Masa Depan AI! Singapura Bangun Pusat Data Berbasis Sel Otak Pertama di Dunia

Yasmin Najla Alfarisi . March 13, 2026

Foto: Freepik

Teknologi.id -  Di tengah perlombaan global untuk menciptakan sistem kecerdasan buatan (AI) yang lebih kuat namun efisien, Singapura mengambil langkah radikal dengan melirik biologi sebagai solusi masa depan. DayOne, pengembang infrastruktur data center global yang berpusat di Singapura, mengumumkan kemitraan strategis dengan Cortical Labs, startup komputasi biologis asal Melbourne, untuk membangun Bio Data Center pertama di Asia Tenggara.

Proyek ambisius ini akan menggantikan peran hardware silikon tradisional dengan komponen "wetware", sebuah istilah untuk sel saraf atau neuron hidup yang ditumbuhkan dari sel punca (stem cell). Inovasi ini diharapkan mampu memecahkan kebuntuan krisis energi yang menghantui industri data center akibat ledakan kebutuhan komputasi AI yang kian tak terkendali.

Baca juga: Bos OpenAI Sam Altman: AGI Sudah Dekat, Kecerdasan Level "Dewa" (ASI) Segera Menyusul

Wetware: Ketika Sel Hidup Menjadi Prosesor

Data center tradisional selama ini sangat bergantung pada chip silikon yang membutuhkan pasokan listrik luar biasa besar dan sistem pendingin yang masif. Sebaliknya, Bio Data Center memanfaatkan efisiensi alami dari organoid otak, yang merupakan jejaring saraf biologis yang mampu memproses informasi hanya dengan sebagian kecil energi yang dibutuhkan komputer digital biasa.

Teknologi ini bekerja dengan cara mengintegrasikan neuron hidup ke dalam sirkuit elektronik, menciptakan jembatan antara biologi dan teknologi digital. Dalam kolaborasi ini, DayOne akan menyediakan modal dan masukan strategis, sementara Cortical Labs akan menghadirkan platform Cortical Cloud. Proyek ini juga melibatkan peran krusial dari Yong Loo Lin School of Medicine, Universitas Nasional Singapura (NUS Medicine), untuk memvalidasi performa sistem sebelum dipindahkan ke fasilitas komersial.

"Sistem wetware membantu peneliti melakukan pendekatan baru atas model pembelajaran, adaptasi, dan pemodelan biologi," ujar Rickie Patani, Profesor Neuroscience di NUS Medicine.

Menurutnya, kemampuan untuk membiakkan subtipe neuron manusia tertentu menyediakan fondasi kuat untuk menerjemahkan prinsip biologi ini ke platform biokomputer yang lebih cerdas dan adaptif.

Ambisi Hijau di Tengah Tekanan Energi Regional

Langkah Singapura ini hadir di saat pemerintah memperketat standar keberlanjutan bagi pusat data. Infocomm Media Development Authority (IMDA) melalui Green Data Center Roadmap telah mewajibkan standar efisiensi energi yang jauh lebih tinggi bagi setiap penambahan kapasitas baru. Singapura berupaya tetap menjadi pusat digital dunia tanpa harus mengorbankan target emisi karbon mereka.

Jamie Khoo, CEO DayOne, menegaskan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk mengeksplorasi paradigma komputasi baru yang sejalan dengan arah keberlanjutan wilayah tersebut. Hal ini sangat krusial mengingat proyeksi menunjukkan permintaan daya data center di Asia Tenggara bisa melonjak dari 2,6GW pada 2025 menjadi 10,7GW pada 2035.

Fase Uji Coba, Keamanan, dan Ekspansi Komersial

Foto: DayOne

Implementasi awal akan dilakukan di laboratorium NUS Medicine dengan satu rak server berisi 20 unit Cortical Cloud. Setelah fase validasi laboratorium selesai, sistem akan dipindahkan ke data center komersial milik DayOne untuk diuji dalam kondisi beban kerja nyata. Pengujian ini mencakup integrasi sistem biologi dengan infrastruktur pendingin standar serta manajemen lingkungan yang terkendali agar sel-sel saraf tetap hidup dan berfungsi optimal.

Aspek kepatuhan dan biosafety juga menjadi fokus utama dalam proyek ini. DayOne dan Cortical Labs tengah mengidentifikasi kerangka tata kelola dan kepatuhan yang sesuai dengan lingkungan operasional Singapura. Jika prototipe ini memenuhi standar fungsionalitas, DayOne berencana melakukan ekspansi bertahap hingga mencapai 1.000 unit komputer berbasis wetware. Sel-sel saraf yang menjadi "otak" komputer ini nantinya akan dikembangbiakkan secara khusus di Life Sciences Institute Singapura.

Baca juga: Baterai Nuklir dari China Ini Bisa Bertahan 50 Tahun Tanpa Dicas

Dampak Luas bagi Sains, Medis, dan AI

Selain penghematan energi, Bio Data Center ini diprediksi akan merevolusi bidang kesehatan. Kemampuannya untuk menjalankan eksperimen pada jaringan biologis yang mirip otak manusia secara berdampingan dengan komputasi konvensional dapat mempercepat penemuan obat-obatan baru serta riset penyakit neurologis seperti Alzheimer.

Hon Weng Chong, Founder & CEO Cortical Labs, menambahkan bahwa kemitraan ini memberikan alternatif praktis bagi pembuat kebijakan.

"AI kini beralih dari sekadar kebaruan menjadi kebutuhan di setiap sektor. Kemitraan ini menawarkan jalur berkelanjutan untuk adopsi AI yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada konsumsi listrik dan air yang besar," tutupnya.

Dengan inovasi ini, Singapura tidak hanya membangun infrastruktur data, tetapi juga membangun ekosistem di mana biologi dan teknologi bersinergi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

Share :