Festero Mohamad Papeko dan Transformasi Operasional Digital Bank Sumsel Babel

firman . November 05, 2026

Title: Header - Description: Festero Mohamad Papeko dan Masa Depan Operasional Bank Sumsel Babel: Dari Penguatan Pondasi Operasional Menuju Layanan Digital dan Syariah

Bank daerah yang melayani dua provinsi, Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung, tidak bisa mengandalkan aplikasi semata. Cabang, agen, sistem pendukung, dan unit syariah harus bergerak dalam satu irama. Tanggung jawab menjaga irama itu kini berada di tangan Festero Mohamad Papeko, Direktur Operasional sekaligus Direktur Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Sumsel Babel.

Dari Divisi Syariah ke Kursi Direktur Operasional

Menurut profil resmi bank, Festero lahir di Jakarta pada 22 Juli 1980 dan menjabat Direktur Operasional sejak 2025. Kariernya ditempa di dalam bank sendiri: ia pernah memimpin Kantor Cabang Muntok pada 2016 hingga 2018, kemudian menjadi Pemimpin Divisi Usaha Syariah. Bank menyebut pengalamannya mencakup operasional, akuntansi, dan perbankan syariah, tiga bidang yang kini bertemu di meja kerjanya.

Menjaga Roda Bank saat Kursi Direktur Utama Kosong

Ujian terbesar datang pada 2025. Ketika posisi Direktur Utama kosong, Dewan Komisaris menunjuk Direktur Operasional sebagai Pejabat Pengganti Sementara (PPS) Direktur Utama, sementara pembidangan direksi lain dirangkap oleh direktur yang ada. Festero memegang peran ganda itu hingga Muhamad Suryadi ditetapkan sebagai Direktur Utama melalui RUPSLB pada 12 Februari 2026. Kini Festero kembali fokus sebagai Direktur Operasional merangkap Direktur UUS, berdampingan dengan Marzuki (Direktur Bisnis) dan Amrul Muslimin (Direktur Keuangan).

Selama masa itu kesinambungan layanan menjadi tolok ukur. Ketika kantor cabang baru di Rupit, Musi Rawas Utara, diresmikan, Festero menegaskan operasional dan pelayanan tetap berjalan normal selama masa transisi. Pada November 2025, PEFINDO mempertahankan peringkat idA+ dengan prospek stabil untuk bank, dan Festero menyebutnya cerminan komitmen seluruh jajaran menjaga stabilitas dan kredibilitas.

Efisiensi Operasional di Tengah Tekanan Margin

Pondasi operasional menjadi penting karena tekanan datang dari dua arah. Pada 2024, Bank Sumsel Babel membukukan laba Rp475,80 miliar, tetapi pendapatan bunga bersih turun 2,17 persen menjadi Rp2,37 triliun, sementara beban operasional lainnya naik 4,14 persen menjadi Rp1,66 triliun. Dalam situasi seperti itu, operasional yang rapi, efisien, dan aman menjadi penentu profitabilitas. Laporan tata kelola 2024 juga mencatat implementasi aplikasi Fraud Detection System (FDS), satu langkah penguatan pengamanan transaksi.

BSB Mobile: Transaksi Harian dalam Satu Aplikasi

Di lapisan layanan, wajah digital bank adalah BSB Mobile. Aplikasi ini kini melayani pembayaran QRIS, pembayaran PBB, transfer gratis, pembayaran zakat, wakaf, infak, dan sedekah, hingga pembelian paket data Telkomsel yang diluncurkan pada Juni 2026. Direktur Utama Suryadi menyebut pengembangan fitur itu sebagai upaya menghadirkan berbagai kebutuhan transaksi dalam satu ekosistem digital. Bank juga menautkan layanan nasabah prioritas (BSB Prioritas) dengan BSB Mobile, sementara agen BSB Lur membantu menjangkau warga yang jauh dari kantor cabang.

Syariah: Dari Skor 89,10 Persen hingga Peringkat Dua Nasional

Sisi syariah adalah kekuatan yang sudah teruji. Pada Oktober 2024, UUS Bank Sumsel Babel meraih predikat Sangat Bagus dengan skor 89,10 persen, setelah mencatat laba Rp80,39 miliar pada 2023 (naik 37,72 persen), pembiayaan Rp2,32 triliun, dan dana pihak ketiga Rp2,73 triliun. Festero, saat itu Pemimpin Divisi Usaha Syariah, mendampingi pengumuman capaian tersebut. Pada September 2026, UUS kembali diberitakan meraih peringkat 2 nasional dengan predikat Sangat Bagus.

Satu Meja untuk Dua Mandat

Merangkap operasional dan syariah berarti satu direktur harus menjaga dua agenda sekaligus: efisiensi dan keandalan layanan di seluruh jaringan, serta pertumbuhan unit syariah yang mulai dikenal secara nasional. Bank juga membuka kerja sama dengan pemerintah daerah, termasuk pembicaraan dengan Pemerintah Kota Palembang soal digitalisasi pembayaran dan layanan digital pemerintah. Setiap kerja sama baru menambah kebutuhan integrasi sistem yang harus dikejar tanpa mengorbankan stabilitas operasional.


Share :