
Foto : dok UI
Teknologi.id - Program studi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) resmi hadir di Universitas Indonesia (UI). Kehadiran prodi ini menandai langkah serius perguruan tinggi dalam merespons perkembangan teknologi yang semakin cepat dan masif. AI kini tidak lagi sekadar topik riset, melainkan telah menjadi bagian penting dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari industri, layanan publik, hingga keamanan digital.
Prodi AI Resmi Dibuka untuk Tahun Ajaran 2026/2027
Program Studi AI di Universitas Indonesia akan berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom UI). Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui akun resmi Instagram @univ_indonesia, Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial dijadwalkan mulai menerima mahasiswa untuk tahun ajaran 2026/2027.
Nantinya para mahasiswa akan dibekali penguasaan fondasional yang mendalam bidang Kecerdasan Artifisial. Melalui Fasilkom UI, mahasiswa akan dibekali AI Modeling, AI system engineering, hingga pengembangan AI yang berorientasi pada manusia atau human-centric AI. Dalam perjalanannya, mahasiswa Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial akan menempuh masa pendidikan selama empat tahun atau delapan semester. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian perkuliahan, lulusan akan memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom).
Respon dari Pakar AI Indonesia
Pembukaan prodi AI di UI mendapat respons positif dari kalangan pakar. Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, Hilman F. Pardede, menilai langkah tersebut sebagai sinyal baik bagi penguatan sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi maju. Menurutnya, jumlah talenta AI di Tanah Air masih jauh dari kata cukup.
"Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan talenta AI di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan negara-negara lain," ujar Hilman.
Saat ini, porsi tenaga kerja Indonesia yang memiliki keahlian AI baru sekitar 0,06 persen dari total angkatan kerja. Angka ini masih tertinggal dibandingkan negara lain di kawasan. Malaysia telah berada di kisaran 0,08 persen, sementara Singapura menembus 0,12 persen. Bahkan Amerika Serikat, yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan AI dunia, masih mencatat sekitar 0,16 persen talenta AI dari total tenaga kerjanya.
Baca juga: Dobrak Industri Kreatif, Vokasi UI Ajarkan Mata Kuliah Komik Digital
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap lulusan AI masih sangat besar. Karena itu, kehadiran prodi AI di kampus sebesar UI dinilai dapat membantu mempercepat penyediaan SDM yang kompeten dan berdaya saing global.
Hilman juga menyoroti pendekatan kurikulum yang ditawarkan. Ia melihat muatan pembelajaran tidak hanya menitikberatkan pada sisi teknis dan pengembangan teknologi, tetapi juga memasukkan aspek etika AI dan etika pemanfaatan teknologi. Hal ini menjadi penting mengingat penggunaan AI kian luas dan berpotensi menimbulkan dampak sosial yang besar.
Perkembangan AI dan Prospek Lulusan Prodi AI

Foto : freepik
Meski peluangnya terbuka lebar, Hilman mengingatkan bahwa perkembangan AI memiliki dinamika tersendiri. Dalam sejarahnya, AI pernah mengalami dua periode stagnasi atau yang dikenal sebagai AI winter, yakni pada era 1970-an dan akhir 1980-an. Pada masa itu, antusiasme publik menurun akibat ekspektasi yang tidak sepenuhnya tercapai.
Menurutnya, kondisi saat ini masih berada dalam fase euforia. Namun, seperti teknologi lain, AI juga memiliki siklus perkembangan. Ketika teknologi ini mencapai tahap matang, perhatian publik bisa saja bergeser ke inovasi lain. Meski demikian, hal tersebut tidak berarti AI akan kehilangan perannya.
Lalu bagaimana nasib lulusan prodi AI jika tren berubah? Hilman menilai kuncinya terletak pada fondasi pendidikan. Ia mengingatkan agar pendidikan AI tidak hanya berfokus pada keterampilan yang sedang populer, tetapi juga memperkuat dasar-dasar keilmuan seperti matematika, statistik, aljabar linear, dan logika komputasi.
Baca juga: Lulusan IT di AS Susah Cari Kerja, Pilih Kembali Kuliah AI di Universitas
Penguasaan fundamental tersebut, menurutnya, akan memudahkan lulusan untuk beradaptasi dengan teknologi baru yang terus berkembang. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang baru mendalami AI setelah menempuh pendidikan doktoral, namun tetap mampu beradaptasi dengan teknologi baru yang terus berkembang karena memiliki dasar keilmuan yang kuat.
Bidang informatika dan AI dikenal sebagai disiplin yang berubah dengan cepat. Oleh sebab itu, lulusan prodi AI dituntut memiliki kemampuan belajar berkelanjutan dan fleksibilitas tinggi. Di sisi lain, perkembangan AI justru melahirkan beragam peran baru, seperti AI specialist, data scientist, hingga pakar etika AI.
Hilman menegaskan bahwa lulusan prodi AI akan tetap relevan di masa depan selama dibekali dengan fondasi yang kuat, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk terus belajar mengikuti perkembangan teknologi.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(IR/ZA)

Tinggalkan Komentar