Ahli Saraf Sebut IQ Gen Z di Bawah Milenial Akibat Doomscrolling dan Malas Membaca

Yasmin Najla Alfarisi . February 19, 2026

Foto: Freepik

Teknologi.id -  Sebuah alarm peringatan bagi masa depan intelektual baru saja berbunyi. Generasi Z, yang selama ini disebut sebagai generasi digital paling melek teknologi, justru diprediksi menjadi kelompok pertama dalam sejarah modern yang memiliki skor kognitif lebih rendah dibandingkan orang tua mereka, Generasi Milenial. Penurunan kapasitas otak ini bukan sekadar isu di permukaan, melainkan mencakup elemen fundamental mulai dari daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, hingga kecerdasan intelektual (IQ) secara menyeluruh.

Fakta mengejutkan ini mencuat dari Dr. Jared Cooney Horvath, seorang ahli saraf dan pendidik, di hadapan Komite Senat AS untuk Perdagangan, Sains, dan Transportasi pada tahun 2026. Menurut Dr. Horvath, pilar perkembangan kognitif seperti kemampuan literasi dan penalaran tingkat tinggi di banyak negara maju tidak lagi sekadar stagnan, melainkan mulai bergerak mundur selama dua dekade terakhir.

Baca juga: Jeff Bezos Ingatkan Gen Z: Jangan Buru-Buru Bikin Startup Kalau Mau Sukses

Paradoks Inovasi: Canggih di Luar, Rapuh di Dalam

Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi ironi yang sangat besar. Generasi Z hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan (AI) dan robotika, namun di saat yang sama, mereka dilaporkan semakin kesulitan dalam menguasai hal-hal mendasar. Banyak siswa saat ini kewalahan hanya untuk memahami satu kalimat secara mendalam atau menyelesaikan soal matematika dasar tanpa bantuan alat digital.

Kondisi ini, menurut Dr. Horvath, berakar pada ekspansi teknologi pendidikan (EdTech) di ruang kelas yang sering kali tidak teregulasi dengan bijak. Alih-alih memperkuat pemahaman, penggunaan teknologi yang berlebihan justru kerap melemahkan hasil belajar. Dengan kemudahan jawaban instan dari smartphone dan AI, "otot mental" anak muda jarang dilatih untuk berpikir mandiri. Alhasil, teknologi yang seharusnya menjadi pelayan justru secara perlahan membentuk ulang cara kerja otak mereka menjadi lebih malas dan tergantung.

Runtuhnya Budaya Membaca dan Efek Domino

Penyebab utama dari krisis ini adalah hilangnya kebiasaan membaca mendalam (deep reading). Membaca buku bukan lagi menjadi aktivitas favorit saat waktu luang. Data dari National Literacy Trust (2024) mengungkap fakta miris: hanya satu dari tiga anak usia 8-18 tahun yang masih menikmati membaca di kala senggang. Di Amerika Serikat sendiri, kebiasaan membaca harian telah anjlok hingga lebih dari 40 persen dalam dua puluh tahun terakhir.

Dampak dari "kemalasan" literasi ini kian terasa nyata pasca-pandemi COVID-19. Riset dari Stanford University menunjukkan bahwa kemampuan membaca lisan siswa sekolah dasar tertinggal hingga 30 persen dari standar yang diharapkan. Ini adalah masalah serius karena kemampuan membaca adalah fondasi utama; jika keterampilan ini runtuh, maka pemahaman siswa pada mata pelajaran lain seperti sains dan matematika akan ikut hancur secara otomatis.

Selain itu, Harvard University menemukan bahwa kesenjangan kemampuan mengolah bahasa ini sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak anak berusia 18 bulan. Tanpa dukungan literasi sejak dini, anak-anak ini akan membawa "lubang" kognitif yang semakin lebar saat mereka beranjak dewasa, terutama dalam aspek berpikir kritis dan fokus.

Doomscrolling dalam Attention Economy

Foto: Freepik/ pvproductions

Kondisi intelektual Gen Z semakin diperparah dengan fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar untuk mengonsumsi potongan informasi yang sering kali negatif. Paparan informasi yang terpecah, seperti video pendek berdurasi belasan detik atau potongan berita singkat, melatih otak untuk hanya bereaksi cepat, bukan berpikir mendalam.

Ekonomi atensi (attention economy) yang menguasai jagat digital saat ini memang dirancang untuk menghargai distraksi. Akibatnya, memori kerja otak terganggu dan disiplin mental yang biasanya didapat dari membaca buku perlahan menghilang. Siswa masa kini cenderung kehilangan kesabaran saat diminta memahami argumen kompleks atau membaca teks panjang. Mereka menjadi generasi yang responsif terhadap stimulasi layar, namun tumpul dalam refleksi batin.

Baca juga: 'Zero Post’ Jadi Tren Gen Z, Benarkah Mereka Mulai Jenuh dengan Media Sosial?

Mencari Solusi Tanpa Harus Menyalahkan

Meski terdengar suram, para pakar menekankan bahwa ini bukan saatnya untuk melabeli Gen Z sebagai "generasi bodoh". Fenomena ini adalah sinyal darurat bagi sistem pendidikan untuk melakukan adaptasi. Kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis; ia adalah keterampilan yang bisa dan harus diasah melalui latihan mental yang konsisten.

Para ahli mengusulkan beberapa langkah strategis. Pertama, reorientasi literasi yang menggabungkan teks panjang dengan kecakapan digital agar siswa mampu berpikir reflektif. Kedua, pembatasan waktu layar yang sehat di lingkungan sekolah agar teknologi tetap menjadi pendukung, bukan pengganti proses berpikir. Terakhir, reformasi sistem penilaian yang tidak hanya mengukur kecepatan mencari informasi, tetapi juga kemampuan sintesis kreatif dan etika penalaran.

Masa depan pendidikan dunia kini berada di persimpangan jalan yang menentukan. Pendidikan tidak lagi bisa hanya sekadar mengajarkan "apa yang harus diketahui", tetapi harus mengajarkan "bagaimana cara menyerap dan mengolahnya". Jika sistem ini tidak segera diperbaiki, kita berisiko menciptakan generasi yang menguasai layar, namun kehilangan kemampuan untuk menguasai pikiran mereka sendiri.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar