CEO Google Dikritik Karyawannya Karena Standar Ganda Terkait Israel-Palestina

Tiara Qonita Hayashi Fazrin . November 12, 2023

Foto: REUTTERS/ Loren Elliott

Teknologi.id - Dalam sebuah pernyataan terbuka, sejumlah pekerja di Google menegaskan adanya dugaan praktik standar ganda di perusahaan tersebut terkait kebebasan berbicara mengenai agresi Israel di Palestina. Surat tersebut mengkritik dengan keras "kebencian, pelecehan, dan tindakan pembalasan" yang diyakini terjadi di dalam lingkungan perusahaan, terutama terhadap karyawan yang memiliki latar belakang Muslim, Arab, dan Palestina.

"Kami adalah karyawan Google yang beragama Islam, Palestina, dan Arab yang bergabung dengan rekan-rekan Yahudi yang anti-Zionis," demikian isi surat tersebut. "Kami tidak bisa tinggal diam menghadapi kebencian, pelecehan, dan pembalasan yang kami alami di tempat kerja saat ini."

Dalam surat tersebut, dijelaskan contoh-contoh perilaku di tempat kerja yang penuh emosi dan tidak pantas di Google. Beberapa pegawai, yang tidak disebutkan namanya, dituduh melakukan tindakan seperti menuduh warga Palestina mendukung terorisme, membuat fitnah terhadap Nabi Muhammad, dan merendahkan warga Palestina dengan menyebut mereka "binatang" di platform resmi Google. Kelompok ini mengkritik manajemen Google karena dinilai "berpangku tangan" dalam menangani dua kasus tersebut.

Baca juga: MUI Resmi Keluarkan Fatwa Haram Beli Produk Pendukung Israel

Para manajer juga disebutkan telah menyebut karyawan yang mengekspresikan empati terhadap penduduk Gaza sebagai "gila" dan "tersesat." Ada juga klaim bahwa para manajer bertanya secara terbuka kepada karyawan Arab dan Muslim apakah mereka mendukung Hamas karena keprihatinan mereka terhadap Palestina. Surat tersebut juga menyebutkan adanya upaya terkoordinasi untuk menyusuri kehidupan publik karyawan yang bersimpati pada Palestina dan melaporkan mereka ke Google dan penegak hukum dengan tuduhan "mendukung terorisme."

Beberapa manajer Google juga disebutkan menggunakan jabatan mereka untuk mempertanyakan, melaporkan, dan berupaya memecat karyawan yang menyatakan simpati terhadap penderitaan rakyat Palestina. Ada juga contoh lain, seperti seruan untuk menyumbang ke badan amal bagi warga Gaza yang direspons dengan komentar merendahkan, mengabaikan penderitaan warga Gaza, dan bahkan menyerukan boikot bantuan bagi warga sipil dengan alasan sekolah dan rumah sakit Palestina digunakan untuk "terorisme." Salah satu manajer juga disebutkan mendukung pengawasan terhadap karyawan di media sosial dan kemudian melecehkan mereka secara terbuka di platform kerja Google.

Karyawan-karyawan Google yang menulis surat terbuka kepada CEO Sundar Pichai dan CEO Google Cloud Thomas Kurian merasa khawatir akan keselamatan mereka jika mereka mencantumkan nama mereka. Mereka menuntut agar Google secara terbuka mengutuk "genosida yang sedang berlangsung di Palestina". Mereka merasa prihatin dengan peran Google dalam konflik Israel-Palestina. Mereka percaya bahwa teknologi Google dapat digunakan untuk memicu kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Mereka juga mendesak Google untuk membatalkan Project Nimbus, sebuah kesepakatan senilai $1,2 miliar untuk memasok AI dan teknologi canggih lainnya kepada militer Israel. Mereka percaya bahwa kesepakatan ini akan memungkinkan militer Israel untuk menggunakan teknologi Google untuk menargetkan dan membunuh warga Palestina.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(tqhf)

Share :