Gunung Gede Pangrango Terapkan Gelang RFID dan Tombol Panik untuk Pendaki

Yasmin Najla Alfarisi . January 21, 2026

Foto: Tangkapan Layar Unggahan Akun Instagram @ayoketamannasional_official

Teknologi.id -  Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) melakukan terobosan besar dalam menata ulang sistem pendakian mereka. Bekerja sama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) Kementerian Kehutanan, pihak pengelola resmi memperkenalkan inovasi gelang pelacak berbasis Radio Frequency Identification (RFID) serta fitur tombol darurat. Langkah progresif ini diambil guna memastikan setiap individu yang melakukan aktivitas pendakian mendapatkan perlindungan maksimal selama berada di kawasan konservasi.

Kebijakan ini merupakan respons atas evaluasi tata kelola pendakian selama masa penutupan jalur yang telah berlangsung sejak akhir 2025. Tingginya angka insiden pendaki yang tersesat atau menghilang menjadi pengingat penting bagi pengelola untuk memperbaiki sistem pengamanan. Melalui unggahan di akun Instagram resminya, pihak pengelola menegaskan komitmen mereka:

"Inovasi ini merupakan bagian dari langkah serius perbaikan pengamanan dan keselamatan pengunjung selama masa penutupan jalur pendakian," tulis akun @ayoketamannasional_official.

Mengenal Teknologi RFID: Sensor Pintar di Pergelangan Tangan

Foto: Ilustrasi Gelang RFID, Amazon.com

Gelang RFID yang diperkenalkan bukanlah sekadar aksesori biasa. Alat ini merupakan gelang pintar berbahan karet sintetis yang didesain khusus agar elastis dan memiliki fitur waterproof (tahan air). Spesifikasi ini memastikan perangkat tetap berfungsi optimal meskipun terpapar cuaca ekstrem, hujan lebat, maupun kelembapan tinggi yang sering terjadi di hutan pegunungan.

Di dalam gelang tersebut tertanam sebuah chip yang berfungsi sebagai pemancar sinyal untuk melacak lokasi pendaki. Mengenai cara kerjanya, pengelola menjelaskan:

"Alat ini memiliki peran vital untuk memonitor perpindahan posisi pendaki secara berkala di setiap lokasi pemeriksaan yang telah ditentukan."

Prosedur penggunaannya pun sangat ketat. Setiap pendaki akan dipasangkan gelang tersebut saat melakukan registrasi atau verifikasi di pintu masuk resmi. Selama aktivitas pendakian berlangsung, perangkat ini bersifat wajib untuk dikenakan tanpa boleh dilepas sebagai instrumen pengawasan. Setelah menyelesaikan pendakian, pendaki wajib menyerahkan kembali gelang tersebut kepada petugas di pos pendataan turun sebagai bukti sah bahwa mereka telah keluar kawasan dengan selamat.

Baca juga: Teknologi RFID : Pengertian dan Manfaatnya

Kecepatan Operasi SAR dan Deteksi Lokasi Akurat

Implementasi teknologi digital ini membawa perubahan besar pada sistem penyelamatan di gunung. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan kecepatan dan ketepatan operasi Search and Rescue (SAR). Dalam skenario darurat, tim evakuasi dapat memetakan titik koordinat terakhir pendaki dengan tingkat akurasi yang sangat presisi, sehingga memangkas durasi pencarian yang selama ini sering terkendala rimbunnya vegetasi.

Pihak pengelola memaparkan bahwa efisiensi adalah kunci dari teknologi ini:

"Dampaknya proses SAR lebih sigap, deteksi lebih akurat dan waktu penanganan lebih efisien."

Sebagai tahap awal, sistem RFID ini diterapkan di Jalur Gunung Putri dan Jalur Cibodas, dua rute dengan volume pengunjung tertinggi. Salah satu titik pantau atau check point utama yang kini telah dilengkapi dengan infrastruktur sensor otomatis berada di kawasan Surya Kencana. Melalui sistem ini, pengelola menjamin bahwa seluruh data pergerakan pengunjung terekam dengan presisi sejak pertama kali mereka berangkat hingga kembali turun dari puncak.

Fitur Panic Button dan Upaya Menekan Pendaki Ilegal

Foto: Tangkapan Layar Unggahan Akun Instagram @ayoketamannasional_official

Selain gelang RFID, TNGGP juga menambah fitur mutakhir berupa Panic Button atau tombol darurat (SOS) yang ditempatkan secara strategis di sejumlah titik krusial sepanjang rute. Fasilitas ini dirancang sebagai sarana komunikasi cepat jika seseorang mengalami situasi yang mengancam nyawa.

"Kalau ada keadaan darurat, pendaki bisa menekan tombol SOS untuk meminta bantuan petugas di bawah," ujar pihak pengelola.

Hanya dengan menekan satu tombol, sinyal bantuan akan terkirim secara otomatis ke pos pemantauan utama di bagian bawah sehingga petugas bisa segera bergerak. Selain faktor keselamatan, sistem digital ini juga berfungsi sebagai filter keamanan yang ketat terhadap pendaki ilegal. Pendaki yang kedapatan tidak mengenakan gelang atau datanya tidak terekam dalam pangkalan data akan langsung teridentifikasi sebagai penyusup yang mengabaikan aturan keselamatan.

Baca juga: Ekonomi Antariksa 5% PDB, Indonesia Bangun Bandar Antariksa di Biak

Harapan bagi Masa Depan Pendakian Indonesia

Meski membawa teknologi canggih, pengelola menegaskan bahwa penambahan fasilitas ini tidak akan memengaruhi harga karcis pendakian. Langkah ini murni diambil untuk menekan angka kecelakaan seminimal mungkin. Harapan besar juga disematkan kepada para pendaki agar tetap mematuhi hukum dasar dalam berpetualang:

"Meskipun pendakian merupakan hobi yang menantang, kami mengingatkan bahwa pulang dalam keadaan selamat tetap menjadi hukum yang wajib dipatuhi oleh semua pihak," tuturnya.

Hingga saat ini, pihak TNGGP belum memastikan kapan jalur pendakian akan kembali dibuka secara resmi karena proses perbaikan tata kelola masih berlangsung. Namun, kehadiran sistem RFID di Gede Pangrango, menyusul jejak Gunung Merbabu, dianggap sebagai langkah besar bagi dunia pendakian Indonesia menuju standar internasional yang lebih aman dan profesional.


Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)


author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar