Sistem Kerja 4 Hari Ramai Diperbincangkan, Efektifkah?

Adhima Ratnaningtyas . June 08, 2022

Foto: Pexels

Teknologi.id - Akhir-akhir ini, banyak netizen yang membicarakan sistem kerja 4 hari dalam seminggu yang mulai banyak diterapkan di berbagai negara. 

Sistem bekerja setiap perusahaan memang berbeda-beda. Kini, kebanyakan perusahaan di Indonesia sudah menerapkan sistem 5 hari kerja, dari Senin hingga Jumat, dimana Sabtu dan Minggu adalah hari libur untuk para karyawan.

Penerapan hari kerja ini juga masih belum dilakukan oleh seluruh instansi, karena memang ada beberapa instansi yang hanya bisa menerapkan libur di hari Minggu, seperti instansi sekolah.

Namun, baru-baru ini, ada sebuah gagasan 4 hari kerja selama satu minggu yang mulai ramai dibicarakan, apalagi ketika netizen membicarakan soal work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi seorang pegawai. Banyak dari mereka yang ingin sistem ini diterapkan karena stress yang mereka alami selama bekerja.

Baca juga: 9 Pekerjaan Sektor Digital Bergaji Tinggi di Indonesia

Penerapan sistem 4 hari kerja ini sebenarnya bukan hanya bahasan sementara, namun sudah benar-benar diterapkan di beberapa negara, seperti Islandia, Selandia Baru, Jepang, Belgia, dan Jerman. Di Islandia, sistem ini justru sudah banyak diterapkan sejak 2015 lalu. Lalu, baru-baru ini, Inggris juga bergabung sebagai negara yang menjajal sistem 4 hari kerja ini. 

Alasan penerapan sistem kerja ini sendiri tidak jauh-jauh dari kesehatan mental para pegawai. Banyak pegawai yang mengeluh sulit untuk menerapkan work-life balance ketika mereka dituntut untuk bekerja selama 40 jam seminggu. Oleh karena itu, mulailah ada inovasi untuk memangkas jam kerja menjadi 32 jam atau 4 hari per minggu.

Penerapan sistem ini yang paling populer adalah yang dilakukan oleh Microsoft sejak Agustus 2019 lalu. Microsoft Jepang sendiri membagikan hasil dari uji coba penerapan sistem kerja mereka, dimana dengan total 2.300 karyawan, produktivitas meningkat sebanyak 40% dan total penjualan per orang pun meningkat dengan rata-rata 39.9%. Langkah yang sama pun diikuti oleh Unilever pada akhir 2020 lalu.

Baca juga: Ini Dia Prospek Kerja Jurusan Agroteknologi

Lantas, efektifkah penerapan sistem ini? Di Indonesia sendiri, presentasi tingkat stress yang diungkapkan oleh para pegawai adalah sekitar 75%. Sementara itu, UU Cipta Kerja pun masih mewajibkan karyawan memenuhi 40 jam kerja per hari. Karena itu, penggunaan sistem ini mungkin tidak dapat diterapkan untuk seluruh instansi, karena ada beberapa instansi yang memang membutuhkan pegawainya selama hari kerja Senin hingga Jumat, apalagi instansi yang bergerak di bidang jasa.

Meski terbukti efektif digunakan di perusahaan besar seperti Microsoft dan Unilever, sistem ini mungkin kurang cocok diterapkan di perusaan startup dengan sistem kerja serba cepat dan juga kejar target. 

Tetapi, ada solusi lain yang terbukti bisa membantu mengurangi stress pegawai yaitu dengan menerapkan WFH atau Work From Home. Dengan sistem WFH, karyawan tidak perlu datang ke kantor dan bisa melakukan semua pekerjaan di rumah, sehingga stress yang mereka alami pun mungkin akan berkurang.

(AR)

Share :