Begini Penampakan Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Luar Angkasa

Sutrisno Zulikifli . April 20, 2020

Anak Gunung Krakatau erupsi pada 12 April 2020. Foto: NASA


Teknologi.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 12 April 2020 lalu berhasil diabadikan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

NASA menggunakan satelit Terra, dengan metode Operational Land Imager (OLI) dan Multi-angle Imaging Spectroradiometer (MISR).

Dari tangkapan gambar yang disebar, tampak gumpalan plume (fase asap) yang menjulang tinggi berwarna putih. Selain itu, NASA juga berhasil mengidentifikasi asap berwarna yang lebih gelap.

Menurut Ahli Vulkanologi Goddard Space Flight Center NASA, Verity Flower, asap putih itu dominan berisi uap dan gas. Lalu muncul juga material berwarna merah yang ditandai dengan infrared signature yang diyakini merupakan batuan cair Anak Krakatau.

BACA JUGA: Peneliti Sebut COVID-19 Mulai Menyebar sejak September 2019 dan Bukan dari Wuhan

"Asap gelap kemungkinan mengandung partikel abu yang lebih berat sehingga jaraknya lebih rendah dibanding asap putih lalu dibawa angin ke utara. Sebaliknya, asap yang mengandung uap dan gas bobotnya lebih rendah dan mengembun dengan cepat di atmosfer," kata Flower dikutip dari Science Alert.

Berdasarkan data yang dirilis NASA pada laman resminya, bukan cuma Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi, melainkan 5 gunung berapi lainnya juga mengalami hal yang sama pada waktu yang hampir bersamaan.

Kelima gunung yang disebut NASA yakni Gunung Kerinci di Pulau Sumatra, Gunung Merapi dan Semeru di Pulau Jawa, serta Gunung Ibu dan Dukono di Maluku.

Ahli vulkanologi sekaligus Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono sempat mengatakan bahwa fenomena letusan enam gunung api di Indonesia itu hanya kebetulan.

"Menurut saya tidak ada kaitannya, dan bisa diartikan hanya kebetulan saja," kata Surono dilansir CNNIndonesia.com.

BACA JUGA: Aplikasi PeduliLindungi Diterpa Isu Keamanan Pengguna, Ini Kata Kominfo

Selain itu ada juga fenomena dentuman yang dirasakan warga Jabodetabek usai enam gunung berapi meletus. Banyak kalangan menilai bahwa dentuman itu berasal dari erupsi Anak Krakatau, namun hal ini dibantah oleh Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana.

Ia menjelaskan ambruknya dapur magma itu biasanya terjadi untuk erupsi-erupsi dengan skala besar. Devy mengatakan erupsi yang terjadi di Anak Krakatau berskala kecil.

"Perlu diketahui suara dentuman adalah fenomena yang umum saat terjadi erupsi gunung api. Tidak semua erupsi menghasilkan dentuman, tergantung mekanisme dan faktor akustik. Dentuman sendiri tidak merefleksikan besar kecilnya erupsi," kata Devy.

(sz)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar