Cuan Rp 650 Juta dari Canva: Cara Francisco Bangun Bisnis Digital 20 Menit Sehari

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 14, 2026


Foto: CNBC International

Teknologi.id – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran pasar kerja konvensional, narasi mengenai "bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras" semakin menemukan pembuktian nyatanya. Kisah viral Francisco Rivera, seorang pemuda berusia 27 tahun yang berhasil membalikkan nasibnya dari seorang guru bimbingan belajar (bimbel) menjadi pengusaha digital sukses dengan penghasilan mencapai US$ 38.500 atau sekitar Rp 650 juta per bulan. Yang membuat kisah ini menggemparkan adalah pengakuannya bahwa ia hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit sehari untuk mengelola bisnis tersebut.

Kisah Rivera bukan sekadar keberuntungan semata, melainkan hasil dari pemanfaatan ekosistem digital yang tepat: desain menggunakan Canva, platform jual beli Etsy, dan sistem logistik Print-on-Demand (POD). Fenomena ini menjadi bukti bahwa di tahun 2026, kreativitas yang dipadukan dengan otomatisasi adalah mata uang baru yang sangat berharga.

Titik Balik: Dari Guru Bimbel ke Dunia Digital

Sebelum meraih kesuksesan finansial ini, Francisco Rivera adalah seorang guru bimbel di Florida, Amerika Serikat. Namun, pasca-pandemi Covid-19, industri pendidikan tambahan mengalami pergeseran besar yang membuat pendapatannya tidak lagi stabil. Menghadapi situasi tersebut, Rivera memutuskan untuk mencari peluang di internet. Ia tidak mencari pekerjaan kantoran tradisional, melainkan mencoba peruntungan di bidang e-commerce.

Ia memilih model bisnis Print-on-Demand. Dalam model ini, penjual tidak perlu menyetok barang secara fisik. Produk—seperti kaos, gelas, atau dalam kasus khusus Rivera adalah lilin organik dengan label kustomhanya akan diproduksi oleh pihak ketiga (vendor) ketika ada pesanan masuk dari pembeli. Keuntungan utama dari model ini adalah risiko finansial yang sangat rendah, karena penjual tidak perlu membayar modal produk di awal.

Baca juga: Tips Menggunakan Canva untuk Tingkatkan Produktivitas

Rahasia di Balik "Modal Canva"

Banyak orang bertanya, bagaimana sebuah aplikasi desain yang bisa diakses siapa saja seperti Canva bisa menghasilkan ratusan juta rupiah? Rivera menjelaskan bahwa kuncinya bukan pada kerumitan desain, melainkan pada pesan dan estetika yang relevan dengan target pasar di Etsy.

Rivera menggunakan Canva Pro untuk membuat desain label lilin yang unik, lucu, atau memiliki kutipan emosional yang disukai pelanggan. Ia memanfaatkan berbagai aset grafis, font, dan elemen premium di Canva untuk menciptakan tampilan produk yang terlihat profesional dan mahal. Setelah desain selesai, ia mengunggahnya ke platform seperti Printify yang kemudian secara otomatis akan memproses pencetakan label dan pengiriman lilin ke alamat pembeli di seluruh dunia.

Biaya operasionalnya sangat minim. Rivera menyebutkan hanya perlu mengeluarkan sekitar US$ 0,20 (sekitar Rp3.200) untuk mencantumkan satu item di Etsy. Sementara itu, akun Canva Pro yang ia gunakan memberikan akses ke ribuan template yang memudahkan proses kreatifnya sehingga satu desain bisa selesai hanya dalam hitungan menit.


Foto: Canva

Mengapa Hanya 20 Menit Sehari?

Istilah "kerja 20 menit" seringkali disalahartikan sebagai kemalasan. Bagi Rivera, 20 menit tersebut adalah waktu yang ia gunakan untuk pemeliharaan toko dan memantau pesanan yang masuk. Karena sistem fulfillment (pemenuhan pesanan) sudah diotomatisasi oleh vendor POD, Rivera tidak perlu mengemas barang atau pergi ke kantor pos.

Tugas utamanya adalah riset tren. Ia menghabiskan waktu singkat tersebut untuk melihat kata kunci apa yang sedang populer di Etsy, lalu membuat desain baru di Canva yang sesuai dengan tren tersebut. Jika sedang ada lonjakan pesanan yang sangat ramai, ia mungkin bekerja hingga 2 jam sehari, namun secara rata-rata, sistem yang sudah ia bangun berjalan secara otomatis di latar belakang (autopilot).

Baca juga: ChatGPT Kini Terintegrasi dengan Canva, Hadirkan Deep Research Inovatif

Hasil Finansial dan Skalabilitas

Dalam satu tahun, bisnis yang dikelola dari meja makan ini mampu meraup keuntungan kotor hingga US$ 462.000 (sekitar Rp 7,5 miliar). Setelah dipotong biaya produksi dan biaya platform, Rivera tetap mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp 650 juta setiap bulannya. Angka ini jauh melampaui apa yang bisa ia dapatkan sebagai guru bimbel, bahkan dengan jam kerja yang jauh lebih panjang.

Keberhasilan Rivera menunjukkan bahwa di era digital 2026, skalabilitas adalah segalanya. Sebuah desain yang dibuat sekali di Canva dapat terjual ribuan kali tanpa tambahan tenaga kerja dari sisi penjual. Inilah yang memungkinkan seorang individu tunggal bisa menghasilkan omzet miliaran rupiah tanpa perlu memiliki kantor besar atau puluhan karyawan.

Pesan untuk Generasi Digital

Meskipun kisah Rivera terdengar sangat mudah, tetap diperlukan konsistensi dan tekad kuat di masa awal pembangunan toko. Penipuan "cepat kaya" memang banyak, namun model bisnis print-on-demand adalah bisnis nyata yang membutuhkan strategi riset pasar yang tepat.

Bagi masyarakat Indonesia, kisah Francisco Rivera menjadi pengingat bahwa alat seperti Canva bukan sekadar untuk membuat tugas sekolah atau unggahan media sosial, melainkan instrumen ekonomi yang kuat jika digunakan dengan visi bisnis. Dengan modal yang sangat minim, siapapun yang memiliki akses internet kini memiliki peluang yang sama untuk menembus pasar global dan meraih kemandirian finansial.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News


(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar