Lonjakan TBC di Malaysia Naik Tajam, Pakar RI Imbau Pemudik Patuhi Protokol Kesehatan

Yasmin Najla Alfarisi . February 25, 2026

Foto: Freepik/ rawpixel.com

Teknologi.id -  Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) secara resmi mengeluarkan peringatan bagi publik untuk memperketat langkah pencegahan tuberkulosis (TBC). Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya kunjungan warga ke bazar Ramadan serta tradisi buka puasa bersama yang melibatkan banyak orang. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 21 Februari 2026, dilaporkan sebanyak 596 kasus baru TBC tercatat secara nasional hanya dalam kurun waktu satu pekan, yakni pada periode 8 hingga 14 Februari.

Hingga saat ini, jumlah kumulatif kasus tuberkulosis di seluruh penjuru Malaysia telah mencapai angka 3.161 kasus. Otoritas kesehatan setempat menekankan bahwa ruang yang ramai, tertutup, dan memiliki sistem ventilasi yang buruk secara signifikan meningkatkan risiko penularan. Kondisi ini menjadi jauh lebih berbahaya jika terdapat individu dengan status TBC aktif yang belum menjalani pengobatan berada di tengah kerumunan tersebut.

Kementerian Kesehatan Malaysia memberikan klarifikasi bahwa bulan Ramadan itu sendiri bukanlah penyebab langsung penularan penyakit ini. Namun, interaksi sosial yang jauh lebih tinggi selama bulan suci tersebut secara alami meningkatkan risiko terpapar bakteri. Berbeda dengan influenza atau Covid-19, penyakit TBC menyebar lebih lambat dan biasanya memerlukan paparan yang berkepanjangan serta berulang agar seseorang terinfeksi.

Baca juga: Ahli IPB Ungkap Deforestasi Picu Risiko Penyakit Dan Kerusakan Fungsi Ekologis Hutan

Rincian Sebaran Kasus TBC di Wilayah Malaysia

Berdasarkan rincian data geografis yang dirilis oleh pemerintah, wilayah Sabah mencatat jumlah tertinggi dengan total 755 kasus. Di urutan berikutnya adalah Selangor dengan 596 kasus, disusul oleh Sarawak yang melaporkan 332 kasus. Selanjutnya, Johor mencatatkan 280 kasus, sementara gabungan wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Putrajaya berada pada angka 244 kasus.

Di wilayah lain, Kedah melaporkan 181 kasus, Penang 172 kasus, dan Perak sebanyak 154 kasus. Kemudian Kelantan mencatat 121 kasus, Pahang 103 kasus, Terengganu 74 kasus, serta Negeri Sembilan dengan 62 kasus. Di sisi lain, angka kasus terendah ditemukan di Melaka dengan 48 kasus, Perlis 21 kasus, dan wilayah Persekutuan Labuan dengan 18 kasus terdeteksi.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, juga melaporkan adanya 10 klaster TBC baru di tujuh negara bagian yang berbeda. Munculnya klaster-klaster ini menjadi perhatian khusus karena sifat TBC yang laten. Banyak orang mungkin sudah terpapar bakteri TBC tanpa menyadarinya karena kuman tersebut bersifat dorman atau tidur di dalam tubuh, yang baru akan bangkit dan menjadi penyakit aktif jika daya tahan tubuh inangnya menurun.

Analisis Pakar Indonesia Mengenai TBC Laten dan Epidemi

Foto: Freepik/ rawpixel.com

Menanggapi situasi di Malaysia, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, memberikan pandangan mengenai bahaya TBC Laten. Menurutnya, kuman dalam keadaan dorman ini bisa bertahan bertahun-tahun selama imunitas tubuh tetap baik. Namun, jika kondisi fisik drop, kuman tersebut akan bangkit dan memicu penyakit aktif lengkap dengan gejalanya serta kemampuan menularkan ke orang lain.

Prof. Tjandra juga menyinggung fenomena slow-burn epidemic yang mulai ramai dibahas. Fenomena ini merujuk pada epidemi yang bersifat persisten dan terus-menerus ada di berbagai negara namun sering kali luput dari kesadaran publik karena dampaknya seolah tidak besar secara mendadak. Meski dampaknya terlihat perlahan, angka kasusnya dapat terus meningkat secara stabil hingga menjadi ancaman kesehatan nasional yang serius jika tidak diantisipasi.

Baca juga: Mitos atau Fakta? Puasa Ternyata Tidak Menurunkan Fungsi Otak, Ini Penjelasan Sains

Langkah Pencegahan dan Imbauan bagi Warga Indonesia

Mengingat cukup padatnya lalu lintas warga antara Indonesia dan Malaysia, Prof. Tjandra menyarankan agar Indonesia meniru langkah transparansi Malaysia dalam menyajikan laporan mingguan data TBC. Adanya laporan rutin per wilayah setiap minggu menunjukkan sistem pengawasan berjalan baik dan memungkinkan langkah pengendalian dilakukan lebih cepat jika terjadi tren peningkatan kasus di suatu daerah.

Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berencana menuju Malaysia atau sedang berada di sana, sangat penting untuk mematuhi arahan kesehatan setempat. Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, memastikan ventilasi ruangan yang baik, serta menggunakan masker di tempat ramai. Kesadaran publik dalam mendeteksi gejala secara dini, terutama jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, menjadi kunci utama untuk memutus rantai penyebaran TBC agar Ramadan dan Idulfitri tetap berjalan sehat bagi semua.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar