Rusia Kini Berhenti Menjual Mesin Roket Ke AS

Farrel Yudhistira . March 04, 2022

Foto: Sky News


Teknologi.id - Perusahaan antariksa negara Rusia, Roscosmos telah mengeluarkan ancaman terbarunya mengenai tanggapan atas sanksi global yang mereka terima, kali ini, mereka mengatakan bahwa Rusia tidak akan lagi menjual mesin roket ke Amerika Serikat. Sebagian besar peluncuran roket di AS seharusnya tidak terpengaruh, tetapi keputusan itu dapat mengubah cara kargo dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.


Kepala Roscosmos, Dmitry Rogozin, mengumumkan kebijakan baru ini dalam sebuah wawancara bersama salah satu saluran TV milik Rusia. “Hari ini kami telah membuat keputusan untuk menghentikan pengiriman mesin roket yang diproduksi oleh NPO Energomash ke Amerika Serikat,” kata Rogozin dalam wawancara di Russia 24, menurut situs pers negara Rusia, Tass.


Keputusan ini terutama akan mempengaruhi dua perusahaan di AS: United Launch Alliance, yang merupakan penyedia peluncuran utama untuk NASA dan Departemen Pertahanan AS, dan Northrop Grumman, yang secara berkala meluncurkan kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional untuk NASA.


BACA JUGA:Tindakan Langka Apple Menghentikan Penjualan di Rusia


Kedua perusahaan kini mengandalkan mesin roket Rusia yang dibuat oleh NPO Energomash untuk mengirim kendaraan mereka ke luar angkasa. Namun, ULA mengklaim mereka telah merasa cukup dengan mesin Rusia yang dibutuhkan untuk roketnya, karena mereka juga kerap mengandalkan ke kendaraan baru dengan mesin buatan Amerika. Adapun Northrop Grumman, keputusan ini dapat menghentikan penerbangan kendaraan perusahaan di masa depan.


ULA, perusahaan milik bersama antara Boeing dan Lockheed Martin, menggunakan mesin RD-180 Rusia untuk menggerakkan roket Atlas V, yang telah mereka luncurkan selama hampir dua dekade. Namun, RD-180 telah menjadi perangkat keras yang kontroversial.


Hal ini terjadi pada tahun 2014, setelah Rusia menginvasi Crimea, pemerintah melarang penggunaan mesin roket Rusia untuk meluncurkan satelit keamanan nasional, yang akan menghambat ULA menggunakan Atlas V untuk misi Departemen Pertahanan. Larangan itu akhirnya dicabut, tetapi kini mendorong ULA untuk mulai mengembangkan roket baru, yang mereka sebut dengan Vulcan, akan menggunakan mesin buatan Amerika.


ULA akhirnya memilih Blue Origin milik Jeff Bezos untuk mengembangkan mesin untuk Vulcan baru tersebut. Mesin ini diberi nama BE-4, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun lebih lama untuk dikirim dari yang direncanakan sebelumnya. Namun, CEO dari ULA, Tory Bruno mengisyaratkan bahwa mesin penerbangan pertama BE-4 hampir siap.


“Penerbangan pertama BE4 berada di pabrik Blue Origin sekarang, kini berjalan dengan baik,” ucap Bruno kepada The Verge melalui Twitter.


Kebijakan baru ini mungkin akan memiliki dampak terbesar pada roket Antares Northrop Grumman, yang menggunakan mesin RD-181 NPO Energomash. Rogozin mengklaim bahwa Rusia akan mengirimkan selusin lebih dari mesin itu.


“Mulai hari ini, ada rencana untuk mengirimkan 12 mesin RD-181 tambahan pada 2022-2024 dan pembicaraan juga diadakan dengan Amerika Serikat tentang pengiriman mesin RD-181M dengan karakteristik operasional yang lebih baik, tetapi kami percaya bahwa dalam situasi ini kami  tidak dapat lagi memasok Amerika Serikat dengan mesin terbaik kami” ucap Rogozin dalam wawancara, menurut TASS.


BACA JUGA: Intip Email dari Tim Cook, CEO Apple untuk Karyawannya di Ukraina


Roket Antares milik Northrop Grumman meluncurkan pesawat ruang angkasa Cygnus, yang digunakan untuk membawa kargo dari Bumi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional untuk NASA. Northrop memiliki setidaknya dua penerbangan lagi yang direncanakan dalam beberapa tahun ke depan. Faktanya, ada pesawat ruang angkasa Cygnus di stasiun saat ini, yang akan menguji kemampuan baru untuk meningkatkan ISS pada bulan April.


Masih kurang jelas bagaimana perubahan terbaru ini akan berdampak pada peluncuran Northrop Grumman ke depan. Mereka tidak menanggapi permintaan komentar untuk masyarakat luas. Pihak NASA pun tidak segera menanggapi permintaan komentar tersebut.


Sementara itu, NASA juga memiliki opsi lain untuk mencapai ISS, yakni mitra komersial besar agensi lainnya, SpaceX. Perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk itu memegang berbagai kontrak dengan NASA untuk mengirim awak dan kargo ke ISS dengan roket Falcon 9 milik SpaceX. Semua perangkat keras milik SpaceX dibuat di Amerika Serikat, membuat perusahaan mereka tidak terpengaruh terhadap ancaman Rusia yang sedang berlangsung.


(FY)

Share :