Kelemahan Fitur Deteksi Batuk via Ponsel Menurut Pakar

Josephine Cahyadi . April 07, 2022

Kelemahan Fitur Deteksi Batuk via Ponsel Menurut Pakar



Foto : istock


Teknologi.id - Associate Professor SEB Telkom University Andry Alamsyah menyebut diagnosis kesehatan paru-paru lewat aplikasi sangat bergantung pada mikrofon yang ada pada perangkat yang digunakan.


"Secara akurasi sangat tergantung dengan kualitas microphone smartphone. Di sini smartphone itu fungsinya sebagai sensor mengumpulkan data, kalo microphone-nya jelek ya hasilnya bisa salah diprediksi (tidak akurat)," ujar Andry dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (6/4).


Sebelumnya, Alodokter memberitakan peluncuran teknologi terbaru untuk mendiagnosis kondisi kesehatan paru-paru melalui suara batuk. Diagnosis ini hanya memerlukan smartphone tanpa alat bantu apa pun. 


Aplikasi ini diklaim dapat mendiagnosis enam kondisi paru-paru yang berbeda, antara lain infeksi paru, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), ISPA, batuk rejan, dan bronkitis. Tingkat akurasi diagnosisnya diklaim berkisar dari 87-97 persen, yang berarti sama akuratnya dengan pemeriksaan konvensional.


"Yang membuat teknologi ini berbeda adalah Anda tidak memerlukan gadget tambahan, cukup gunakan smartphone yang Anda miliki. Anda tinggal batuk di dekat smartphone, kemudian dalam beberapa detik, dokter kami bisa langsung mengetahui diagnosis secara otomatis dari sistem," ungkap Suci Arumsari, Presiden Direktur Alodokter, dikutip dari siaran persnya.


Meski ada kemungkinan akurasi berkurang karena mikrofon pada smartphone kurang baik, Andry menyebut hal ini bisa diatasi jika machine learning atau teknologi pembelajaran mesinnya cukup baik.


“Gangguan akurasi ini tergantung kehandalan dari model machine learning-nya, kalo modelnya bagus bisa jadi gangguan microphone hanya minor aja," jelasnya.


Lebih lanjut, Andry menjelaskan teknologi diagnosis ini menggunakan sistem voice recognition atau pengenalan suara yang kemudian diolah dengan metode machine learning.


"Prinsipnya pola pola batuk dari berbagai macam penyakit pernafasan dikumpulkan dan dikumpulkan dijadikan library. kemudian orang batuk via smartphone akan direkam, lalu dicocokkan dengan pola batuk yang mana yang ada di library," tuturnya.


"Machine learning emang prinsip dasar supaya komputer/program bisa mengenali/belajar sendiri pola pola tersebut," imbuhnya.


Alodokter mengembangkan teknologi diagnosis ini bekerja sama dengan ResApp, perusahaan teknologi diagnosis kesehatan digital dari Australia.


Teknologi ini dikembangkan dengan cara mencocokkan ciri-ciri dari suara batuk dengan diagnosis klinis. ResApp sendiri telah mendapatkan akreditasi di Indonesia dan Australia.


Selain perusahaannya, teknologi diagnosis juga telah disertifikasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan terakreditasi untuk digunakan di Eropa dan Australia.


(JC)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar