.png)
High-performing technology team tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis atau jumlah engineer yang besar. Kinerja tim juga sangat dipengaruhi oleh cara anggota tim mengambil ownership, beradaptasi terhadap perubahan, berkolaborasi lintas fungsi, dan memahami value yang ingin dihasilkan bagi customer maupun bisnis.
Perspektif ini cukup kuat dalam perjalanan Vincentius Ivan, Chief Information Officer BFI Finance. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di software engineering dan banking, Vincentius menempatkan lingkungan kerja yang engaging, empowering, and enabling sebagai bagian penting dalam membangun organisasi teknologi. Sebelum bergabung dengan BFI Finance pada Agustus 2026, ia pernah memimpin IT Bank Jago serta Jakarta Engineering Hub di DKatalIS, termasuk mengembangkan self-managing team dan pendekatan customer-centric problem solving.
Ownership memberi ruang bagi tim untuk mengambil keputusan
High-performing team membutuhkan anggota yang tidak hanya menjalankan task, tetapi juga memahami masalah yang ingin diselesaikan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Dalam organisasi teknologi, terlalu banyak ketergantungan pada approval berlapis dapat memperlambat respons ketika kebutuhan bisnis dan customer berubah.
Vincentius menempatkan empowerment sebagai salah satu prinsip penting dalam membangun tim. Saat memimpin DKatalIS, ia mengembangkan struktur yang mendorong self-managing teams serta customer-centric problem solving. Tim diberi ruang untuk memahami konteks bisnis, mengevaluasi solusi, dan mengambil keputusan lebih dekat dengan masalah yang mereka hadapi.
Ownership seperti ini membantu engineering bergerak lebih dekat dengan kebutuhan bisnis. Engineer tidak hanya berfokus pada delivery, tetapi juga memiliki pemahaman terhadap alasan di balik sebuah fitur, risiko yang perlu diperhatikan, serta value yang diharapkan dari solusi yang dibangun.
Agility dibangun melalui kemampuan belajar dan beradaptasi
Agility dalam organisasi teknologi tidak cukup hanya ditunjukkan melalui sprint, Scrum, stand-up meeting, atau berbagai ceremony software development. Kemampuan beradaptasi justru terlihat dari seberapa cepat tim dapat memahami perubahan, mengevaluasi pendekatan yang digunakan, dan memperbaiki cara kerja secara berkelanjutan.
Dalam tulisannya Agile In Name Only, Vincentius menekankan bahwa Agile merupakan perjalanan untuk terus menemukan cara yang lebih baik dalam mengembangkan software. Ia juga menyoroti bahwa tidak ada satu metode yang cocok diterapkan secara sama pada seluruh organisasi.
Pandangan ini membuat agility lebih dekat dengan continuous learning dibanding sekadar penggunaan framework tertentu. Tim yang agile perlu memiliki ruang untuk bereksperimen, mengevaluasi hasil, dan menyesuaikan proses ketika kondisi berubah. Kemampuan tersebut menjadi penting dalam industri keuangan yang menghadapi perkembangan customer expectation, regulasi, dan teknologi secara terus-menerus.
Collaboration menjaga scalability dan sustainability tim
Pertumbuhan jumlah talent tidak otomatis menghasilkan organisasi teknologi yang lebih efektif. Ketika sebuah tim berkembang, silo antarunit, koordinasi yang semakin kompleks, dan perbedaan cara kerja dapat menjadi tantangan baru. Karena itu, collaboration menjadi salah satu fondasi penting agar pertumbuhan organisasi tetap sustainable.
Dalam interview Dash or Distance, Why Not Both?, Vincentius membahas pertumbuhan DKatalIS hingga sekitar 400 talent setelah sebelumnya memiliki sekitar 35 orang. Ia menggambarkan lingkungan kerja ideal sebagai komunitas tanpa silo, tempat orang dapat berbagi masalah, belajar bersama, dan berkolaborasi untuk menghasilkan value.
Kolaborasi seperti ini membantu organisasi mempertahankan knowledge ketika skala tim meningkat. Engineer tidak bekerja sebagai individu atau unit yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari komunitas yang saling berbagi pengalaman dan kemampuan. Bagi organisasi teknologi, pendekatan tersebut penting untuk menjaga kualitas, reliability, dan kecepatan eksekusi ketika kebutuhan bisnis semakin besar.
High-performing team perlu menghasilkan customer dan business value
Ownership, agility, dan collaboration pada akhirnya perlu menghasilkan dampak yang dapat dirasakan. High-performing technology team bukan hanya tim yang mampu menyelesaikan project lebih cepat, tetapi juga tim yang mampu memahami masalah customer dan menghasilkan solusi yang relevan bagi bisnis.
Vincentius menempatkan engineering dan data capability sebagai alat untuk menyelesaikan masalah kompleks dalam financial services. Dalam perjalanan profesionalnya, pendekatan customer-centric problem solving menjadi salah satu fokus yang konsisten, termasuk ketika membangun organisasi teknologi dan mengembangkan solusi digital.
Hal ini memperluas peran engineering. Tim teknologi tidak cukup hanya menerima requirement dan membangun fitur. Mereka perlu memahami konteks, menguji asumsi, mengevaluasi hasil, dan memastikan solusi yang dikembangkan benar-benar memberikan value bagi customer maupun bisnis.
High-performing technology team pada akhirnya dibangun melalui kombinasi antara capability dan culture. Ownership memberi ruang bagi tim untuk bertanggung jawab terhadap hasil, agility membantu organisasi terus belajar dan beradaptasi, sementara collaboration menjaga kemampuan tim untuk berkembang tanpa menciptakan silo.
Perjalanan Vincentius Ivan menunjukkan bahwa kekuatan organisasi teknologi tidak hanya terletak pada tools atau platform yang digunakan. Ketika tim memiliki ownership, kemampuan beradaptasi, dan budaya kolaborasi yang kuat, teknologi memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan inovasi yang scalable, sustainable, dan relevan terhadap kebutuhan bisnis.
Sumber