Cek Kondisi Kesehatan Paru-paru Bisa via Alodokter, Efektif?

Fabian Pratama Kusumah . April 08, 2022

Foto: Alodokter

Teknologi.idAlodokter mengumumkan peluncuran teknologi terobosan terbaru pada aplikasinya yaitu dapat mendiagnosis kesehatan paru-paru dengan mendeteksi suara batuk.

Aplikasi ini dapat mendiagnosis enam kondisi paru-paru yang berbeda, antara lain infeksi paru, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), ISPA, batuk rejan, dan bronkitis.

Tingkat akurasi diagnosisnya berkisar dari 87-97 persen, atau seperti dengan pemeriksaan konvensional.

Presiden Direktur Alodokter Suci Arumsari menyebut, teknologi tersebut tidak memerlukan gadget tambahan, cukup menggunakan smartphone.

Cara penggunaannya, pasien tinggal batuk di dekat smartphone, kemudian dalam beberapa detik, dokter bisa langsung mengetahui diagnosis secara otomatis dari sistem.

"Dengan adanya teknologi ini, dokter jadi lebih mudah untuk mendiagnosis lebih banyak penyakit dan memberikan perawatan secara lebih efisien dari jarak jauh,”

“Serta membantu pasien menangani permasalahan kesehatan dengan lebih cepat tanpa perlu keluar rumah,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (5/4/2022).

Teknologi ini juga telah disertifikasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan terakreditasi untuk digunakan di Eropa dan Australia. Fitur ini dapat diakses di Indonesia hanya lewat aplikasi Alodokter.

Namun cara ini menuai kritik, salah satunya Associate Professor SEB Telkom University Andry Alamsyah.

Dia menyebut diagnosis kesehatan paru-paru yang dilakukan Alodokter menggunakan voice recognition sangat bergantung pada kualitas mikrofon yang ada di perangkatnya. Hal ini bisa menyebabkan hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat.

Baca juga: Kelemahan Fitur Deteksi Batuk via Ponsel Menurut Pakar

Menanggapi kritik tersebut, Head of Medical Community Alodokter, Alni Magdalena mengatakan sejumlah kriteria perlu dipenuhi agar suara rekaman yang menjadi bahan diagnosis bisa diproses.

"Enggak langsung di semua handphone bisa. Kalau misal [perangkat] pasiennya ga kompatibel, enggak bisa," katanya dikutip dri CNN Indonesia.

Hasil diagnosis sampel suara dari machine learning tidak langsung dikirim ke pasien, melainkan dikirim ke dokter terlebih dahulu. Sehingga keputusan mengenai diagnosis berada di tangan dokter.

(fpk)

Share :