
Foto: Jade Gao/AFP.
Teknologi.id - Saat sedang asik scroll media sosial, pernahkah Anda menemukan Drama Cina (dracin) vertikal dan ketagihan menonton? Potongan-potongan pendek ini dapat ditemukan di mana saja, dengan menampilkan emosi kuat dan akhir menggantung yang sulit untuk dilewatkan. Meskipun terlihat seperti drama sinetron biasa, terdapat teknologi tinggi di balik layarnya: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) telah menggantikan seluruh lini produksinya.
Di Cina, industri mikrodrama telah berada di titik di mana AI yang mengelola semuanya, dari menulis skenario sampai membuat musik latar. Perubahan ini didorong oleh adanya kebutuhan produksi cepat dan berskala besar di pasar dengan nilai mencengangkan, di angka $8,4 miliar (sekitar Rp 142 triliun).
Munculnya "Strange Mirror of Mountains and Seas"
Video: YouTube Aideate Films.
Sebuah contoh utama dari revolusi ini adalah serial viral 'Strange Mirror of Mountains and Seas'. Dibuat oleh Chen Kun, drama fantasi ultra-short ini telah ditonton lebih dari 50 juta kali. Lebih mengejutkannya lagi, hampir setiap elemen visual dan narasinya dibuat oleh AI.
Chen Kun secara terbuka mengakui bahwa rekan utama dalam ide kreatifnya adalah AI. Ia tidak memiliki kru film pada umumnya; melainkan, ia mengelola "Tim AI" khusus di mana setiap tool software (perangkat lunak) memiliki tugas spesifik. Saat menulis, ia menggunakan ChatGPT untuk mencari ide adegan plot twist, membuat percakapan, dan menyusun episode sepanjang 30 detik. Setelah skenarionya selesai, Midjourney mengambil alih sebagai lead artist untuk menghasilkan gambar statis berkualitas tinggi dari tokoh utama tampan, monster, dan pemandangan fantasi yang mengagumkan.
Untuk membawanya ke kehidupan, Chen menggunakan Kling AI, yang mengubah foto statis menjadi video bergerak realistis. Terakhir, suasana yang penuh emosi diatur oleh Suno AI, yang membuat soundtrack orisinal dan lagu tema, sehingga sesuai dengan setiap adegan. Kebanyakan campur tangan manusia hanya sebatas pada edit final dan voice-over.
Baca juga: Telegram Jadi Sarang Film Bajakan, Perfilman Tanah Air Terancam
Kenapa Microdrama Cocok untuk AI?
Menurut Chen, microdrama merupakan bahan eksperimen yang tepat untuk AI karena dengan layar HP kecil dan durasi pendek membuat penonton tidak menyadari adanya glitch visual kecil. Jika Anda menonton video berdurasi 30 detik saat sedang dalam perjalanan, kemungkinan Anda tidak menghiraukan saat detail latarnya terlihat sedikit aneh atau tidak realistis.
Motivasi terbesar dalam pemakaian "Tim AI" ini murni karena efisiensi. Kecepatan merupakan hal terpenting dalam industri di mana ratusan judul baru dikeluarkan setiap minggunya. Tugas yang biasanya memerlukan beberapa hari, seperti membuat pasukan tentara digital atau efek fantasi yang kompleks, sekarang dapat dicapai hanya dalam waktu dua menit. Bahkan perusahaan media besar seperti Huace Group telah membuat model AI mereka sendiri yang dapat menilai novel jutaan kata hanya dalam waktu dua jam, sebuah pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu dua minggu saat dilakukan oleh tim manusia.
Hilangnya Lapangan Pekerjaan vs. Kesempatan Baru
Pengambil alihan AI menciptakan ketakutan perihal masa depan penulis dan aktor manusia. Beberapa seniman di Shanghai melaporkan bahwa AI telah menggantikan banyak desainer konsep yang pernah "mempercantik" tampilan film pada tahapan awal.
Namun, kreator seperti Chen Kun tetap optimis. Ia yakin profesi baru akan muncul, seperti "Prompt Engineers" ahli yang merancang perintah kreatif untuk memandu software AI. Ia menegaskan, meskipun AI yang menghasilkan gambarnya, imajinasi di balik prompt (perintah) itu masih buatan asli manusia.
Baca juga: 7 Aplikasi Nonton Film Terbaik di Android dan iPhone, Gratis dan Legal!
Manusia Masih Dibutuhkan
Meskipun adanya "faktor wow" dari AI, para ahli industri menekankan kalau manusia belum akan tersingkirkan. AI merupakan alat untuk mengubah proses, bukan menggantikan nyawa dari storytelling (bercerita). Singkatnya, inti dari pembuatan, seperti gambar visual, nuansa emosional, dan "vibe" akhirnya, masih berada di tangan manusia. Banyak sekolah film yang terus mendukung siswa untuk merekam video dengan aktor dan peralatan sungguhan untuk menjaga pemahaman artistik mendalam. Walaupun begitu, terdapat satu hal yang pasti: dalam dunia microdrama Cina yang cepat, AI telah resmi menjadi bintang utama baru di balik layar kamera.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar