
Industri asuransi bekerja dengan salah satu variabel yang tidak pernah sepenuhnya pasti: risiko. Berapa besar kemungkinan klaim terjadi? Apakah premi yang ditetapkan masih sesuai dengan profil risiko peserta? Bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara perlindungan nasabah dan keberlanjutan bisnis?
Di balik berbagai pertanyaan tersebut terdapat satu aset yang semakin penting, yaitu data.
Perkembangan teknologi memungkinkan perusahaan asuransi tidak hanya menyimpan data historis, tetapi juga mengolahnya untuk memahami pola dan mendukung proses pengambilan keputusan.
Dalam konteks tersebut, perjalanan Benardo Siregar, Head of IT Architecture, Performance & Governance BNI Life, menjadi menarik untuk diperhatikan.
Dari System Development hingga IT Architecture
Perjalanan profesional Benardo Siregar memperlihatkan pengalaman panjang di persimpangan antara teknologi dan industri asuransi.
Berdasarkan profil profesional publiknya, Benardo memulai karier di bidang System Development di Citra Tubindo Engineering. Setelah itu, ia memasuki industri asuransi melalui sejumlah posisi di WanaArtha Life, Chubb, Great Eastern, hingga Tokio Marine Insurance Group.
Pengalamannya mencakup business application, project management, production support, hingga PMO dan business process planning.
Sejak Juli 2019, Benardo tercatat menjabat sebagai Head of IT Architecture, Performance & Governance di BNI Life.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan teknologi di perusahaan asuransi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan aplikasi. Arsitektur sistem, performa, dan tata kelola teknologi juga menjadi bagian penting ketika semakin banyak proses bisnis bergantung pada sistem digital.
Digitalisasi Layanan Asuransi BNI Life
BNI Life telah mengembangkan sejumlah layanan digital untuk mendukung proses bisnis dan pelayanan kepada nasabah.
Dalam publikasi resminya, BNI Life menyebut beberapa layanan tersebut, antara lain bPos sebagai layanan administrasi digital, BNI Life Mobile untuk layanan klaim digital bagi nasabah kumpulan, Microsite Plan BLife sebagai platform penjualan produk asuransi digital, serta chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk membantu nasabah memperoleh informasi mengenai produk dan layanan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi di industri asuransi memiliki cakupan yang luas, mulai dari proses administrasi hingga pelayanan dan distribusi produk.
Namun, ketika semakin banyak aktivitas berpindah ke sistem digital, jumlah data yang dihasilkan juga semakin besar.
Tantangannya kemudian tidak hanya mengenai bagaimana sebuah proses dapat didigitalisasi, tetapi juga bagaimana data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan.
Ketika Data Historis Membantu Membaca Claim Ratio
Hubungan antara teknologi, data, dan bisnis asuransi terlihat dalam penelitian yang dipublikasikan Benardo Siregar bersama R. Mohamad Atok pada 2026.
Penelitian berjudul “Pemanfaatan Prediksi Klaim Rasio Berbasis Data Historis untuk Mendukung Penyesuaian Premi Asuransi Kesehatan” membahas penggunaan pendekatan prediksi berbasis data historis sebagai alat pendukung dalam penyesuaian premi dan pengelolaan klaim.
Penelitian tersebut menggunakan informasi premi, klaim, serta profil peserta asuransi kesehatan kumpulan pada sebuah perusahaan asuransi di Indonesia.
Model prediktif digunakan untuk memperkirakan claim ratio pada saat pembaruan polis. Hasil prediksi tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu informasi dalam simulasi penyesuaian premi.
Permasalahan yang dibahas memiliki hubungan langsung dengan bisnis asuransi. Penetapan premi yang tidak tepat, khususnya pada asuransi kesehatan kumpulan, dapat meningkatkan claim ratio dan berdampak terhadap profitabilitas perusahaan.
Penelitian tersebut juga menunjukkan potensi data historis dalam memberikan informasi awal mengenai profil peserta yang memiliki risiko klaim lebih tinggi.
Dengan demikian, data historis tidak hanya menjadi catatan mengenai kejadian sebelumnya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber informasi untuk memperkirakan kondisi berikutnya.
Dari Reactive Menuju Pendekatan Predictive
Pemanfaatan data tersebut menggambarkan perubahan yang semakin relevan dalam perkembangan teknologi asuransi.
Dalam pendekatan yang bersifat reactive, evaluasi dilakukan setelah suatu peristiwa terjadi. Klaim masuk, data dianalisis, kemudian perusahaan melakukan evaluasi.
Pendekatan berbasis data membuka kemungkinan untuk menggunakan pola historis sebagai masukan dalam memahami risiko lebih awal.
Hal tersebut tidak berarti model prediktif menggantikan keputusan manusia. Sebaliknya, teknologi dapat berfungsi sebagai alat yang memberikan informasi tambahan sebelum sebuah keputusan dibuat.
Dalam industri asuransi, pendekatan seperti ini dapat berkaitan dengan pengelolaan risiko, evaluasi premi, pengelolaan klaim, dan berbagai proses lain yang bergantung pada kualitas informasi.
Data Analytics Membutuhkan Fondasi Teknologi
Model prediktif tidak dapat berdiri sendiri. Pemanfaatannya bergantung pada fondasi teknologi dan data yang mendukungnya.
Konsistensi dan kualitas data, integrasi antarsistem, keamanan informasi, performa sistem, serta tata kelola teknologi menjadi aspek penting dalam lingkungan digital yang semakin kompleks.
Hubungan tersebut membuat data analytics dan IT architecture menjadi dua bidang yang semakin berkaitan.
Arsitektur teknologi membantu memastikan berbagai komponen sistem dapat bekerja dan berkembang secara terstruktur. Performance berkaitan dengan kemampuan layanan mempertahankan kinerjanya, sedangkan governance membantu memastikan penggunaan teknologi berjalan dalam kerangka kontrol dan tata kelola organisasi.
Data kemudian menjadi salah satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan organisasi untuk mendukung pengambilan keputusan.
Ketika Teknologi dan Asuransi Semakin Terhubung
Perjalanan profesional Benardo Siregar memberikan gambaran mengenai semakin luasnya kompetensi yang dibutuhkan dalam pengelolaan teknologi di industri asuransi.
Memahami sistem menjadi salah satu bagian dari pekerjaan. Namun, teknologi juga semakin berhubungan dengan proses bisnis, data, risiko, dan tata kelola organisasi.
BNI Life sendiri terus mendorong digitalisasi dalam berbagai prosesnya. Dalam laporan dan publikasi perusahaan, digitalisasi, otomatisasi, serta pemanfaatan Artificial Intelligence menjadi bagian dari pengembangan proses bisnis dan pelayanan kepada nasabah.
Di sisi lain, penelitian mengenai prediksi claim ratio menunjukkan bagaimana data dapat digunakan dalam konteks permasalahan bisnis yang nyata.
Kedua perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital asuransi tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan layanan secara online.
Tahap berikutnya adalah bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan teknologi dan data untuk memahami proses bisnis secara lebih baik sekaligus tetap menjaga tata kelola dalam penggunaannya.
Di tengah perkembangan predictive analytics dan Artificial Intelligence, tantangan industri asuransi ke depan bukan hanya mengenai seberapa canggih model yang dapat dibangun, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan secara terukur untuk mendukung keputusan manusia.

Tinggalkan Komentar