Setara 444 Target Per Hari, Militer Israel Gunakan AI untuk Menyerang Gaza

Silviya Zukhruf Aini . December 04, 2023

Foto: The Guardian

Teknologi.id - Dalam memilih target di Jalur Gaza, pasukan pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) dibantu dengan teknologi Artificial Intelligence (AI). Situs web pasukan pertahanan Israel pada tanggal 02 November merilis sebuah pernyataan terkait penggunaan teknologi berbasis AI yang dinamakan Habsora (The Gospel). 

Seorang pejabat IDF menjelaskan bahwa militer Israel menggunakan teknologi AI untuk membidik target secara akurat dan cepat, di mana target akan dihujani bom secara otomatis. AI akan memberikan rekomendasi lokasi yang diduga sebagai tempat tinggal Hamas. Lokasi yang menjadi target kemudian akan dilakukan serangan udara. 

Selama 27 hari militer Israel melakukan serangan, sudah lebih dari 12.000 target yang terkena serangan bom, berdasarkan klaim dari situs IDF. Jumlah tersebut setara dengan 444 target di setiap harinya.

Baca juga: Elon Musk Dapat Undangan dari Hamas untuk Melihat Dampak Serangan Israel 

Seorang mantan perwira intelijen Israel mengatakan bahwa dalam serangan yang dilakukan Israel tidak menekankan pada kualitas, melainkan kuantitas. Israel tidak hanya berfokus melancarkan serangan kepada Hamas, sebab banyak pula masyarakat sipil di Palestina yang terbunuh akibat serangan yang dilakukan Israel.

Mantan Kepala IDF, Aviv Kochavi, dalam sebuah wawancara yang dirilis sebelum kejadian 07 Oktober lalu, mengatakan bahwa AI tersebut merupakan mesin yang dapat menghasilkan data secara masif, dinilai lebih efektif kegunaannya daripada manusia, serta mampu menerjemahkan target untuk diserang.

Kochavi mengatakan bahwa IDF memiliki kemampuan seperti halnya dalam film The Matrix yang menyediakan intelijen real-time. Setiap brigade kini memiliki aparat intelijen canggih.

Ia juga menambahkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kemungkinan akan menjadi yang paling radikal, baik atau buruk, di antara semua revolusi teknologi yang dimiliki. Bertahun-tahun yang lalu, IDF telah mengakui bidang ini dan memanfaatkannya untuk efektivitas tempur, sebagaimana dilansir dari laman CNBC Indonesia.

Baca juga: Serangan Mematikan Israel ke Palestina Ternyata Dibantu Teknologi AI 

Tiga tahun yang lalu, telah dibentuk suatu unit khusus yang disebut Direktorat Sasaran. Unit tersebut terdiri dari ratusan perwira dan tentara yang didukung oleh kemampuan AI. Masih dalam wawancara tersebut, Kochavi mengenang dalam "Operation Guardian of the Walls", ia dapat menghasilkan sebanyak 100 target baru saat setelah AI di aktifkan. 

Ia menjelaskan, dalam setahun, mereka menghasilkan 50 target di Gaza. Dengan kemampuan AI tersebut, mereka mampu menghasilkan 100 target dalam sehari, di mana 50% di antaranya tepat sasaran.

IDF mengklaim bahwa serangan 11 hari di Gaza yang dikenal sebagai "Operation Guardian of the Walls" itu disebut sebagai perang AI pertama kali di dunia yang dilakukan pada tahun 2021. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan 261 warga Palestina dan melukai 2.200 orang. 

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(sza)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar