
Foto: Freepik
Teknologi.id - Perkembangan riset vaksin kembali menunjukkan harapan baru dalam melawan HIV. Para ilmuwan kini mengembangkan pendekatan inovatif berbasis DNA yang dinilai mampu mengarahkan sistem imun secara lebih spesifik dalam mengenali virus. Teknologi ini diyakini dapat menjadi langkah penting dalam upaya menemukan vaksin HIV yang selama ini sulit diwujudkan.
Temuan tersebut dilaporkan dalam jurnal ilmiah Science pada awal Februari 2026, dan menjadi sorotan karena menggunakan pendekatan yang tidak biasa, yakni teknologi “DNA origami”. Metode ini memungkinkan struktur DNA dibentuk secara presisi untuk membantu sistem imun mengenali target virus dengan lebih akurat.
Baca juga: MIT Temukan Cara Awet Muda dengan Terapi Sel Imun Berbasis mRNA
Tantangan Besar dalam Pengembangan Vaksin HIV
HIV dikenal sebagai virus yang sangat kompleks. Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan vaksinnya adalah kemampuan virus ini untuk terus bermutasi, terutama pada protein permukaannya. Akibatnya, antibodi yang efektif terhadap satu varian belum tentu mampu melawan varian lainnya.
Untuk mengatasi hal ini, vaksin HIV perlu merangsang pembentukan broadly neutralizing antibodies (bNAbs), yaitu antibodi yang mampu mengenali bagian virus yang relatif stabil dan jarang berubah.
Salah satu target utama dalam riset ini adalah antibodi VRC01, yang dikenal mampu mengenali bagian penting pada virus HIV, yakni area yang digunakan virus untuk masuk ke sel imun. Bagian ini relatif lebih stabil dibandingkan struktur lainnya, sehingga menjadi sasaran ideal. Namun, tantangannya terletak pada fakta bahwa sel B yang bisa menghasilkan antibodi tersebut jumlahnya sangat terbatas di dalam tubuh.
Hal ini membuat vaksin konvensional kesulitan untuk “memancing” respons yang tepat. Menurut Raiees Andrabi, mengaktifkan sel B langka tersebut merupakan salah satu hambatan utama dalam merancang vaksin HIV yang efektif.
Teknologi DNA Origami: Pendekatan Baru
Berbeda dari vaksin tradisional yang menggunakan protein sebagai kerangka, pendekatan DNA origami memanfaatkan struktur DNA tiga dimensi yang dilipat secara presisi. Struktur ini berfungsi sebagai “kerangka” untuk menampilkan antigen HIV, yaitu bagian virus yang dikenali oleh sistem imun.
Kelebihan utama metode ini adalah kemampuannya mengurangi respons imun yang tidak relevan. Pada vaksin berbasis protein, sistem imun sering kali justru bereaksi terhadap kerangka protein tersebut, bukan hanya pada antigen utama.
Dengan menggunakan kerangka DNA, respons imun menjadi lebih fokus pada target yang diinginkan. Hal ini terbukti dalam uji coba pada tikus, di mana vaksin berbasis DNA origami mampu menghasilkan hingga tiga kali lebih banyak sel B memori dibandingkan vaksin berbasis protein generasi terbaru.
Profesor dari Massachusetts Institute of Technology, Mark Bathe, yang terlibat dalam penelitian ini, menyebut hasil tersebut sebagai potensi dalam dunia vaksin dan imunoterapi. Sementara itu, peneliti HIV dari Weill Cornell Medicine, John Moore, menilai pendekatan ini menjanjikan karena mampu mengurangi “gangguan” dari respons imun yang tidak relevan.
Penyempurnaan Desain Vaksin
Dalam studi ini, peneliti mengembangkan antigen HIV yang dirancang menyerupai bagian penting virus, sehingga bisa langsung berinteraksi dengan sel B yang dibutuhkan. Pendekatan ini diharapkan mampu membuat respons imun menjadi lebih terarah sejak awal.
Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology menjelaskan bahwa penggunaan kerangka DNA membantu meminimalkan respons imun yang tidak diperlukan, sehingga tubuh dapat lebih fokus mengenali antigen utama dari virus HIV. Pada tahap awal, hasil yang diperoleh belum sepenuhnya optimal karena partikel vaksin belum mampu menjangkau area penting di kelenjar getah bening, tempat sel B berkembang. Setelah dilakukan perbaikan, struktur DNA dibuat lebih rapat dan efisien agar dapat mencapai lokasi tersebut.
Selain itu, tim juga menambahkan komponen pendukung untuk membantu aktivasi sel T, sehingga respons imun yang terbentuk menjadi lebih kuat.
Baca juga: Sintesis Verticillin A Berhasil! Peneliti MIT Temukan Kunci Basmi Kanker Otak
Berpotensi diterapkan pada Virus dengan Mutasi Tinggi

Foto: Freepik
Meskipun hasilnya terlihat menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap uji coba hewan. Artinya, efektivitas dan keamanannya pada manusia masih perlu diuji lebih lanjut melalui serangkaian uji klinis. Para ahli juga menekankan bahwa vaksin HIV kemungkinan tidak cukup diberikan dalam satu atau dua dosis saja.
Dibutuhkan strategi imunisasi bertahap untuk membangun respons imun yang kuat dan tahan lama. Meski begitu, pendekatan DNA origami ini dianggap sebagai langkah besar dalam upaya panjang melawan HIV.
Meski masih dalam tahap awal, metode berbasis DNA origami ini dipandang sebagai langkah penting dalam pengembangan vaksin HIV. Selain itu, pendekatan serupa juga berpotensi diterapkan pada virus lain yang memiliki tingkat mutasi tinggi.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)