Teknologi Hologram Akan Gantikan Video Call?

Fikriah Nurjannah . December 14, 2021

foto: bbc.com

Dampak pandemic Covid-19 membuat banyak perjalanan secara global telah terhenti sejak Maret 2020. Hal ini memicu minat yang berkembang dalam penggunaan hologram, yakni proyeksi cahaya secara 3D dari penampilan seseorang. Hologram sebagai alternatif yang terlihat lebih nyata, lebih mendalam, dan memiliki sensorik yang lebih dibandingkan dengan video call.

Christoph Grainger-Herr, Chief Executive perusahaan jam tangan International Watch Co. (IWC) membagikan pengalamannya ketika ia tidak dapat melakukan penerbangan ke pameran dagang global Wacthes and Wonders di Shanghai, China karena pembatasan Covid-19. Dirinya memutuskan untuk bergabung dengan pertunjukkan sebagai life-size 3D hologram. Christoph Grainger-Herr muncul dalam resolusi 4K dan dirinya dapat berbicara, melihat dan mendengar orang-orang yang secara fisik menghadiri acara tersebut.

David Nussbaum, founder dan CEO perusahaan hologram AS Portl menjelaskan bahwa mereka menyiarkan Christoph Grainger-Herr dari kantornya langsung di Schaffhausen, Swiss, ke acara di Shanghai, China. “Dia melakukan tugasnya, mengobrol dengan eksekutif lainnya, dan bahkan meluncurkan jam tangan baru, semuanya dilakukan secara real time. Dan kami yang menyiarkannya!” jelas David.

Portl yang berbasis di Los Angeles adalah salah satu perusahaan terdepan teknologi dan David mengatakan bahwa mereka tidak dapat membuat portal mereka cukup cepat. Ukuran portal yang dimiliki Portl memiliki tinggi 8 feet atau 2,5 meter dengan dinding kaca, dan box yang telah terkomputerisasi. Didalamnya memunculkan hologram dengan ukuran manusia.

Portal tersebut memiliki speaker built-in, sehingga “suara” hologram dapat didengar. Didalamnya juga menyertakan kamera dan mikrofon sehingga pengguna hologram dapat melihat dan mendengar orang-orang di depan proyeksinya.

Tempat dimana seseorang berdiri secara fisik, maka dirinya bisa berada dimanapun dari mesin portal yang digunakannya. Hal yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat melakukan hal tersebut adalah sebuah kamera, latar belakang yang polos, dan satu set speaker, dan mikrofon lainnya. Selanjutnya, sistem perangkat lunak yang kendalikan oleh aplikasi Portl kemudian akan menghubungkan orang tersebut melalui internet kemanapun dan terhubung sebanyak yang diingikan.

David menjelaskan bahwa hampir tidak ada letensi atau penundaan. “Dan kalau bukan karena lembaran kaca yang berada di depan hologram, anda akan berpikir seseorang benar-benar berdiri disana. Bahkan kalau tidak ada cahaya di kaca yang membuat seseorang tidak bisa melihat pantulan/bayangan, maka anda akan berpikir seseorang benar-benar berada di tempat tersebut.

Mengenal Ameca, Robot yang Berekspresi Seperti Manusia

“Dalam beberapa tahun, hal ini akan menjadi cara biasa untuk berkomunikasi antar perusahaan atau kantor” tambah David.
Sementara itu, di Microsoft sendiri, teknologi komunikasi hologram berbasis pada kisaran headset disebut dengan HoloLens 2 yang dijual per-unitnya lebih murah daripada system Portl, tetapi hologram 3D yang tidak menampilkan secara nyata.

Ketika dua atau lebih orang yang menggunakan headset melakukan panggilan satu sama lain, maka hologram mereka yang diproyeksikan di depan masing-masing orang akan terlihat seperti avatar kartun, yang terlihat berdiri di tempat yang sama.

“itu akan memunculkan bahwa mereka berada di tempat fisik yang sama, dan mereka dapat berjalan di sekitar meja virtual dan dapat berkolaborasi dengan berbagai hal” kata Greg Sullivan, Direktur Mixed-Reality di Microsoft.

Disamping itu, Gordon Wetzstein seorang professor teknik elektro dan ilmu komputer di Stanford University mengatakan bahwa hologram adalah cara yang lebih efektif untuk berkomunikasi daripada konferensi video. “(Dengan hologram) anda dapat membuat kontak mata. Anda juga dapat membaca isyarat halus, seperti siapa yang sedang melihat anda” jelas Gordon.

Meski begitu, Gordon mengingatkan bahwa masalah yang dapat timbul di masa depan adalah jika gambar holografik ini menjadi sangat nyata sehingga untuk dapat membedakan hal tersebut dengan sosok asli dari seseorang akan menjadi sulit untuk dilakukan. Dirinya juga menuturkan, Jika seseorang menciptakan pengalaman yang sintetis, digital, dan memberikan pengalaman memandang secara nyata dan memberikan kesan dekat “get closer”, maka seseorang tersebut akan lebih rentan untuk dimanipulasi.

(fnj)

Share :