Ini Rahasia ByteDance yang Menjadikannya Startup No.1 di Dunia

Teknologi.id . February 28, 2022
ByteDance - Inspire Creativity, Enrich Life
Foto: ByteDance


Teknologi.id - Siapa sih yang tidak kenal TikTok? Ya, media sosial untuk berbagi video pendek tersebut saat ini makin digandrungi berbagai kalangan hingga memiliki lebih dari 1 miliar pengguna bulanan, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan ibu-ibu rumah tangga pun banyak yang gemar TikTok-an.

Kesuksesan TikTok tersebut tentunya tidak lepas dari peran induk perusahaannya, ByteDance, yang saat ini berhasil dinobatkan sebagai perusahaan startup nomor satu dengan valuasi terbesar di dunia.

Menurut Hurun Global Unicorn Index 2021, valuasi ByteDance saat ini ditaksir mencapai US$ 350 miliar atau sekitar Rp 5.000 triliun, melampaui raksasa fintech asal Tiongkok, Ant Group, dan perusahaan wahana antariksa milik Elon Musk, SpaceX.

Valuasi Induk TikTok Lampaui Raksasa Fintech Cina Milik Alibaba - Startup  Katadata.co.id
Foto: Hurun Global Unicorn Index 2021


Tak banyak yang menyangka bahwa ByteDance mampu menjelma menjadi raksasa di dunia startup. Bahkan, bisa dibilang perjalanan startup ini penuh dengan kontroversi, mulai dari diremehkan di negara sendiri, melawan pemerintah AS, diblokir di beberapa negara, hingga sang CEO tiba-tiba mengundurkan diri ketika perusahaan sedang berada di puncak popularitas.

Sekilas tentang ByteDance

ByteDance adalah sebuah perusahaan teknologi internet asal Tiongkok yang berkantor pusat di Beijing. Adalah Zhang Yiming, yang melahirkan perusahaan ini pada bulan Maret 2012, diawali dengan meluncurkan produk aplikasi Neihan Duanzi. Aplikasi ini mengizinkan penggunanya berbagi meme, video lucu, dan mengedarkan lelucon ke sesama penggunanya.

Founder of TikTok owner ByteDance resigns as CEO - The Verge
Zhang Yiming, pendiri ByteDance. Foto: TheVerge


Setelah itu, pada Agustus 2012, ByteDance meluncurkan Toutiao sebagai platform konten di Tiongkok dan di berbagai negara. Toutiao merupakan mesin rekomendasi berita yang selanjutnya berkembang menjadi platform pendistribusi konten dalam berbagai format mulai dari video, teks, gambar, tanya jawab, hingga microblog. Meski baru 4 bulan setelah peluncuran, Toutiao mampu mendapatkan sejuta pengguna aktif harian ketika itu. 

Selanjutnya, pada bulan Maret 2016, ByteDance meluncurkan Xigua Video, sebuah platform berbagi video pendek yang mempunyai rata-rata durasi 2-5 menit.

Masih di tahun yang sama, AI Lab ByteDance berkolaborasi dengan Universitas Peking mengembangkan Xiaomingbot yang merupakan bot penulisan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menulis artikel berita.

Baca juga: Ulasan Buku: What the Most Successful People Do Before Breakfast

Bot AI ini mampu menerbitkan 450 artikel hanya dalam 15 hari selama Olimpiade Musim Panas. Menariknya, Xiaomibot mampu menerbitkan berita dengan kecepatan yang menakjubkan, sekitar dua detik setelah acara berakhir. Sejak itu, AI Lab ByteDance pun terus mengembangkan algoritma mesin skala besar untuk rekomendasi informasi yang dipersonalisasi.

Pada bulan September 2016 di Tiongkok, ByteDance meluncurkan Douyin, cikal bakal TIkTok, yang merupakan platform berbagi video pendek. Berawal dari Douyin, ByteDance mulai dikenal luas di daratan China.

Meskipun begitu, banyak orang yang meremehkan Douyin, karena pada saat itu platform tersebut dianggap hanya sebagai "copycat" dari aplikasi serupa yang lebih populer secara global yaitu Musical.ly.

Namun secara mengejutkan, ByteDance justru mampu mengakuisisi Musical.ly pada tahun 2018 dan merilis platform video pendek dengan brand baru yang bernama TikTok.

Kini TikTok berhasil menjadi salah satu jejaring sosial berbasis video pendek terpopuler di dunia, termasuk Indonesia. Berkat AI Lab ByteDance, TikTok mempunyai algoritma kecerdasan buatan yang canggih sehingga mampu menghadirkan filter dan efek video yang menarik.

ByteDance takes on Tencent with major gaming studio acquisition

Foto: CNBC


Tahun demi tahun, invasi bisnis ByteDance pun tak tanggung-tanggung. Maret 2020, ByteDance kembali meluncurkan aplikasi streaming musik Resso di India dan Indonesia. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk berbagi lirik, konten, dan komentar dengan pengguna lainnya.

Bahkan pada 2021 lalu, ByteDance juga berhasil mengakuisisi perusahaan pengembang Mobile Legends: Bang Bang, Moonton, dengan nilai akuisisi sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 57,6 triliun.

Meskipun ByteDance rata-rata menghadirkan aplikasi untuk menjadi hiburan, namun semua aplikasi tersebut didukung oleh algoritma kecerdasan buatan agar membuatnya menjadi lebih memudahkan dan menarik bagi banyak orang.

Lantas, apa sih rahasia kesuksesan ByteDance? Bagaimana ByteDance bisa berhasil sukses secara konsisten hingga mampu menjelma menjadi startup raksasa dengan valuasi terbesar di dunia?

Baca juga: Ini Dia 12 Teknik Marketing Ampuh & Jitu (Terbukti Secara Ilmiah)

Rahasia Kesuksesan ByteDance

TikTok creator ByteDance hits $425bn valuation on gray market - Nikkei Asia
Foto: Nikkei Asia


Adanya Tim Khusus

Bytedance menggunakan platform berbagi videonya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan pesaingnya. Tim atau unit produk perusahaan tidak mengontrol sumber daya operasi mereka sendiri.

Sebaliknya, banyak fungsi bisnis, teknologi, dan operasi umum (di antaranya SDM dan hukum) dipusatkan dan diatur ke dalam tim yang sesuai. Tim tersebut sangat terspesialisasi, sehingga orang yang tepat dapat dipekerjakan secara fleksibel sesuai kebutuhan untuk setiap jenis pekerjaan.

Strategi SSP

ByteDance mengandalkan strategi shared-services platform (SSP) untuk bisa mengembangkan inovasi dan memastikan pertumbuhan perusahaan yang progresif. Shared Services Platform (SSP) adalah platform pengembangan internal dalam perusahaan yang mengabstraksi kompleksitas infrastruktur cloud dari pengembang, sehingga memungkinkan perusahaan untuk membagi beban pekerjaan dengan lebih mudah.

Dari perspektif operasional, SSP mengemas berbagai teknologi-teknologi canggih yang dibutuhkan untuk sejumlah pekerjaan ke dalam satu wadah terpusat, yang kemudian dapat digunakan oleh seluruh pengembang di dalam perusahaan.

Strategi ini memiliki lima karakteristik utama:

  • Eksplorasi yang luas

Sejak awal mengudara, ByteDance telah mengeskplorasi peluang produk baru secara masif dan tidak ragu untuk menelurkan bisnis ke segmen yang sama.

Terlihat, ketika baru beberapa bulan berdiri sebagai sebuah perusahaan, ByteDance sudah memiliki 12 aplikasi konten hiburan. Selain itu, ByteDance juga memiliki setidaknya 20 aplikasi untuk menguji peluang pasar luar negeri pada tahun 2015.

Puncaknya, di rentang tahun 2018 sampai 2020, perusahaan memiliki setidaknya 140 aplikasi di 11 segmen berbeda yang tersedia di toko aplikasi.

  • Iterasi cepat

ByteDance juga terkenal karena kecepatan pengembangannya dan penetrasi produknya ke pasar (dimana sebagian besar terwujud berkat SSP-nya).

Perusahaan hanya membutuhkan waktu empat bulan untuk meluncurkan aplikasi pendidikan yang, menurut seorang karyawan, mungkin membutuhkan waktu 18 bulan untuk diluncurkan oleh pesaing.

Secepat ByteDance meluncurkan produk baru, secepat itu pula mereka menghentikan produk yang tidak berkinerja baik dan membubarkan atau mengonfigurasi ulang tim produk yang terlibat.

Tidak seperti perusahaan lain, karyawan ByteDance dapat menggarap beberapa proyek sekaligus dalam satu tahunnya, meskipun beberapa di antaranya tidak pernah berhasil diluncurkan.

  • Fokus selektif

Eksplorasi luas ByteDance tidak berarti mengurangi fokus. Perusahaan mengalokasikan sumber daya utama untuk beberapa produk prioritas yang terpilih selama kurun waktu tertentu.

Tiga tahun pertama ByteDance didominasi oleh eksperimen teks dan konten foto yang berkaitan dengan kesuksesan Toutiao, aplikasi beritanya, sementara tahun 2016 menandai poros perusahaan ke platform video pendek.

Setelah tiga tahun bereksperimen, ByteDance menjadikan pertumbuhan bisnis pendidikannya sebagai prioritas, dengan meluncurkan tidak kurang dari 11 produk berbeda di tujuh segmen pasar.

Meski upaya ini terhambat pada tahun 2021 dikarenakan peraturan pemerintah setempat, ini menunjukkan komitmen ByteDance untuk tetap bereksperimen secara luas dalam area fokus yang dipilih.

  • Kerja sama lintas divisi

SSP ByteDance juga memungkinkan tim produk baru untuk dengan mudah mengintegrasikan teknologi dan fitur terbaik di kelasnya, sehingga dapat menghemat waktu dan sumber daya yang berharga.

Ketika satu tim sedang melakukan perekrutan karyawan, misalnya, mereka dapat menggabungkan teknologi AI yang telah dibangun oleh tim algoritma SSP, agar bisa menganalisis transkripsi wawancara dan memindai resume para pelamarnya.

  • Memproduksi platform

Sebuah platform layanan bersama sering kali dimulai sebagai sebuah alat baru yang benar-benar asing. Namun, bila ternyata platform tersebut diprediksi akan menguntungkan, maka perusahaan akan meluncurkannya sebagai sebuah produk.

Misalnya, Lark, platform kolaborasi pekerjaan yang memungkinkan penggunanya tetap saling terhubung dengan menyediakan banyak aplikasi dalam satu aplikasi utama. pada awalnya hanyalah platform yang dikembangkan untuk kebutuhan internal perusahaan saja.

Pemberdaya Organisasi

Strategi SSP ByteDance telah sangat berhasil memajukan perusahaan, sehingga banyak perusahaan lain yang meniru strategi tersebut. Namun hanya sedikit perusahaan yang berhasil meniru kesuksesan ByteDance dengan strategi tersebut. Mengapa? Karena mereka belum meniru sistem organisasi di perusahaan ByteDance.

Berikut ini 3 sistem organisasi yang diterapkan ByteDance di perusahaanya:

  • Sistem OKR

Terinspirasi oleh Google, strategi dan operasi ByteDance didorong oleh sistem Objectives and Key Results (OKR) dua bulanan yang transparan yang mengalir dari jajaran paling atas, menyelaraskan prioritas dan tindakan SSP serta tim produk.

OKR setiap orang dapat dilihat oleh semua orang, termasuk CEO. OKR membantu menghilangkan pemikiran pegawai yang terbungkam sehingga mampu meningkatkan kinerja seseorang di ByteDance.

  • Menggerus hierarki

Untuk mendorong kolaborasi dan berbagi, ByteDance menggunakan sistem evaluasi kinerja 360 derajat. Selain itu, tidak seperti kebanyakan perusahaan China lainnya, ByteDance telah menghapus penggunaan gelar/jabatan dan memilih menggerus hierarkinya menjadi beberapa lapisan saja, sehingga karyawan dapat fokus pada tanggung jawab pekerjaan mereka alih-alih mengkhawatirkan perbedaan status gelar/jabatan.

  • Budaya berbasis data

Pendiri ByteDance, Zhang Yiming, percaya bahwa keunggulan kompetitif perusahaan yang paling mendasar adalah budaya organisasi yang digerakkan oleh data. Ekspansi perusahaan tersebut ke dalam video pendek, misalnya, dilatarbelakangi oleh seorang eksekutif yang mencatat bahwa terjadi peningkatan tajam terhadap waktu yang dihabiskan seseorang untuk menonton video di Toutiao.

Selain itu, pemasaran yang direncanakan dengan hati-hati berdasarkan wawasan berbasis data juga telah membantu TikTok meraih popularitasnya dari basis pengguna remaja menjadi audiens yang lebih luas saat ini.

Baca juga: Tips Menghindari Persaingan Bisnis ala "Blue Ocean Strategy"

Keunggulan ByteDance

What's TikTok doing to our kids? Concerns from a clinical psychologist -  New York Daily News
Foto: NY Daily News


Selain poin-poin di atas, ByteDance juga memiliki sejumlah keunggulan dari para pesaingnya yang terus mendongkrak pertumbuhan perusahaan menjadi lebih besar.

  • Basis pengguna muda dengan tingkat keterlibatan tinggi

Sama seperti Facebook (Meta), ByteDance berhasil tumbuh berkat generasi muda yang secara aktif berinteraksi di platformnya—khususnya TikTok. Ini tercermin pada jumlah pengguna aktif bulanannya yang begitu tinggi. Menurut Chartr, TikTok mencetak prestasi itu hanya dalam 5 tahun; mengalahkan para pendahulunya seperti WhatsApp, WeChat, Instagram, Youtube, dan Facebook.

  • Produk yang sengaja dirancang agar viral

Dengan TikTok, ByteDance berhasil melahirkan platform kuat bagi para pengguna yang ingin berinteraksi. 50 top kreator konten di TikTok bahkan memiliki jumlah pengikut yang jauh lebih banyak daripada kombinasi populasi Meksiko, Kanada, Britania Raya, dan Australia.

  • Personalisasi dan algoritma rekomendasi

ByteDance tak merancang platform untuk konten, tetapi memanfaatkan kecerdasan artifisial guna mengembangkan algoritma yang menjodohkan minat pengguna dengan berbagai jenis konten.

Referensi:

How ByteDance Became the World’s Most Valuable Startup, Roger Chen and Rui Ma

Resep Induk Usaha TikTok Menjadi Startup Paling Bernilai di Dunia, Tanayastri Dini Isna KH

Hurun Global Unicorn Index

(dwk)

author2
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar