
Foto: TikTok Shop
Teknologi.id - Dunia perdagangan digital Indonesia tengah diguncang kabar mengejutkan. Aplikasi Tokopedia, yang selama belasan tahun menjadi ikon belanja daring nasional, dikabarkan akan segera dipensiunkan. Sebagai gantinya, ByteDance selaku pemilik mayoritas sahamnya dilaporkan tengah menyiapkan aplikasi belanja mandiri (standalone) untuk TikTok Shop yang terpisah dari ekosistem media sosial TikTok. Kabar ini pertama kali mencuat melalui laporan internal yang beredar di kalangan industri dan diperkuat oleh informasi dari berbagai sumber yang mengetahui rencana transisi tersebut.
Informasi ini menyebutkan bahwa tim teknologi di Tokopedia maupun TikTok E-commerce Indonesia telah diinstruksikan untuk mulai mengembangkan aplikasi khusus tersebut. Langkah ini dipandang sebagai strategi ByteDance untuk menyatukan infrastruktur perdagangan mereka di bawah satu bendera global, sekaligus mengefisiensikan operasional setelah menguasai 75% saham Tokopedia dari tangan GoTo pada awal 2024 lalu.
Baca juga: Spotify Rilis Group Chat, Kini Bisa Chat Sambil Dengar Musik Bareng
Respons Manajemen: Antara Investasi dan Ketidakpastian
Menanggapi isu penutupan aplikasi burung hijau ini, pihak manajemen TikTok memberikan pernyataan yang cenderung normatif. Mereka tidak secara eksplisit membantah maupun mengiyakan kabar mengenai penghentian operasional aplikasi Tokopedia. Juru bicara TikTok hanya menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen penuh terhadap pasar di tanah air.
"Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan," ujar Juru bicara TikTok dalam pernyataan resminya.
Meskipun kabar investasi terus beredar, publik tetap skeptis mengingat berbagai perubahan fundamental yang terjadi di balik layar. Pergantian kepemimpinan baru-baru ini juga memperkuat dugaan adanya perubahan arah bisnis. Melissa Siska Juminto, figur sentral yang memimpin Tokopedia sejak era GoTo, kini telah resmi digeser dari posisi CEO menjadi komisaris perusahaan.
Jejak Efisiensi: PHK Massal dan Penutupan Layanan

Foto: Freepik
Isu penutupan aplikasi ini sebenarnya dianggap sebagai puncak dari serangkaian langkah efisiensi yang dilakukan sepanjang tahun 2025. Sepanjang tahun lalu, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus menghantui karyawan Tokopedia. Tercatat ada sekitar 420 orang yang harus merelakan pekerjaannya, dengan rincian 180 orang pada bulan Juli dan 240 orang pada Agustus 2025. Pemangkasan ini menyasar berbagai divisi vital, mulai dari tim IT, customer service, hingga bagian logistik.
Tidak hanya pengurangan tenaga kerja, infrastruktur fisik pun mulai dikurangi. Pada 15 Agustus 2025, layanan gudang andalan "Dilayani Tokopedia" resmi dihentikan operasionalnya. Bagi para pengamat, langkah-langkah ini merupakan sinyal keras bahwa infrastruktur lokal Tokopedia sedang dilebur ke dalam ekosistem global milik ByteDance. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa brand Tokopedia selama ini hanya digunakan sebagai "pintu masuk" untuk mempermudah perizinan e-commerce yang sempat terganjal regulasi pemerintah pada 2023.
Baca juga: Heboh! Dituduh Bisa Intip Chat WhatsApp, Meta Akhirnya Buka Suara
Tantangan Bagi UMKM Lokal dan Dominasi Global
Masalah lain yang muncul ke permukaan adalah ketimpangan kebijakan insentif. Muncul laporan mengenai pemberian subsidi iklan hingga 30% yang dikhususkan bagi pedagang asal Tiongkok, sementara pedagang lokal Indonesia tidak mendapatkan fasilitas serupa. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa migrasi ke aplikasi TikTok Shop yang mandiri nantinya justru akan semakin menyingkirkan produk-produk UMKM dalam negeri di tengah serbuan produk impor murah.
Meskipun data Sensor Tower per Januari 2026 masih menempatkan Tokopedia di peringkat ketiga aplikasi retail terbesar di Indonesia, tren penurunan ini perlu diwaspadai oleh para pelaku usaha. Transisi ke aplikasi baru mungkin menawarkan kecepatan transaksi yang lebih baik berkat infrastruktur ByteDance yang "raksasa", namun ada harga mahal yang harus dibayar, yakni hilangnya identitas lokal yang telah dibangun sejak 2009.
Bagi jutaan penjual yang menggantungkan hidupnya di ekosistem Tokopedia, situasi ini menjadi peringatan keras untuk mulai melakukan diversifikasi saluran penjualan. Memahami cara kerja Seller Center di platform TikTok Shop menjadi kebutuhan mendesak agar bisnis tetap bisa bertahan di tengah gojang-ganjing transisi aplikasi. Hingga saat ini, para pengguna hanya bisa menunggu pengumuman resmi mengenai masa depan "Si Hijau" sambil terus memantau setiap perubahan kebijakan di masa transisi yang penuh ketidakpastian ini.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar