
Di tengah meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital, keandalan sistem dan keamanan transaksi menjadi dua aspek penting yang menentukan kepercayaan nasabah. Bagi bank dengan volume transaksi yang besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA), menjaga layanan tetap tersedia sepanjang waktu bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan bagian dari keberlangsungan bisnis.
Sepanjang 2025, BCA memproses sekitar 42 miliar transaksi, meningkat 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode puncaknya, volume transaksi bahkan mendekati 300 juta transaksi dalam satu hari. Sementara itu, transaksi melalui mobile dan internet banking tumbuh 19% secara tahunan. Angka tersebut memperlihatkan besarnya beban operasional yang harus ditopang oleh infrastruktur teknologi perbankan.
Di balik kebutuhan tersebut, penguatan infrastruktur teknologi informasi dan keamanan siber menjadi agenda strategis BCA. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam pengembangan agenda ini adalah David Formula, yang kini menjabat sebagai Direktur BCA dengan tanggung jawab pada Strategic Information Technology Group, Operation Strategy & Development Group, serta Contact Center & Digital Services.
Infrastruktur Teknologi sebagai Fondasi Layanan Digital
Pertumbuhan transaksi digital membawa konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur perbankan. Sistem harus mampu menangani lonjakan transaksi, menjaga konsistensi layanan, serta memastikan setiap proses berjalan dengan tingkat keandalan yang tinggi.
Dalam Laporan Tahunan 2025, BCA menegaskan bahwa strategi pengembangan TI ke depan akan diarahkan pada penguatan infrastruktur untuk meningkatkan keandalan sistem, modernisasi sistem yang sudah ada guna meningkatkan efisiensi dan kecepatan, serta penguatan ketahanan siber dan pengelolaan data.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berorientasi pada penambahan fitur aplikasi. Modernisasi sistem inti, pengelolaan infrastruktur, dan integrasi antarlayanan juga menjadi bagian penting agar inovasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan.
Salah satu pengembangan yang dilakukan BCA adalah myBCA, yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan transaksi nasabah individu maupun bisnis dalam satu aplikasi. Sepanjang 2025, BCA juga menambahkan sejumlah fitur, termasuk QRIS Tap melalui NFC Pay untuk pengguna Android, pembayaran zakat, pembelian tiket kereta dan kapal feri, serta akses melalui perangkat jam tangan pintar.
Pengembangan layanan tersebut perlu ditopang oleh sistem yang mampu menjaga ketersediaan dan konsistensi layanan. Dengan demikian, penguatan infrastruktur menjadi fondasi yang berjalan beriringan dengan inovasi produk digital.
Keamanan Siber: Menjaga Kepercayaan di Tengah Ancaman Digital
Semakin luasnya penggunaan layanan digital juga memperbesar risiko keamanan. Ancaman seperti phishing, pencurian kredensial, malware, hingga rekayasa sosial dapat menyasar nasabah maupun sistem operasional lembaga keuangan.
David Formula pernah menyoroti perkembangan pola kejahatan siber yang semakin kompleks seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap konektivitas digital. Dalam kegiatan BCA Expoversary 2025, ia menjelaskan pendekatan keamanan BCA yang mencakup tiga aspek utama, yaitu people, process, dan technology.
Pendekatan tersebut menempatkan keamanan siber sebagai tanggung jawab yang tidak hanya bergantung pada perangkat dan sistem teknologi, tetapi juga melibatkan kesiapan sumber daya manusia serta prosedur operasional.
Dalam implementasinya, BCA mengoperasikan Security Monitoring Center (SMC) selama 24 jam untuk memantau potensi ancaman keamanan informasi. Bank ini juga memiliki Information Security Incident Response Team (ISIRT) yang berperan dalam penanganan insiden keamanan informasi.
Selain itu, Laporan Tahunan BCA 2025 mencatat penggunaan sejumlah teknologi dan mekanisme pengamanan, antara lain:
Security Information and Event Management (SIEM) yang dilengkapi respons otomatis.
Data Loss Prevention (DLP), enkripsi, dan klasifikasi data digital untuk melindungi informasi.
Distributed Denial of Service (DDoS) protection untuk menghadapi serangan yang mengganggu ketersediaan layanan.
Endpoint Detection and Response (EDR) untuk membantu mendeteksi dan merespons ancaman pada perangkat.
Pemanfaatan AI dan machine learning untuk mendeteksi anomali.
Simulasi insiden secara berkala untuk menguji kesiapan penanganan gangguan keamanan.
Berbagai lapisan pengamanan tersebut memperlihatkan bahwa keamanan siber membutuhkan pendekatan berlapis. Deteksi dini, respons insiden, perlindungan data, dan kesiapan pengguna perlu berjalan secara terintegrasi untuk menjaga keberlangsungan layanan perbankan.
David Formula dan Arah Pengembangan Teknologi BCA
Penguatan infrastruktur dan keamanan siber membutuhkan kepemimpinan teknologi yang mampu menghubungkan kebutuhan bisnis dengan pengembangan sistem. Dalam konteks BCA, David Formula memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang teknologi informasi, termasuk pengelolaan TI, perencanaan keberlangsungan bisnis, keamanan siber, dan transformasi digital.
Sebelum diangkat menjadi Direktur BCA pada 2026, David menjabat sebagai SEVP Strategic Information Technology Group sejak Oktober 2022. Pengalaman tersebut memberinya keterlibatan dalam pengelolaan strategi teknologi informasi BCA sebelum memperoleh tanggung jawab yang lebih luas di jajaran direksi.
Pengangkatan David sebagai Direktur BCA ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Maret 2026, setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan melalui proses penilaian kemampuan dan kepatutan.
Dalam struktur direksi saat ini, tanggung jawab David mencakup Strategic Information Technology Group, Operation Strategy & Development Group, serta Contact Center & Digital Services. Cakupan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pengembangan teknologi, strategi operasional, dan kualitas layanan nasabah.
Ke depan, BCA telah menetapkan sejumlah prioritas pengembangan TI, mulai dari peningkatan keandalan infrastruktur, modernisasi sistem, penguatan ketahanan siber, hingga pengelolaan data dan tata kelola TI. Pengembangan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Di sisi lain, BCA turut memperkuat tata kelola pemanfaatan teknologi baru. Pada Februari 2026, BCA mengumumkan perolehan sertifikasi ISO 27701 untuk manajemen informasi privasi dan ISO 42001 untuk sistem manajemen kecerdasan buatan. Pencapaian ini menunjukkan perhatian perusahaan terhadap perlindungan data pribadi dan penerapan AI yang bertanggung jawab.
Menjaga Keandalan sebagai Agenda Jangka Panjang
Besarnya volume transaksi digital membuat keandalan sistem dan keamanan informasi menjadi kebutuhan mendasar bagi industri perbankan. Inovasi layanan perlu berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur, pengelolaan risiko, serta kemampuan perusahaan dalam merespons ancaman siber yang terus berkembang.
BCA menunjukkan bahwa penguatan teknologi tidak hanya dilakukan melalui pengembangan aplikasi dan fitur digital, tetapi juga melalui modernisasi sistem, pemantauan keamanan sepanjang waktu, perlindungan data, dan penguatan tata kelola teknologi informasi.
Dengan pengalaman David Formula di bidang teknologi informasi dan tanggung jawab barunya sebagai Direktur, arah pengembangan teknologi BCA menjadi salah satu aspek penting untuk dicermati dalam perjalanan transformasi digital perusahaan.
Pada akhirnya, keberhasilan layanan perbankan digital tidak hanya diukur dari seberapa banyak fitur yang tersedia, tetapi juga dari kemampuan sistem untuk memberikan layanan yang andal, aman, dan konsisten. Infrastruktur yang kuat dan keamanan siber yang terintegrasi akan tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan nasabah di tengah perkembangan industri perbankan digital.