Ekosistem Digital Syariah untuk Segmen Unbanked: Peran Robertus Hadisurya

K. Anindita . November 02, 2026



Akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya kelompok berpenghasilan rendah dan pelaku usaha ultra mikro. Keterbatasan akses perbankan, kemampuan finansial, hingga jangkauan layanan menjadi sejumlah faktor yang membuat kelompok tersebut belum sepenuhnya terlayani oleh lembaga keuangan formal.

Kondisi ini mendorong PT Bank BTPN Syariah Tbk untuk mengembangkan model perbankan yang tidak hanya berorientasi pada layanan transaksi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan perbankan syariah berbasis komunitas, BTPN Syariah berupaya memperluas akses pembiayaan dan layanan keuangan bagi perempuan prasejahtera produktif serta masyarakat inklusi.

Dalam mendukung model bisnis tersebut, teknologi informasi memiliki peran penting untuk menghubungkan nasabah, petugas lapangan, dan mitra layanan dalam satu ekosistem. Robertus J. Hadisurya, selaku Information Technology Head BTPN Syariah, menjadi salah satu figur yang bertanggung jawab dalam memastikan strategi dan infrastruktur teknologi perusahaan sejalan dengan kebutuhan bisnis serta operasional bank.

Inklusi Keuangan sebagai Fondasi Model Bisnis BTPN Syariah

Berbeda dari model perbankan yang berfokus pada layanan finansial perkotaan, BTPN Syariah memiliki perhatian khusus terhadap masyarakat inklusi, terutama perempuan prasejahtera produktif yang menjalankan usaha berskala mikro.

Salah satu layanan utamanya adalah Tepat Pembiayaan Syariah Kelompok. Produk ini ditujukan kepada perempuan prasejahtera produktif dengan menggunakan akad wakalah wal murabahah. Selain menyediakan akses pembiayaan, program tersebut juga mengedepankan pembentukan kebiasaan positif melalui prinsip Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu (BDKS).

Pendekatan berbasis komunitas tersebut membuat kegiatan perbankan tidak sepenuhnya bergantung pada interaksi nasabah dengan kantor cabang. BTPN Syariah mengandalkan Community Officer atau #bankirpemberdaya yang berinteraksi langsung dengan komunitas nasabah untuk mendukung proses pembiayaan dan pemberdayaan.

Skala operasional model bisnis ini membutuhkan dukungan teknologi yang mampu menjangkau berbagai wilayah, mengelola informasi nasabah, serta membantu petugas menjalankan aktivitas operasional secara lebih efektif. Oleh karena itu, digitalisasi menjadi bagian penting dari upaya BTPN Syariah dalam memperluas jangkauan layanan tanpa menghilangkan pendekatan pemberdayaan secara langsung.

Tiga Platform Digital dalam Ekosistem BTPN Syariah

Untuk mendukung kebutuhan operasional dan layanan nasabah yang beragam, BTPN Syariah mengembangkan sejumlah platform digital dengan fungsi yang berbeda. Pengembangan tersebut mencakup aplikasi internal bagi petugas lapangan, layanan bagi nasabah, hingga platform untuk mitra agen.

1. Terra: Mendukung Aktivitas Petugas Lapangan

Terra merupakan aplikasi yang digunakan Community Officer untuk mendukung aktivitas pelayanan nasabah inklusi. Platform ini membantu digitalisasi proses bisnis di lapangan, termasuk aktivitas akuisisi nasabah, kegiatan sentra, dan pengelolaan kas.

Penggunaan aplikasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada proses manual sekaligus membantu petugas menjalankan aktivitas operasional secara lebih terstruktur.

Dalam model bisnis berbasis komunitas, keberadaan teknologi seperti Terra penting karena proses pelayanan tidak hanya berlangsung melalui kanal digital, tetapi juga melibatkan interaksi langsung antara petugas dan nasabah.

2. SiTepat: Mempermudah Pengelolaan Pembiayaan Nasabah

BTPN Syariah juga mengembangkan SiTepat sebagai aplikasi yang ditujukan bagi nasabah pembiayaan, khususnya segmen ultra mikro dan mikro.

Melalui aplikasi ini, nasabah dapat mengakses informasi saldo rekening, mutasi transaksi, detail pembiayaan, riwayat pembayaran angsuran, serta pengingat tanggal jatuh tempo.

Ketersediaan informasi tersebut membantu nasabah memantau kewajiban pembiayaan dan aktivitas keuangannya tanpa harus selalu mengandalkan pencatatan secara manual.

Dalam Laporan Tahunan 2024, BTPN Syariah menjelaskan bahwa SiTepat dikembangkan untuk mendukung layanan nasabah pembiayaan Tepat Pembiayaan Syariah Individu-Komunitas (TPSIK). Pada periode tersebut, bank juga menyiapkan pengembangan fitur transaksi digital seperti pembayaran tagihan atau PPOB, transfer, serta setor dan tarik tunai melalui pihak ketiga. Fitur-fitur tersebut masih dalam tahap persiapan, sehingga tidak dapat dianggap seluruhnya telah tersedia bagi nasabah.

3. Warung Tepat: Memperluas Akses melalui Mitra Agen

Selain mengembangkan aplikasi untuk petugas dan nasabah, BTPN Syariah memanfaatkan jaringan Mitra Tepat melalui aplikasi Warung Tepat.

Warung Tepat merupakan aplikasi khusus bagi agen Laku Pandai atau Mitra Tepat untuk melakukan transaksi dan melayani nasabah. Keberadaan mitra agen menjadi bagian dari strategi memperluas akses layanan keuangan, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan jangkauan terhadap kantor bank.

Dalam Laporan Tahunan 2023, BTPN Syariah mencatat lebih dari 30.000 Mitra Tepat telah menjadi bagian dari ekosistem digital perusahaan. Melalui aplikasi tersebut, mitra dapat membantu melayani sejumlah transaksi, termasuk setor tunai, transfer, tarik tabungan, pembayaran tagihan, pembelian pulsa, dan token listrik.

Model ini menunjukkan bahwa digitalisasi perbankan tidak selalu berarti seluruh layanan harus dilakukan melalui aplikasi yang digunakan langsung oleh nasabah. Jaringan agen yang didukung teknologi juga dapat menjadi saluran penting untuk memperluas jangkauan layanan keuangan.

Penguatan Infrastruktur dan Tata Kelola Teknologi

Mengelola beberapa platform dengan karakteristik pengguna yang berbeda membutuhkan fondasi teknologi yang terintegrasi. BTPN Syariah perlu memastikan bahwa sistem yang digunakan petugas lapangan, nasabah, dan mitra agen dapat mendukung proses bisnis secara konsisten.

Dalam Laporan Tahunan 2023, perusahaan menjelaskan bahwa pengembangan TI difokuskan pada penguatan Digital Front End Platform yang mencakup Terra, Warung Tepat, SiTepat, Daya, serta layanan mobile dan internet banking. Pengembangan tersebut juga berjalan beriringan dengan penguatan Core Banking System, infrastruktur operasional, dan otomatisasi proses bisnis.

Pada periode yang sama, BTPN Syariah turut menempatkan pengelolaan risiko TI, keamanan informasi, dan tata kelola digital sebagai bagian dari strategi pengembangan teknologi. Perusahaan juga memanfaatkan teknologi public cloud dengan pusat data di Indonesia untuk mendukung efisiensi operasional sekaligus memenuhi kebutuhan keamanan.

Selanjutnya, dalam Laporan Tahunan 2024, BTPN Syariah kembali menekankan tiga fokus pengembangan teknologi, yaitu ketahanan layanan TI, penguatan keamanan siber, dan optimalisasi teknologi berbasis cloud.

Perusahaan juga memperkuat kapabilitas Data Center dan Disaster Recovery Center untuk menjaga ketersediaan layanan, termasuk ketika terjadi gangguan. Penerapan autentikasi biometrik dalam sejumlah layanan turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keamanan transaksi dan kemudahan akses nasabah.

Rangkaian pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan ekosistem digital tidak hanya ditentukan oleh aplikasi yang digunakan, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur, integrasi sistem, keamanan data, dan kemampuan pemulihan ketika terjadi gangguan.

Robertus J. Hadisurya dan Strategi Teknologi BTPN Syariah

Di balik pengembangan dan pengelolaan teknologi tersebut, Robertus J. Hadisurya menjabat sebagai Information Technology Head BTPN Syariah. Berdasarkan profil resmi perusahaan, ia bergabung pada 2020 dan memiliki pengalaman selama 32 tahun di bidang teknologi informasi.

Pengalamannya mencakup berbagai area, antara lain strategi TI, arsitektur teknologi, service and solution delivery, manajemen proyek, serta quality management. Sebelum bergabung dengan BTPN Syariah, Robertus pernah menjabat sebagai Head of Information Technology di Great Eastern Life Indonesia, Head of IT Service & Solution Delivery di Commonwealth Life, serta Head of IT Service Delivery, Solution Delivery & Quality Management di AXA Services Indonesia.

Dalam profil resminya, BTPN Syariah menjelaskan bahwa tanggung jawab Robertus mencakup memastikan strategi, produk, dan solusi TI mendukung pencapaian strategi bank, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ia juga bertanggung jawab memastikan infrastruktur teknologi mendukung operasional bank sesuai standar yang ditetapkan, sehingga dapat meningkatkan kepuasan pengguna dan mendukung proses bisnis secara menyeluruh.

Tanggung jawab tersebut relevan dengan kompleksitas ekosistem digital BTPN Syariah. Pengelolaan platform seperti Terra, SiTepat, dan Warung Tepat membutuhkan koordinasi antara pengembangan aplikasi, infrastruktur, layanan TI, serta kebutuhan operasional di lapangan.

Pengalaman Robertus dalam arsitektur TI dan pengelolaan layanan teknologi juga menjadi latar belakang yang relevan untuk mendukung kebutuhan integrasi sistem dan keberlangsungan layanan. Meski demikian, pengembangan setiap platform merupakan bagian dari upaya perusahaan secara kolektif dan tidak dapat diatribusikan sebagai pencapaian personal Robertus tanpa informasi lebih lanjut mengenai keterlibatan langsungnya.

Teknologi yang Mendukung Inklusi, Bukan Menggantikan Pemberdayaan

Transformasi digital BTPN Syariah memperlihatkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk memperluas akses keuangan bagi masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani oleh sistem perbankan formal. Melalui Terra, SiTepat, dan Warung Tepat, perusahaan membangun pendekatan digital yang menghubungkan petugas lapangan, nasabah pembiayaan, dan mitra agen dalam satu ekosistem layanan.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa digitalisasi pada segmen inklusi membutuhkan strategi yang berbeda. Selain kemudahan penggunaan aplikasi, perusahaan perlu mempertimbangkan kesiapan pengguna, akses terhadap perangkat dan jaringan, keamanan transaksi, serta keberadaan pendampingan melalui petugas dan mitra di lapangan.

Dalam konteks ini, pengelolaan teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesinambungan model bisnis BTPN Syariah. Robertus J. Hadisurya, melalui tanggung jawabnya sebagai Information Technology Head, memiliki peran dalam memastikan strategi dan infrastruktur TI mendukung kebutuhan operasional serta arah bisnis perusahaan.

Ke depan, tantangan pengembangan ekosistem digital syariah tidak hanya terletak pada penambahan fitur, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan sistem, memperkuat keamanan informasi, dan memastikan teknologi tetap mudah diakses oleh masyarakat yang menjadi sasaran layanan.

Pada akhirnya, teknologi dalam perbankan inklusif bukan sekadar alat untuk mempercepat transaksi. Lebih dari itu, teknologi berperan sebagai penghubung yang memungkinkan layanan keuangan menjangkau lebih banyak masyarakat, sekaligus mendukung tujuan pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan.




author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar