
Transformasi digital perbankan tidak lagi hanya berfokus pada kemudahan transaksi melalui aplikasi. Di tengah persaingan layanan keuangan yang semakin kompetitif, bank juga dituntut untuk membangun proses operasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan mampu mengelola risiko secara konsisten. Tantangan tersebut semakin relevan bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), yang memiliki fokus bisnis kuat pada pembiayaan perumahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, BTN mengembangkan transformasi teknologi melalui dua inisiatif penting, yakni balé by BTN sebagai platform layanan digital bagi nasabah dan Loan Factory sebagai infrastruktur pemrosesan kredit yang terintegrasi. Keduanya memperlihatkan bagaimana teknologi dimanfaatkan tidak hanya untuk meningkatkan pengalaman nasabah, tetapi juga memperbaiki proses bisnis di balik layanan perbankan.
Seiring dengan perubahan struktur manajemen pada September 2026, Gatot Prasetyo ditetapkan sebagai Direktur Information Technology BTN. Kehadirannya membawa pengalaman di bidang operasional dan pengelolaan aplikasi teknologi informasi, yang relevan dengan kebutuhan BTN untuk melanjutkan penguatan infrastruktur digital dan integrasi sistem.
Balé by BTN: Memperluas Layanan Perbankan dalam Satu Ekosistem Digital
BTN resmi memperkenalkan balé by BTN pada Februari 2025 sebagai superapp yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan perbankan dan finansial nasabah dalam satu platform. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya BTN memperluas hubungan dengan nasabah, tidak hanya melalui layanan pembiayaan perumahan, tetapi juga transaksi keuangan sehari-hari.
Melalui balé, nasabah dapat mengakses berbagai layanan, mulai dari transaksi perbankan, pembayaran, hingga kebutuhan yang berkaitan dengan properti dan gaya hidup. Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan strategi BTN dalam membangun ekosistem digital yang lebih dekat dengan aktivitas finansial masyarakat.
Perkembangan platform ini juga terlihat dari pertumbuhan penggunanya. Berdasarkan publikasi resmi BTN pada Oktober 2026, balé telah mencapai lebih dari 5 juta pengguna terdaftar, tepatnya 5.021.503 pengguna. Hingga September 2026, platform tersebut mencatat 2,23 miliar transaksi, tumbuh 46% secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai Rp103,53 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kanal digital dalam aktivitas perbankan BTN. Di sisi bisnis, peningkatan penggunaan platform juga membuka peluang penguatan penghimpunan dana pihak ketiga, aktivitas transaksi, serta keterlibatan nasabah dalam ekosistem layanan BTN.
Namun, pertumbuhan pengguna dan transaksi juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan teknologi. Platform dengan jutaan pengguna membutuhkan infrastruktur yang mampu menangani peningkatan beban transaksi, menjaga ketersediaan layanan, serta memastikan integrasi antarsistem berjalan dengan baik.
Karena itu, pengembangan superapp tidak berhenti pada penambahan fitur. Keandalan infrastruktur, pengelolaan data, keamanan informasi, dan kemampuan sistem untuk berkembang mengikuti pertumbuhan pengguna menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas layanan digital.
Loan Factory: Mengintegrasikan Proses Kredit dari Awal hingga Pencairan
Selain memperkuat layanan yang berhadapan langsung dengan nasabah, BTN juga melakukan transformasi pada proses internal melalui pengembangan Loan Factory.
Inisiatif yang diperkenalkan pada April 2026 ini merupakan bagian dari roadmap transformasi BTN yang telah dimulai sejak 2019. Sebelumnya, proses kredit konsumer dilakukan secara terdesentralisasi di masing-masing kantor cabang. BTN kemudian membentuk Regional Loan Processing Center (RLPC) untuk meningkatkan standardisasi dan pengawasan proses kredit.
Melalui Loan Factory, BTN melangkah lebih jauh dengan memusatkan proses pemrosesan kredit dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Alurnya mencakup input data, verifikasi, analisis, persetujuan, hingga pencairan kredit.
Langkah ini dilatarbelakangi oleh besarnya volume pengajuan pembiayaan yang harus dikelola BTN. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa perusahaan menerima sekitar 1.000 aplikasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) setiap hari. Dalam skala tersebut, standardisasi proses menjadi penting agar kualitas layanan dan keputusan kredit dapat dijaga secara konsisten di berbagai wilayah.
Dari sisi teknologi, Loan Factory dilengkapi dengan decision engine pada proses credit scoring untuk membantu mempercepat analisis dan persetujuan kredit. BTN juga mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi dalam proses input serta verifikasi data.
Berdasarkan keterangan BTN saat peluncuran, waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya membutuhkan rata-rata sekitar enam hari kerja ditargetkan dapat dipersingkat. Perusahaan juga menargetkan peningkatan kecepatan proses tanpa mengabaikan kualitas analisis dan pengendalian risiko.
Dengan pendekatan terpusat, setiap tahapan pemrosesan dapat memiliki fungsi dan standar kerja yang lebih terstruktur. Hal ini membantu meningkatkan kemudahan pemantauan, mengurangi potensi perbedaan prosedur antarcabang, serta memperkuat pengelolaan dokumen dan kualitas underwriting.
Loan Factory dengan demikian tidak hanya berperan sebagai sarana percepatan proses kredit. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari strategi BTN dalam menyeimbangkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan dengan kualitas portofolio dan pengelolaan risiko.
Gatot Prasetyo dan Tantangan Penguatan Infrastruktur Teknologi BTN
Keberhasilan transformasi digital perbankan membutuhkan lebih dari sekadar implementasi aplikasi atau sistem baru. Integrasi teknologi dengan proses bisnis, keandalan infrastruktur, serta kemampuan mengelola operasional TI menjadi faktor penting agar berbagai inisiatif dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, BTN menetapkan Gatot Prasetyo sebagai Direktur Information Technology melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 4 September 2026. Pengangkatannya merupakan bagian dari perubahan susunan direksi BTN untuk melanjutkan agenda transformasi perusahaan. Penetapan tersebut berlaku efektif setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan melalui penilaian kemampuan dan kepatutan.
Gatot memiliki latar belakang pendidikan Teknologi Informasi dari Universitas Gunadarma. Sebelum bergabung dengan BTN, ia berkarier di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), dengan pengalaman sebagai SVP IT Operations Group Head pada periode 2022–2025 dan SVP IT Application Support Group Head pada 2025.
Pengalaman tersebut mencakup pengelolaan berbagai aspek operasional teknologi informasi, termasuk core banking system, dukungan implementasi aplikasi, pemantauan sistem, layanan jaringan, server, basis data, dan infrastruktur cloud.
Latar belakang ini relevan dengan tantangan yang dihadapi BTN dalam mengelola ekosistem teknologi yang semakin luas. Pertumbuhan balé membutuhkan sistem yang mampu menjaga performa dan ketersediaan layanan, sementara Loan Factory memerlukan integrasi aplikasi, data, serta infrastruktur yang mendukung pemrosesan kredit secara terstandar.
Dalam peran barunya, penguatan tata kelola TI, integrasi sistem, pengelolaan infrastruktur, dan keandalan aplikasi menjadi area strategis yang perlu diperhatikan. Terlebih, kedua inisiatif tersebut memiliki karakteristik kebutuhan teknologi yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam mendukung operasional perbankan.
Balé berorientasi pada pengalaman nasabah dan peningkatan aktivitas transaksi digital. Sementara itu, Loan Factory berfokus pada efisiensi proses internal dan konsistensi pengambilan keputusan kredit. Keduanya membutuhkan fondasi teknologi yang terintegrasi agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan kesiapan operasional.
Menyatukan Pengalaman Nasabah dan Efisiensi Operasional
Perjalanan transformasi BTN memperlihatkan bahwa digitalisasi perbankan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengembangan layanan digital di sisi nasabah perlu didukung oleh pembenahan proses internal agar perusahaan mampu memberikan layanan yang cepat, konsisten, dan terukur.
Pertumbuhan balé hingga lebih dari lima juta pengguna menunjukkan semakin kuatnya adopsi layanan digital BTN. Di sisi lain, pembangunan Loan Factory mencerminkan upaya perusahaan dalam memperbaiki proses pembiayaan melalui sentralisasi, standardisasi, dan pemanfaatan teknologi.
Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari perjalanan transformasi BTN yang telah berjalan sebelum Gatot Prasetyo ditetapkan sebagai Direktur Information Technology. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengembangan teknologi, integrasi sistem, dan keandalan infrastruktur dapat terus mendukung kebutuhan bisnis perusahaan.
Dengan pengalaman Gatot di bidang operasional dan aplikasi TI, penguatan fondasi teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam fase transformasi BTN selanjutnya. Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi perbankan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya layanan yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan sistem di baliknya untuk bekerja secara terintegrasi, efisien, dan andal dalam mendukung kebutuhan nasabah maupun bisnis.