
Foto: NASA
Teknologi.id – Memasuki awal tahun 2026, dunia astronomi kembali digemparkan oleh penemuan luar biasa dari kedalaman antariksa. Para peneliti NASA, dengan memanfaatkan kecanggihan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), berhasil mengidentifikasi sebuah eksoplanet jenis baru yang menentang teori pembentukan planet tradisional. Eksoplanet yang diberi nama PSR J2322-2650b ini bukan sekadar bola gas biasa; ia memiliki atmosfer yang kaya akan karbon dan bentuk fisik yang ekstrem akibat pengaruh gravitasi dari bintang induknya yang sangat masif.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah astrofisika karena komposisi atmosfer planet tersebut tidak mengandung molekul umum seperti air, metana, atau karbon dioksida. Sebaliknya, planet ini didominasi oleh karbon molekuler, sebuah kondisi yang memicu spekulasi ilmiah mengenai adanya cadangan "harta karun" berupa kristal berlian yang terbentuk di bawah tekanan atmosfer yang luar biasa ekstrem.
Bentuk Lemon yang Eksentrik dan Tarikan Gravitasi Pulsar
PSR J2322-2650b terletak dalam sistem bintang yang sangat unik. Planet ini mengorbit sebuah pulsar—bintang neutron yang berputar sangat cepat dan memiliki massa setara Matahari namun berdiameter hanya sebesar sebuah kota. Jarak antara planet ini dengan bintang induknya tergolong sangat dekat, yakni hanya sekitar 1 juta mil (sekitar 1,6 juta kilometer). Sebagai perbandingan, jarak Bumi ke Matahari mencapai 93 juta mil.
Kedekatan ekstrem ini menyebabkan tarikan gravitasi pulsar meregangkan massa planet PSR J2322-2650b hingga tidak lagi berbentuk bulat sempurna, melainkan memanjang menyerupai buah lemon. Selain bentuknya yang ganjil, jarak yang sangat dekat ini membuat planet tersebut memiliki periode orbit yang luar biasa cepat; ia mampu menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi pulsarnya hanya dalam waktu 7,8 jam. Kecepatan orbit ini menciptakan kondisi lingkungan yang sangat dinamis dan panas, yang memengaruhi struktur fisik dan atmosfer planet secara keseluruhan.

Foto: Nasa
Baca juga: Meteor Jatuh Dekat Cirebon, NASA dan BRIN Ungkap Fakta Asal-usul Bola Api Tersebut
Atmosfer Kaya Karbon dan Potensi Hujan Berlian
Hal yang paling menarik dari PSR J2322-2650b bagi para ilmuwan adalah komposisi atmosfernya. Michael Zhang, seorang astrofisikawan dari Universitas Chicago yang menjadi peneliti utama dalam studi ini, mengungkapkan keterkejutannya saat menemukan jejak karbon molekuler (khususnya C2 dan C3) serta helium dalam jumlah besar. Berbeda dengan raksasa gas seperti Jupiter yang didominasi hidrogen, PSR J2322-2650b tampak seperti "sisa" dari proses evolusi bintang yang unik.
Kandungan karbon yang sangat pekat ini, jika berada di bawah tekanan dan suhu tinggi di lapisan dalam planet, diyakini dapat mengkristal menjadi berlian. Fenomena "hujan berlian" atau pembentukan lapisan berlian di kedalaman planet gas memang bukan teori baru, namun pada PSR J2322-2650b, konsentrasi karbonnya jauh lebih tinggi dibandingkan planet mana pun yang pernah diamati sebelumnya. Hal inilah yang membuat media menyebut planet ini sebagai "planet harta karun", merujuk pada potensi jumlah berlian masif yang tersimpan jauh di bawah awan gelap menyerupai jelaga yang menyelimuti permukaannya.
Misteri Asal-Usul: Planet atau Sisa Bintang?
Penemuan PSR J2322-2650b memicu perdebatan hangat mengenai klasifikasi benda langit ini. Para ilmuwan menduga sistem ini termasuk dalam kategori langka yang disebut sebagai "Black Widow System". Dalam sistem ini, sebuah pulsar perlahan-lahan "memakan" atau mengikis massa bintang pendampingnya melalui radiasi berenergi tinggi dan angin partikel. PSR J2322-2650b kemungkinan besar merupakan inti yang tersisa dari sebuah bintang katai putih yang telah kehilangan lapisan luarnya akibat agresi dari sang pulsar.
Meski demikian, International Astronomical Union (IAU) tetap mengklasifikasikannya sebagai eksoplanet karena massanya yang kini berada dalam rentang planet gas raksasa. Michael Zhang mencatat bahwa temuan ini "menyingkirkan semua mekanisme pembentukan planet yang selama ini dikenal". Kondisi di mana atmosfer planet kehilangan hidrogen dan justru kaya akan karbon murni merupakan anomali yang memaksa para ilmuwan untuk menulis ulang buku teks tentang bagaimana sistem tata surya di lingkungan ekstrem terbentuk.
Peran Krusial James Webb dalam Menembus Radiasi Pulsar
Keberhasilan pengamatan PSR J2322-2650b sangat bergantung pada instrumen inframerah milik Teleskop James Webb. Pulsar biasanya memancarkan radiasi elektromagnetik yang sangat kuat yang dapat mengaburkan pengamatan. Namun, karena JWST beroperasi pada panjang gelombang inframerah, sebagian besar radiasi pulsar tersebut tidak terdeteksi, memungkinkan para peneliti mendapatkan "spektrum bersih" dari atmosfer planet sepanjang orbitnya.
Maya Beleznay, peneliti dari Universitas Stanford, menjelaskan bahwa sistem ini memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk melihat sebuah planet dengan jelas tanpa terganggu oleh cahaya bintang induknya yang biasanya terlalu terang. Data spektrum yang dikumpulkan menunjukkan adanya awan tebal yang menyelimuti planet, yang kemungkinan besar terdiri dari partikel karbon padat. Hal ini memperkuat teori bahwa planet ini adalah laboratorium alami bagi pembentukan material berbasis karbon dalam skala kosmik.
Baca juga: NASA Temukan Bukti Mars Pernah Alami Hujan Tropis dan Iklim Hangat
Implikasi Bagi Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar eksoplanet unik, tetapi juga memberikan wawasan tentang nasib akhir sistem bintang di alam semesta. Studi ini, yang didanai oleh NASA dan Heising-Simons Foundation, telah diterima untuk dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters. PSR J2322-2650b menjadi bukti bahwa alam semesta menyimpan keberagaman yang jauh lebih ekstrem daripada yang bisa dibayangkan manusia.
Meskipun "harta karun" berlian di planet ini tidak mungkin untuk ditambang dalam waktu dekat mengingat lokasinya yang sangat jauh dan lingkungan pulsarnya yang mematikan bagi manusia, penemuan ini memberikan inspirasi besar bagi teknologi deteksi material di planet lain. Fokus masa depan kini beralih pada mencari planet-planet serupa yang mungkin memiliki komposisi material langka yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang kimia ruang angkasa dan potensi sumber daya di masa depan yang sangat jauh.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(WN/ZA)