
Teknologi.id – Tarif Transjakarta yang selama ini dipatok Rp3.500 untuk hampir seluruh rute berpotensi mengalami perubahan dalam waktu dekat. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengkaji skema tarif baru yang disesuaikan dengan jarak tempuh perjalanan dan kualitas layanan.
Jika kebijakan ini diterapkan, era tarif flat Rp3.500 yang telah berlaku selama lebih dari dua dekade akan segera berakhir. Penyesuaian tarif dinilai perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik sekaligus menyesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Tarif Transjakarta Rp3.500 Dinilai Sudah Tidak Relevan
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menilai tarif Rp3.500 untuk seluruh perjalanan sudah tidak lagi sesuai, terutama untuk rute-rute jarak jauh yang melayani kawasan Jabodetabek.
Menurutnya, tarif yang sama untuk perjalanan pendek maupun perjalanan panjang tidak mencerminkan biaya operasional yang sebenarnya.
Salah satu contoh yang disorot adalah rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta (SH2). Rute tersebut saat ini masih dikenakan tarif Rp3.500 selama masa uji coba.
Padahal, jika dibandingkan dengan moda transportasi lain yang melayani tujuan serupa, tarifnya jauh lebih tinggi.
Tarif Transjakarta Tidak Pernah Naik Selama 21 Tahun
Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza, mengungkapkan bahwa tarif Transjakarta telah bertahan di angka Rp3.500 sejak tahun 2005.
Selama kurun waktu tersebut, berbagai biaya operasional mengalami kenaikan yang signifikan. Bahkan, Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta yang pada 2005 berada di kisaran Rp800 ribu kini telah meningkat menjadi sekitar Rp6 juta.
Artinya, terjadi kenaikan UMP hingga sekitar tujuh sampai delapan kali lipat, sementara tarif Transjakarta tetap tidak berubah selama lebih dari dua dekade.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama pemerintah mempertimbangkan penyesuaian tarif.
Tarif Rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta Diperkirakan Rp10.000-Rp15.000
Fokus utama evaluasi tarif saat ini adalah layanan Transjabodetabek SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta.
Rute ini mulai beroperasi pada 12 Maret 2026 dan sejak awal diberlakukan tarif promosi Rp3.500 selama masa uji coba tiga bulan.
Setelah masa uji coba berakhir, pemerintah tengah memfinalisasi tarif permanen yang diperkirakan berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Besaran tarif final masih menunggu keputusan bersama antara Pemprov DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta.
Baca juga: Siap-Siap Mahal! Tarif Ojol Bakal Disesuaikan Ikuti Kenaikan BBM & UMR
Transjakarta Berpotensi Terapkan Tarif Berbasis Jarak
Selain kenaikan tarif, Pemprov DKI Jakarta juga sedang mengkaji penerapan sistem tarif berbasis jarak atau distance based fare.
Skema ini memungkinkan tarif perjalanan dihitung berdasarkan jarak yang ditempuh penumpang, mirip dengan sistem yang saat ini diterapkan pada KRL Commuter Line.
Melalui sistem tersebut, penumpang yang melakukan perjalanan lebih jauh akan membayar tarif lebih tinggi dibandingkan pengguna yang hanya menempuh jarak pendek.
Pemerintah menilai sistem ini lebih adil karena biaya yang dibayarkan penumpang dapat menyesuaikan penggunaan layanan secara nyata.
Apakah Tarif Transjakarta Naik untuk Semua Rute?
Untuk saat ini, wacana penyesuaian tarif masih difokuskan pada layanan Transjabodetabek dan rute-rute khusus yang memiliki jarak perjalanan cukup panjang.
Belum ada keputusan resmi mengenai kenaikan tarif untuk seluruh koridor Transjakarta di dalam wilayah Jakarta.
Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta memastikan tarif yang nantinya diberlakukan tetap mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan tidak mengurangi daya tarik transportasi umum.
Kapan Tarif Baru Transjakarta Diumumkan?
Pemerintah menyatakan keputusan final mengenai tarif baru Transjakarta akan diumumkan dalam waktu dekat setelah seluruh proses kajian selesai.
Jika disetujui, kebijakan ini akan menjadi perubahan besar dalam sistem tarif Transjakarta setelah lebih dari 20 tahun menggunakan tarif flat Rp3.500.
Dengan skema baru tersebut, diharapkan layanan Transjakarta dapat tetap berkelanjutan, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mendorong lebih banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi umum.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)