
Foto: Army
Teknologi.id - Sebuah ironi regulasi terjadi di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan secara aktif menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) Claude milik Anthropic dalam operasi militer gabungannya dengan Israel ke wilayah Iran. Penggunaan ini terungkap hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi melarang pemakaian teknologi dari perusahaan tersebut di seluruh lini pemerintahan dan militer.
Bukan Senjata Otonom, Melainkan Analis Intelijen

Foto: ACECOMPUTER
Banyak pihak sempat khawatir bahwa AI digunakan sebagai senjata pembunuh otonom. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) secara tegas membantah hal tersebut. Dalam operasi ke Iran, model AI Claude dipastikan tidak terhubung dengan sistem persenjataan mematikan. AI ini tidak memiliki kendali untuk menerbangkan drone tempur, meluncurkan rudal, atau menentukan target manusia secara langsung.
Alih-alih memegang pelatuk, militer AS menugaskan Claude untuk peran di belakang layar yang tak kalah krusial. AI ini difungsikan sebagai otak analitik utama untuk memproses jutaan data mentah dari medan perang.
Beberapa tugas utama Claude meliputi membedah citra satelit, memetakan jalur logistik yang paling efisien untuk pasukan, hingga menerjemahkan sadapan komunikasi radio berbahasa Persia (Farsi) secara instan. Kemampuan Claude dalam mencerna dokumen teks dalam jumlah masif (context window yang besar) diklaim berhasil memangkas waktu personel militer dalam mengambil keputusan taktis di lapangan secara signifikan.
Baca juga: Siaran TV Iran Diretas: Tampilkan Pidato Trump dan Netanyahu Saat Pertandingan Bola
Celah Aturan Transisi Enam Bulan Pemerintahan Trump
Kehadiran Claude di ruang komando militer ini memicu tanda tanya besar di kalangan politisi Washington. Pasalnya, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sebelumnya telah melabeli Anthropic sebagai entitas yang membawa "risiko keamanan nasional". Sikap keras ini berujung pada instruksi pemblokiran resmi dari pemerintahan Trump awal bulan ini.
Namun, terungkap bahwa Pentagon memanfaatkan sebuah celah regulasi dari instruksi tersebut. Dokumen pelarangan yang diteken pemerintah ternyata memuat aturan masa transisi. Aturan ini memberikan waktu tenggang selama enam bulan bagi militer dan lembaga negara untuk memensiunkan sistem Anthropic secara bertahap, guna mencegah kelumpuhan operasional operasional di tengah konflik.
Mengutip laporan investigasi dari Wall Street Journal, militer AS sengaja memaksimalkan celah waktu enam bulan ini. Pentagon dikabarkan masih sangat bergantung pada Claude dan kesulitan mencari AI pengganti dari vendor lain yang memiliki tingkat halusinasi (kesalahan data) serendah buatan Anthropic, terutama untuk urusan analisis intelijen tingkat militer.
Baca juga: Internet Iran Lumpuh Total, Tersisa 4% Usai Diserang AS-Israel
Sikap Tegas Anthropic Menolak Militerisasi AI
Akar dari pelarangan ini sebenarnya bermula dari perselisihan antara pemerintah AS dan pihak Anthropic. Kemarahan pemerintahan Trump dipicu oleh sikap tegas CEO Anthropic, Dario Amodei.
Dalam beberapa bulan terakhir, Amodei secara konsisten menolak memberikan akses tingkat lanjut sistem AI perusahaannya kepada Pentagon, terutama jika teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata otonom atau pengawasan massal. Anthropic berpegang teguh pada prinsip AI yang etis dan aman, yang melarang keras produknya dipakai untuk fasilitas militer ofensif. Penolakan inilah yang membuat pemerintah AS geram dan berujung pada sanksi pemblokiran.
Manuver Beda Arah OpenAI dan Gelombang Boikot ChatGPT
Di sisi lain, rival utama Anthropic, yakni OpenAI, mengambil langkah yang berlawanan. Sang CEO, Sam Altman, justru melihat peluang dari keretakan hubungan Anthropic dan pemerintah AS. OpenAI dilaporkan telah sepakat untuk mengizinkan Departemen Pertahanan AS memasang teknologi di balik ChatGPT ke dalam jaringan militer rahasia mereka.
Langkah OpenAI yang memilih bersahabat dengan militer ini langsung memicu reaksi keras dari masyarakat sipil dan komunitas teknologi global. Keputusan ini dinilai mengkhianati janji awal OpenAI yang dulu mengklaim tidak akan menggunakan AI untuk keperluan perang. Hanya dalam waktu singkat, muncul kampanye global bertajuk "Cancel ChatGPT" yang mengajak pengguna internet memboikot layanan dari OpenAI.
Eksodus Pengguna dan Claude yang Merajai App Store
Dampak dari drama geopolitik dan teknologi ini langsung terasa di pasar aplikasi konsumen. Keteguhan Anthropic yang menolak tunduk pada militer untuk urusan senjata justru menuai simpati luar biasa dari publik luas.
Banyak pengguna internet yang melakukan eksodus digital. Mereka ramai-ramai membatalkan langganan berbayar ChatGPT dan secara serentak beralih mengunduh aplikasi Claude. Dampaknya sangat signifikan; akhir pekan lalu, aplikasi Claude dilaporkan meroket pesat dan berhasil merebut posisi nomor satu sebagai aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store.
Kasus ini membuktikan bahwa konsumen kini semakin peduli terhadap etika penggunaan AI. Bagi militer AS, mereka kini berpacu dengan waktu: mencari AI pengganti yang setara dalam waktu enam bulan, atau terpaksa kembali ke metode analisis manual yang berisiko memperlambat manuver mereka di Timur Tengah.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar