.jpg)
Foto: Freepik/ DC Studio.
Teknologi.id - Untuk waktu yang lama, video game sering kali dianggap sebagai kebiasaan buruk atau sekedar "buang-buang waktu". Namun, sebuah terobosan baru mengubah narasinya. Penelitian baru menunjukkan jika memainkan game tertentu dapat memperlambat penuaan otak, membuat otak seseorang berfungsi layaknya empat tahun lebih muda dari usia mereka yang sebenarnya.
Tidak Semua Game Sama
Menurut ahli seperti Aaron Seitz, seorang profesor psikologi dan direktur Brain Game Center di Northeastern University, video game menawarkan manfaat kognitif. Dalam sebuah wawancara, Seitz menjelaskan video game jauh lebih efektif dibandingkan aplikasi "latihan otak" tradisional. Meskipun kebanyakan aplikasi pelatih otak dirancang untuk menjadi sesedehana mungkin, video game modern memaksa pemainnya untuk memiliki kemampuan kompleks dalam lingkungan yang dinamis dan tidak dapat diperkirakan.
Walaupun begitu, efek "otak awet muda" ini bergantung pada tipe game yang dimainkan. Peneliti C. Shawn Green dari Universitas Wisconsin, Madison dan Carlos Coronel menemukan manfaat paling signifikan berasal dari genre spesifik. Mereka mengatakan kalau perkembangan kognitif paling konsisten ditemukan pada game aksi fast-paced dan Real-Time Strategy (RTS). Genre-genre ini membutuhkan pengambilan keputusan secara terus-menerus, pengelolaan sumber daya, dan bereaksi cepat di bawah situasi mencekam.
Baca juga: Samsung Kembangkan Sensor Otak di Wearable untuk Deteksi Dini Gejala Demensia
Penemuan StarCraft II: Lebih Cepat dan Efisien
Sebuah studi penting dalam jurnal Neurolmage (2024) dan didukung oleh Nature Communications (2025) menggunakan StarCraft II untuk menguji teori ini. Game ini terkenal untuk mendorong pemain guna mengoordinasi pasukan besar dan mengelola sumber daya dengan waktu yang ketat. Penelitian ini membandingkan 31 gamer berpengalaman dan 31 non-gamer melalui pemindaian otak secara detail.
Hasilnya cukup membuka mata:
- Efisiensi Tinggi: Otak gamer memproses informasi jauh lebih efisien dibandingkan non-gamer.
- Koneksi yang Lebih Baik: Pemindaian otak menunjukkan koneksi yang jauh lebih kuat dalam area yang bertanggung jawab untuk perhatian visual dan fungsi eksekutif (pusat perintah otak).
- Merawat Saraf: Gamer berpengalaman memiliki otak yang rata-rata terlihat layaknya empat tahun lebih muda daripada usia kronologis mereka.
Dr. Coronel menjelaskan kompleksitas kognitif dari game ini serupa dengan kegiatan kreatif, seperti bermain musik atau membuat karya seni. Hobi-hobi ini melindungi dan mengolah koneksi saraf yang biasanya melemah atau "mengerut" seiring bertambahnya usia. Dengan menjaga koneksi ini tetap aktif, bermain game dapat membantu otak menolak efek alami penuaan.
Bahkan Terlihat Hasilnya di Pemula

Foto: Blizzard.
Berita baiknya, Anda tidak perlu menjadi gamer profesional untuk dapat melihat hasilnya. Dalam sebuah eksperimen, orang yang belum pernah main game sama sekali diminta untuk bermain StarCraft selama 30 jam dalam beberapa minggu. Bahkan dalam waktu sesingkat itu, mereka menunjukkan pelambatan penuaan otak dibandingkan orang yang memainkan game kartu sederhana, seperti Hearthstone.
Penelitian Profesor Green juga menekankan jiks game action (seperti game menembak first-person) meningkatkan "penalaran spasial" dan "kendali perhatian". Game seperti ini mengajarkan otak untuk menyaring gangguan dan memproses informasi visual lebih cepat. Ini merupakan kemampuan yang dapat membantu dalam pekerjaan di kehidupan nyata, seperti menyetir, mengatasi lingkungan kompleks, tidak hanya di layar komputer.
Baca juga: Wajib Main! 11 Rekomendasi Game Sci-Fi Luar Angkasa Paling Ditunggu di Tahun 2026
Aturan Main yang Pas: Inilah Syarat Utamanya
Meskipun data tersebut menarik, peneliti memperingati "lebih banyak tidak selalu lebih baik". Syarat dari keuntungan ini memiliki peraturan ketat. Bermain selama berjam-jam tanpa henti justru dapat menjadi bahaya, menyebabkan susah tidur, sulit fokus, dan interaksi sosial yang buruk. Untuk mendapat hasil "brain-aging" terbaik, peneliti menyarankan pendekatan yang lebih seimbang:
- Durasi Ketat: Bermain selama 30 sampai 60 menit saja per sesi. Peneliti menunjukkan kalau ini merupakan "titik optimal" untuk simulasi kognitif tanpa menyebabkan kelelahan.
- Keseimbangan Total: Bermain game harus diiringi dengan latihan fisik, kehidupan sosial, dan setidaknya tidur selama 7-8 jam.
- Tantangan Keragaman: Ini bisa jadi peraturan terpenting. Saat Anda sudah jago dalam sebuah game, manfaat kognitifnya mulai menurun karena otak tidak lagi tertantang. Untuk menjaga otak tetap tajam, Anda harus mencoba game sulit baru yang terasa "menyebalkan" atau "membuat frustrasi" pada awalnya.
Seperti yang dikatakan Profesor Green,
"Sekalinya Anda sudah bisa, hal tersebut tidak berguna lagi. Anda harus melakukan hal yang menjengkelkan dan sulit untuk menjaga sistem kognitif Anda tetap kuat."
Jadi, jika anda ingin memiliki otak yang lebih muda, mungkin sudah saatnya untuk mengambil konsol, namun tetap ingat untuk membatasi waktu bermain dan memainkan genre yang belum pernah sebelumnya!
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(yna/sa)