Ganti Listrik! Mesin Jet Supersonik Bakal Tenagai Data Center AI

Yasmin Najla Alfarisi . January 05, 2026

Foto: The Engineering Choice.

Teknologi.id -  Pertumbuhan masif kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) menciptakan krisis yang tak terduga: kekurangan listrik global. Selagi raksasa teknologi berlomba untuk membangun pusat data (data center) besar, jaringan listrik tradisional gagal mengejar. Sebagai respon, para developer sedang beralih ke solusi mengejutkan dari industri penerbangan, yaitu mendaur ulang mesin jet supersonik untuk berperan sebagai pembangkit listrik on-site.

Tujuh Tahun Menunggu Listrik

Permintaan komputasi AI begitu tinggi sehingga menyebabkan jaringan listrik lokal di Amerika Serikat dan wilayah lain kewalahan. Di banyak bagian di AS, daftar tunggu (waiting list) untuk menghubungkan pusat data baru ke jaringan listrik utama dapat mencapai tujuh tahun.

Karena developer "hyperscale (berskala besar)" seperti OpenAI, Microsoft, dan Oracle tidak dapat menunggu hampir satu dekade untuk adanya listrik, mereka mengambil tindakan sendiri. Daripada bergantung pada perusahaan utilitas, mereka memasang sistem pembuat listrik miliknya secara langsung ke situs pusat data. Pergeseran ini telah mengubah mesin jet dari simbol penerbangan menjadi tulang punggung infrastruktur AI.

Baca juga: Elon Musk Gelontorkan Rp 300 Triliun Bangun Pusat Data AI Terbesar di Dunia

Mesin Jet Sebagai Pembangkit Listrik Stabil

Foto: Boom Supersonic.

Untuk memecahkan kemacetan tenaga, perusahaan-perusahaan menggunakan turbin aeroderivatif, mesin yang didapat dari teknologi penerbangan, dan generator diesel besar. Unit-unit ini portabel, modular, dan dapat dikerahkan jauh lebih cepat dari membangun pusat tenaga tradisional.

Beberapa pemain besar yang memimpin tren:

  • GE Vernova: Mereka menyediakan turbin khusus untuk proyek "Stargate" di Texas, sebuah fasilitas besar yang dikembangkan OpenAI, Oracle, dan SoftBank. Proyek ini bertujuan untuk membangun daya hingga 1 gigawatt.
  • ProEnergy: Perusahaan ini telah menjual lebih dari 1 gigawatt turbin berbasis mesin jet, termasuk yang menggunakan mesin inti seperti Boeing 747.
  • Boom Supersonic: Startup ini terkenal karena membangun perusahaan penerbangan supersonik dan sekarang sedang menjual teknologi mesin "Symphony"-nya untuk daya AI. Perubahan ini, didukung oleh para investor seperti Sam Altman, membantu mendanai riset aerospace mereka sambil menyediakan solusi tenaga berkapasitas tinggi untuk perusahaan teknologi.
  • Cummins: Perusahaan raksasa mesin ini dilaporkan menjual lebih dari 39 gigawatts kapasitas ke sektor pusat data. Di sisi lain, generator diesel awalnya hanya digunakan untuk situasi darurat, namun sekarang digunakan sebagai sumber tenaga utama.

Biaya dari Kecepatan Tinggi: Harga Tinggi dan Emisi

Walaupun menggunakan mesin jet adalah solusi cepat, terdapat beberapa kekurangan signifikan. Menghasilkan daya on-site jauh lebih tidak efisien dibandingkan menggunakan jaringan listrik nasional atau sumber energi yang dapat diperbarui. Menurut sebuah analisis oleh BNP Paribas, biaya listrik dari pembangkit listrik kecil bertenaga gas dapat mencapai $175 (sekitar Rp 2,9 juta) per megawatt-hourhampir dua kali lipat dari rata-rata tingkat industri.

Hal ini juga menciptakan kekhawatiran lingkungan yang serius. Mengubah kegunaan mesin jet untuk membuat daya 24/7 meningkatkan emisi karbon secara signifikan. Meski begitu, permintaan untuk AI begitu mendesak sampai beberapa negara bagian AS sudah mulai melonggarkan regulasi lingkugan untuk generator hanya untuk menjaga pusat data tetap berjalan.

Baca juga: Perang Baru Musk vs Bezos: Adu Cepat Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa!

Kenapa Teknologi Penerbangan Cocok dengan Kebutuhan AI

Mesin aviasi ideal untuk beban kerja AI karena mereka dirancang untuk kinerja tinggi dan dapat beroperasi dalam kondisi ekstrem. Sebagai contoh, turbin "Superpower" milik Boom Supersonic dapat memproduksi hingga 42 megawatt, cukup untuk sebuah kota kecil, tanpa membutuhkan air untuk pendinginan. Hal ini krusial untuk pusat data yang berlokasi di wilayah panas dan kering seperti Texas atau AS bagian barat daya.

Di samping itu, mesin-mesin ini dapat dipasang di trailer dan dipindahkan dengan mudah. Mobilitas ini mengizinkan operator AI untuk menghindari keterlambatan birokrasi di sektor energi tradisional dan memulai operasi komputasi mereka hampir dengan instan.

Masa Depannya: Sebuah "Bottleneck" Baru

Perubahan "pusat data mesin jet" membuktikan jika listrik merupakan hambatan (bottleneck) baru di era digital. Selagi model AI bertumbuh besar, kebutuhan akan tenaga dunia diperkirakan akan berlipat ganda di tahun 2030. Untuk saat ini, gemuruh mesin jet di darat akan terus menjadi pendorong revolusi kecerdasan, mengisi celah hingga solusi permanen seperti energi nuklir atau fusion tersedia.


Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)


Share :