SIRCLO Prediksi Transaksi Belanja Online Ramadan 2026 Melonjak Hingga 115 Persen!

Wildan Nur Alif Kurniawan . March 10, 2026


Foto: SIRCLO

Teknologi.id – Masyarakat Indonesia bersiap menyambut bulan suci Ramadan yang diperkirakan akan dimulai pada pertengahan bulan Maret 2026. Lebih dari sekadar momen spiritual tahunan, Ramadan telah berevolusi menjadi salah satu katalisator penggerak ekonomi terbesar di Tanah Air. Hal ini utamanya didorong oleh eskalasi aktivitas konsumsi rumah tangga yang masif, mulai dari pemenuhan kebutuhan harian selama puasa hingga persiapan perayaan Idulfitri.

Skala aktivitas ekonomi yang masif ini menjadikan Ramadan sebagai periode krusial yang harus dimanfaatkan secara strategis oleh para pelaku usaha (brand). Mengingat dinamika ekonomi belakangan ini membuat masyarakat cenderung lebih terencana dalam mengelola anggaran sejak awal tahun, perusahaan penyedia solusi e-commerce, SIRCLO, membeberkan sejumlah data fundamental terkait pola belanja konsumen untuk membantu brand merumuskan strategi penjualan online yang tepat sasaran.

Proyeksi Lonjakan Transaksi dan Anggaran Belanja


Foto: Golden English

Berdasarkan hasil riset pasar dari InMobi, tercatat sebanyak 74 persen konsumen telah berencana untuk meningkatkan alokasi dana belanja mereka pada bulan Ramadan tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan konsumen secara aktif siap memaksimalkan aktivitas belanja pada periode tersebut.

Dalam ekosistem belanja online, tren pertumbuhan eksponensial juga terekam jelas. Chief Operating Officer SIRCLO, Danang Cahyono, menyampaikan bahwa merujuk pada data internal SIRCLO pada tahun lalu, terjadi peningkatan jumlah transaksi hingga 115 persen selama periode dua minggu sebelum Ramadan hingga dua minggu setelah Idulfitri 2025, apabila dikomparasikan dengan satu bulan sebelumnya.

“Temuan ini menegaskan bahwa Ramadan membuka peluang bagi brand untuk membangun nilai dan loyalitas jangka panjang melalui strategi penjualan online yang tepat,” urai Danang dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga: ChatGPT Luncurkan “Shopping Research”, Fitur Baru yang Bantu Cari Produk Paling Cocok

Pergeseran Pola Konsumsi: Kategori Dominan dan Nilai Belanja 

Sepanjang analisis periode Ramadan 2025, SIRCLO mengamati adanya pergeseran penting dalam perilaku belanja konsumen daring. Lima kategori utama yang sukses mendominasi jumlah transaksi tertinggi berturut-turut adalah Perawatan Kecantikan & Pribadi (Beauty & Personal Care), Barang Konsumsi Cepat Habis (FMCG), Kebutuhan Ibu & Bayi (Mom & Baby), Kesehatan (Healthcare), serta Fesyen (Fashion). Pola ini mencerminkan fokus konsumen yang semakin mengandalkan kanal e-commerce untuk kebutuhan fungsional harian dan relevansi tradisi Hari Raya.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada volume pesanan, tetapi juga pada rata-rata nilai keranjang belanja dalam satu kali transaksi. Kategori FMCG memimpin dengan kenaikan rata-rata nilai belanja sebesar 27,5 persen. Posisi ini disusul oleh kategori Perjalanan (Travelling) sebesar 14 persen, dan Fesyen sebesar 13,5 persen. Angka ini membuktikan bahwa konsumen bersedia mengalokasikan anggaran lebih besar sekaligus demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan persiapan perjalanan mudik.

Dilihat dari sisi akselerasi pertumbuhan, kategori Fesyen meroket tajam hingga 4 kali lipat sejalan dengan tradisi membeli pakaian baru. Kategori Perjalanan menyusul dengan lonjakan hampir 3 kali lipat. Sementara itu, kategori Elektronik, Kebutuhan Ibu & Bayi, serta FMCG menunjukkan pertumbuhan yang konstan di kisaran 2 kali lipat dibandingkan periode sebelum fase belanja Ramadan.

Baca juga: Awas Terjebak! Ini 7 Cara Cerdas Hindari Trik Upselling Saat Belanja Elektronik

Ritme Aktivitas Harian Penentu Waktu Belanja

Satu temuan konsisten dari tahun ke tahun adalah jam makan siang (pukul 12.00) sebagai waktu utama transaksi. Pada bulan puasa, volume belanja di jam ini melonjak hingga 2 kali lipat. Pola ini diperkuat oleh data Telkomsel Enterprise yang merinci tiga rentang waktu puncak aktivitas digital konsumen selama Ramadan, yakni:

  • Menjelang waktu sahur: Pukul 03.00 - 05.00.

  • Waktu istirahat siang: Pukul 11.00 - 14.00.

  • Waktu ngabuburit hingga usai berbuka puasa: Pukul 16.00 - 19.00.

Empat Strategi Utama Menguasai Pasar Ramadan 2026 Berangkat dari dinamika kompleks tersebut, SIRCLO memformulasikan empat strategi konkret yang dapat diimplementasikan oleh brand guna memaksimalkan momentum:

  1. Mulai Kampanye Lebih Awal: Data InMobi menunjukkan konsumen modern mulai merencanakan pembelian 2 hingga 4 minggu sebelum puasa dimulai. Brand harus mencuri start dengan memulai kampanye awareness minimal dua minggu sebelum Ramadan, lalu secara bertahap menaikkan intensitas promosi agresif saat periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) tiba.

  2. Rancang Promosi Tematik Melampaui Diskon Biasa: Konsumen kini lebih selektif. Promosi tak lagi sekadar potong harga, melainkan harus tematik—seperti kolaborasi eksklusif, peluncuran koleksi khusus Ramadan, paket Bundling, Buy More Save More, atau Gift With Purchase. Waktu penawaran juga krusial: produk kebutuhan harian sangat efektif dijual saat sahur (03.00 - 04.00); penawaran kilat (flash sale) sangat pas di waktu ngabuburit (16.00 - 18.00) saat konsumen cenderung impulsif; dan paket keluarga (family pack) paling dicari pada periode dua minggu sebelum Idulfitri.

  3. Optimalisasi Konten Live Streaming: Konsumen mencari solusi, bukan sekadar barang. Brand wajib menghadirkan tema siaran langsung yang kontekstual dengan keseharian audiens, misalnya dengan tajuk "Ramadan Essentials", "Budget-Friendly Sahur", atau "Last Minute Lebaran Preparation". Penjadwalan live juga harus disinkronkan dengan ritme harian audiens.

  4. Dorong Konversi Melalui Content Creator: Di tengah masifnya pesan promosi, konsumen sering kali menemukan dan membeli produk dari rekomendasi figur yang mereka percaya. Kolaborasi dengan kreator konten dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun legitimasi dan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dijual.

“Ramadan bukan hanya tentang lonjakan penjualan, tetapi bagaimana brand mampu memahami dan menjawab kebutuhan konsumen secara tepat. Di tengah tingginya permintaan dan kompleksitas eksekusi lintas kanal, kesiapan operasional yang menyeluruh menjadi kunci untuk menjaga konsistensi pengalaman belanja,” pungkas Danang.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar