Google Sulap HP Android Bekas Jadi Server, Lebih Murah dan Ramah Lingkungan

Teknologi.id . June 29, 2026

HP Android bekas jadi server
Foto: Generated by AI

Teknologi.id - Google bersama para peneliti dari University of California San Diego (UCSD) menemukan cara baru memanfaatkan smartphone Android bekas agar tidak berakhir menjadi limbah elektronik. Alih-alih dibuang, ponsel lama diubah menjadi server berbiaya rendah yang mampu menjalankan berbagai tugas komputasi.

Pendekatan ini dinilai tidak hanya lebih hemat biaya, tetapi juga membantu mengurangi dampak lingkungan karena memperpanjang usia pakai perangkat yang masih memiliki performa baik.

Baca juga: 5 Tablet Android Murah 2026 untuk Pelajar, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Mengapa HP Bekas Dipilih?

Menurut Google Research, setiap smartphone memiliki jejak karbon yang dihasilkan sejak proses produksinya.

Karena itu, menggunakan kembali perangkat lama dianggap jauh lebih ramah lingkungan dibanding langsung membuangnya dan membeli perangkat baru.

Dalam penelitian tersebut, smartphone Google Pixel berusia sekitar tiga tahun masih menunjukkan performa single-core yang cukup tinggi saat diuji menggunakan benchmark SPEC.

Bahkan, pada beberapa skenario tertentu, performanya mampu melampaui sejumlah prosesor server kelas data center.

HP Bekas Diubah Menjadi Server

Agar dapat berfungsi sebagai server, para peneliti membongkar smartphone dan hanya mempertahankan motherboard yang berisi chipset atau system-on-chip (SoC).

Beberapa komponen yang dilepas meliputi:

  • Layar
  • Baterai
  • Kamera
  • Speaker
  • Rangka ponsel

Selanjutnya, sistem operasi Android diganti dengan Linux yang lebih umum digunakan pada server.

Dengan Linux, smartphone bekas dapat menjalankan berbagai aplikasi server, termasuk platform orkestrasi seperti Kubernetes.

Puluhan Smartphone Bisa Menyaingi Server

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas mampu menghasilkan daya komputasi yang setara dengan satu prosesor server dual-socket.

Meski belum bisa menggantikan server kelas atas untuk kebutuhan AI berskala besar, performanya dinilai cukup untuk berbagai kebutuhan komputasi ringan hingga menengah.

Bisa Digunakan di Sekolah dan Kampus

Salah satu penerapan yang telah diuji adalah di lingkungan pendidikan.

Tim UCSD berhasil menjalankan aplikasi pembelajaran menggunakan klaster yang terdiri dari sekitar 20 smartphone bekas.

Sistem tersebut mampu melayani lebih dari 75 mahasiswa secara bersamaan tanpa harus menggunakan layanan cloud yang lebih mahal.

Ke depan, tim peneliti bahkan berencana membangun pusat data lokal berisi sekitar 2.000 smartphone bekas untuk mendukung ratusan kelas sekaligus.

Lebih Murah Dibanding Membangun Server Baru

Selain mengurangi limbah elektronik, pendekatan ini juga menawarkan biaya yang jauh lebih rendah dibanding membangun server baru.

Hal tersebut menjadi semakin menarik di tengah meningkatnya harga komponen penting seperti:

  • Chip memori
  • Media penyimpanan
  • Prosesor server

Dengan memanfaatkan perangkat yang sudah tidak digunakan, institusi pendidikan maupun organisasi kecil dapat memperoleh kapasitas komputasi tanpa investasi besar.

Baca juga: Google Perkenalkan Googlebook, Laptop AI yang Gabungkan Android dan ChromeOS

Belum Cocok untuk Data Center AI Raksasa

Meski menjanjikan, para peneliti mengakui sistem ini belum ditujukan untuk menggantikan pusat data milik perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, maupun Nvidia.

Operator hyperscale membutuhkan perangkat keras khusus yang memiliki keandalan tinggi dan lebih mudah dikelola dalam jumlah besar.

Sebaliknya, server berbasis smartphone bekas lebih cocok digunakan oleh:

  • Kampus
  • Sekolah
  • Laboratorium penelitian
  • Organisasi nirlaba
  • Startup dengan anggaran terbatas

Kesimpulan

Penelitian Google bersama UCSD menunjukkan bahwa smartphone Android bekas masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai server murah dan ramah lingkungan. Dengan mengganti Android ke Linux dan memanfaatkan motherboard perangkat, puluhan HP bekas dapat menghasilkan performa komputasi yang cukup untuk berbagai kebutuhan pendidikan maupun penelitian.

Inovasi ini menjadi salah satu solusi menarik untuk mengurangi limbah elektronik sekaligus menghadirkan alternatif server berbiaya rendah di masa depan.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(dwk)

Share :