Elon Musk Ngamuk! Tuntut OpenAI dan Microsoft Ganti Rugi Rp2.27 Kuadriliun

Yasmin Najla Alfarisi . January 20, 2026

Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi

Teknologi.id -  Perseteruan hukum antara pria terkaya dunia, Elon Musk, dengan startup AI paling fenomenal, OpenAI, memasuki babak baru yang sangat panas. Elon Musk resmi menuntut ganti rugi dengan jumlah besar, berkisar antara $79 miliar (sekitar Rp1,34 kuadriliun) dan $134 miliar (sekitar Rp2,27 kuadriliun) dari OpenAI dan mitra utamanya, Microsoft. Gugatan masif ini berasal pada satu tuduhan berat: Musk mengklaim bahwa OpenAI mengkhianati misi awalnya untuk membantu kemanusiaan dan malah beralih menjadi "mesin pencetak uang" bagi Microsoft.

Perhitungan di Balik Ribuan Triliun 

Banyak pihak bertanya-tanya, atas dasar apa Elon mematok angka sebesar itu? Perhitungan tersebut disusun oleh C. Paul Wazzan, seorang pakar ekonomi keuangan yang menaganalisis kontribusi awal Elon. Pada 2015, Elon merupakan salah satu pendiri OpenAI dan mengucurkan dana awal sebesar $38 juta (sekitar Rp644 miliar), yang mencakup sekitar 60% dari total pendanaan awal perusahaan itu.

Wazzan menegaskan bahwa Elon tidak hanya memberikan uang; ia juga memberikan "panduan teknis, masukan bisnis, dan rekrutmen talenta elit" yang memberikan kredibilitas instan bagi OpenAI. Karena sekarang OpenAI bernilai $500 miliar (sekitar Rp 8,48 kuadriliun), tim hukumnya berpendapat kalau Elon berhak mendapat "saham pendiri" dari keuntungan yang dianggap curian saat perusahaan ini berubah dari model non-profit ke for-profit (organisasi yang mengejar keuntungan). Intinya, Elon meminta pengembalian sekitar 3.500 kali lipat dari investasi awalnya, berpendapat bahwa perannya adalah mesin utama keberhasilan OpenAI.

Baca juga: Internet Iran Lumpuh, Starlink Elon Musk Sediakan Koneksi Gratis

"Keuntungan Tidak Sah" dan Peran Microsoft

Foto: Steven Molo, Original Jurisdiction

Gugatan dari tim Elon menggunakan istilah hukum: "wrongful gains" atau keuntungan yang diperoleh secara tidak sah. Mereka mengklaim bahwa OpenAI dan Microsoft telah meraup miliaran dolar secara ilegal dengan menggunakan teknologi yang seharusnya gratis dan dapat diakses siapa saja (open-source). Dengan merahasiakan model AI terkuat mereka, Elon yakin kalau mereka telah melanggar "kontrak pendiri" yang dimaksudkan untuk mencegah sebuah perusahaan korporat menguasai kecerdasan super (super-intelligence).

Berdasarkan laporan ahli:

  • OpenAI dituduh menguasai keuntungan ilegal sebesar $65,5 miliar hingga $109,4 miliar (sekitar Rp1,1 kuadriliun hingga Rp1,8 kuadriliun).
  • Microsoft, yang memegang 27% saham perusahaan itu, dituduh meraup keuntungan sebesar $13,3 miliar hingga $25,1 miliar (sekitar Rp225 triliun hingga Rp425 triliun).

Kepala pengacara Elon, Steven Molo, menyatakan dengan tegas,

"Tanpa Elon Musk, tidak akan ada OpenAI."

Mereka berargumen kalau Microsoft dan Sam Altman (CEO OpenAI) memanfaatkan sumber daya Elon Musk secara tidak adil untuk membangun tahta pribadi, yang secara efektif "memprivatisasi" apa yang seharusnya menjadi kepentingan publik.

Balasan OpenAI: "Kampanye Pelecehan"

OpenAI dan Microsoft tidak diam saja. Mereka telah resmi meminta pengadilan untuk tidak menggunakan analisis keuangan Wazzan, menyebutnya "dibuat-buat", "tidak dapat diverifikasi", dan "belum pernah ada sebelumnya". Mereka berargumen bahwa tidak masuk akal bagi seorang penyumbang untuk meminta kembali miliaran dari perusahaan non-profit hanya karena mereka ia membuat perusahaan pesaing (xAI). Tim hukum OpenAI mengklaim kalau Elon berusaha memanfaatkan proses penemuan persidangan untuk mengintip rahasia bisnis mereka.

OpenAI melabeli gugatan ini sebagai "kampanye pelecehan (harassment campaign)". Sam Altman menyiratkan kalau Elon memanfaatkan sistem hukum untuk memperlambat pesaing saat ia berusaha mengejar ketertinggalan dengan chatbot miliknya, Grok. Dalam sebuah pesan untuk investor, OpenAI memperingatkan bahwa Elon kemungkinan besar akan terus membuat "klaim provokatif dan menarik perhatian" demi memenangkan opini publik sebelum sidang dimulai.

Baca juga: Elon Musk: Sekolah Kedokteran Tak Guna, AI Segera Beri Perawatan Medis untuk Semua

Apakah Ini Benar-benar Soal Uang?

Bagi kebanyakan orang, Rp2,27 kuadriliun adalah angka yang tak terbayangkan. Namun bagi Elon Musk, yang kekayaan bersihnya mencapai sekitar $700 miliar, angka ini relatif kecil. Baru-baru ini, pemegang saham Tesla bahkan menyetujui paket gaji senilai $1 triliun untuknya, menjadikannya pejabat dengan bayaran tertinggi dalam sejarah.

Banyak analis industri percaya bahwa gugatan ini lebih tentang prinsip dan persaingan bisnis daripada sekadar uang. Elon dilaporkan merasa sangat terusik karena model "tertutup" OpenAI membantu Microsoft mendominasi pasar AI, sehingga menyulitkan xAI untuk bersaing secara adil. Elon memandang dirinya sebagai penjaga keamanan AI dan merasa bahwa jalan "komersial" yang ditempuh OpenAI saat ini sangat berbahaya bagi masa depan umat manusia.

Apa Langkah Selanjutnya?

Seorang hakim federal di Oakland, California, baru-baru ini menolak upaya OpenAI untuk membatalkan persidangan. Ini berarti kasus tersebut secara resmi akan dibawa ke sidang juri pada April 2026. Persidangan ini diprediksi akan menjadi salah satu peristiwa hukum paling berpengaruh dalam sejarah teknologi. Hasilnya tidak hanya akan menentukan nasib miliaran dolar, tetapi juga etika tentang bagaimana perusahaan AI seharusnya dijalankan di masa depan. Jika Elon menang, hal ini bisa memaksa OpenAI untuk membuka akses teknologinya kembali atau membayar ganti rugi terbesar dalam sejarah Silicon Valley.


Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)


author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar