Muharto Hadi Suprapto: Strategi Teknologi BSI Menuju Intelligent Islamic Banking

atsacitras125 . November 02, 2026

Ketika keandalan sistem, keamanan, dan pemahaman kebutuhan nasabah menjadi fondasi perbankan syariah digital

Perbankan syariah digital tidak cukup hanya menghadirkan aplikasi yang mudah digunakan. Di balik pengalaman nasabah, terdapat sistem inti, pengelolaan data, keamanan informasi, integrasi kanal, serta proses operasional yang harus berjalan konsisten. Ketika transaksi berlangsung sepanjang hari dan nasabah mengakses layanan dari berbagai perangkat, kualitas teknologi menjadi bagian langsung dari kepercayaan terhadap bank.

Tantangan tersebut semakin penting bagi Bank Syariah Indonesia (BSI). Sebagai bank syariah berskala nasional, BSI perlu menjaga kesinambungan layanan sekaligus memperluas kapabilitas digital. Transformasi tidak bisa berhenti pada pemindahan layanan ke kanal elektronik. Bank perlu membangun arsitektur yang memungkinkan produk, proses, data, dan pengendalian risiko bekerja secara terpadu.

Sosok pemimpin dan mandat strategis

Muharto Hadi Suprapto tercatat sebagai Direktur Information Technology BSI. Profil resmi perusahaan mencatat pengalaman panjangnya di bidang teknologi dan risiko, termasuk sebagai Senior Vice President di Bank Rakyat Indonesia pada 2021–2025, Vice President Information Security pada 2019–2021, serta posisi di IT Strategy & Planning. Latar belakang tersebut relevan dengan mandat teknologi di lembaga keuangan: menyelaraskan kebutuhan bisnis dengan keamanan, tata kelola, dan ketahanan sistem.

Pengalaman di area keamanan informasi dan perencanaan teknologi memberi konteks penting untuk membaca tantangan BSI. Kepemimpinan teknologi di bank bukan hanya soal memilih platform terbaru. Keputusan investasi harus mempertimbangkan risiko operasional, kepatuhan, kesinambungan layanan, kemampuan tim, dan manfaat yang dapat dirasakan nasabah.

Modernisasi tanpa mengganggu layanan

Salah satu pekerjaan tersulit dalam transformasi perbankan adalah memodernisasi sistem yang telah menopang transaksi harian. Sistem inti harus tetap stabil selama integrasi, migrasi, peningkatan kapasitas, atau pengembangan fitur. Gangguan kecil dapat memengaruhi transaksi, layanan cabang, kanal digital, dan kepercayaan publik. Karena itu, modernisasi perlu dilakukan bertahap, berbasis prioritas risiko, serta didukung pengujian dan rencana pemulihan yang jelas.

Tantangan berikutnya adalah fragmentasi data dan aplikasi. Ketika data nasabah, pembiayaan, pembayaran, dan layanan tersimpan dalam sistem yang tidak saling terhubung, bank akan kesulitan membangun pandangan nasabah yang konsisten. Kondisi tersebut juga memperlambat analisis, meningkatkan pekerjaan manual, dan menyulitkan pengawasan. Bagi bank syariah, pengembangan teknologi juga harus berjalan seiring dengan prinsip kepatuhan syariah, perlindungan data, dan tata kelola yang dapat diaudit.

Pondasi sebelum kecerdasan

Arah menuju intelligent Islamic banking sebaiknya dimulai dari fondasi arsitektur yang sehat. Pertama, bank perlu memetakan aplikasi dan integrasi berdasarkan proses bisnis kritis. API management, standardisasi pertukaran data, serta dokumentasi antarsistem membantu mengurangi ketergantungan pada integrasi yang rapuh. Kedua, observability perlu diperkuat melalui pemantauan performa aplikasi, infrastruktur, transaksi, dan pengalaman pengguna secara terpadu.

Ketiga, keamanan harus dibangun sebagai bagian dari desain, bukan pemeriksaan di akhir proyek. Pengelolaan identitas dan akses, enkripsi, pemantauan anomali, pengujian kerentanan, serta simulasi pemulihan bencana perlu menjadi praktik berkelanjutan. Keempat, tata kelola data perlu memastikan kualitas, kepemilikan, klasifikasi, dan hak akses data jelas. Fondasi tersebut menjadi prasyarat bagi pemanfaatan analitik dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.

Setelah fondasi terbentuk, AI dapat digunakan secara selektif: membantu layanan pelanggan, mendeteksi pola transaksi tidak wajar, mendukung analisis risiko, atau mempercepat pekerjaan internal. Setiap use case harus memiliki pemilik bisnis, indikator manfaat, mekanisme pengawasan manusia, dan pengujian bias serta keamanan.

Dampak transformasi dan ukuran keberhasilan

Keberhasilan transformasi tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah fitur yang diluncurkan. Ukuran yang lebih bermakna meliputi ketersediaan layanan, waktu pemulihan insiden, tingkat keberhasilan transaksi, waktu penyelesaian proses, penurunan pekerjaan manual, kualitas data, dan tingkat adopsi nasabah. Indikator keamanan seperti waktu deteksi dan respons insiden juga perlu dipantau.

Bagi nasabah, dampak idealnya terasa dalam layanan yang lebih konsisten, proses yang lebih sederhana, dan akses yang aman. Bagi karyawan, integrasi proses dan otomasi dapat mengurangi pekerjaan repetitif sehingga waktu dapat dialihkan pada layanan dan analisis. Bagi manajemen, data yang lebih andal mendukung keputusan yang lebih cepat dan terukur.

Intelligent Islamic Banking pada akhirnya bukan sekadar penggunaan AI. Ia merupakan kemampuan menggabungkan teknologi, prinsip syariah, keamanan, dan pemahaman nasabah ke dalam satu model layanan. Peran pemimpin teknologi seperti Muharto menjadi penting dalam memastikan modernisasi tidak kehilangan orientasi utamanya: membangun kepercayaan melalui layanan yang andal, aman, dan relevan.



author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar