa perhatian penuh.
Media Sosial sebagai "Tersangka Utama"
Neuropsikolog Sanam Hafeez menegaskan bahwa platform media sosial berperan besar dalam melatih otak untuk mencari gratifikasi instan. Aliran konten berdurasi pendek yang terus-menerus menuntut perhatian cepat membuat otak kecanduan pada stimulasi bertempo tinggi. Akibatnya, rentang perhatian (attention span) manusia semakin menyusut.
"Kita menjadi sangat kesulitan untuk fokus pada satu hal lebih dari beberapa menit saja," ujar Hafeez.
Kondisi ini membuat otak selalu berada dalam status waspada tinggi (high alert) karena terus menunggu konten berikutnya. Dalam jangka panjang, overstimulasi ini tidak hanya menguras energi mental, tetapi juga mengikis kemampuan manusia untuk berpikir mendalam (deep thinking) dan memunculkan kreativitas orisinal.
Melatih Kembali "Otot" Perhatian

Foto: Freepik
Dr. Dave Rabin, seorang Psikiater dan Ahli Saraf dari Apollo Neuroscience, menjelaskan bahwa perhatian manusia bekerja layaknya otot. Fokus berada dalam sebuah spektrum, mulai dari perhatian tak terbagi (undivided attention) hingga ketidakpedulian total (inattention). Jika tidak dilatih secara rutin untuk menetap pada satu hal, otot perhatian tersebut akan melemah.
Baca juga: 'Zero Post’ Jadi Tren Gen Z, Benarkah Mereka Mulai Jenuh dengan Media Sosial?
Kabar baiknya, kondisi popcorn brain ini dapat disembuhkan melalui pelatihan mental yang konsisten. Para pakar menyarankan dua strategi utama untuk melakukan "reset" pada otak yang sudah terlanjur terbiasa meletup-letup:
1. Praktik Mindfulness dan Kesadaran Diri
Langkah pertama yang krusial adalah menyadari saat otak mulai kehilangan kendali. Mindfulness atau praktik memusatkan perhatian pada momen yang ada tanpa penghakiman dapat membantu memperkuat kembali kontrol perhatian. Teknik sederhana seperti body scan, atau menutup mata dan merasakan napas serta bagian tubuh secara bergantian, terbukti efektif. Dr. Rabin juga menyarankan aktivitas fisik seperti yoga atau meditasi rutin untuk memperkuat daya tahan fokus.
2. Menciptakan Lingkungan yang Tenang
Di tengah budaya hustle culture, melambat justru menjadi kunci produktivitas. Meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk fokus pada pernapasan atau mendengarkan musik tenang sebelum memulai tugas berikutnya dapat membantu mengatur ulang mental. Selain itu, penggunaan Pomodoro Technique (fokus 25 menit dan istirahat 5 menit) sangat disarankan untuk menjaga ritme kerja tetap pada jalurnya.
Langkah terakhir yang paling menantang namun penting adalah membatasi penggunaan gawai. Mulailah berlatih menggunakan hanya satu perangkat dalam satu waktu, mematikan notifikasi yang tidak mendesak, serta melakukan "puasa" media sosial secara berkala. Dengan melatih kembali kendali perhatian, Generasi Z diharapkan dapat merebut kembali kemampuan fokus mereka di tengah kebisingan dunia digital.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)