Varian Baru Covid-19 Botswana Dinilai Lebih Menular

Fabian Pratama Kusumah . November 26, 2021

Foto: Pemkab Pasuruan

Teknologi.id - Kasus pertama dari varian Covid-19 Botswana ditemukan pada 11 November, sementara temuan varian ini di Afrika Selatan tercatat ditemukan tiga hari kemudian.

Kasus yang ditemukan di Hong Kong adalah seorang pria berusia 36 tahun yang memiliki tes PCR negatif sebelum terbang dari Hong Kong ke Afrika Selatan, di mana ia tinggal dari 22 Oktober hingga 11 November.

Ia kemudian dites negatif saat kembali ke Hong Kong, tetapi dites positif pada 13 November saat menjalani karantina.

Beberapa ahli virologi di Afrika Selatan sudah khawatir, akibat peningkatan kasus baru-baru ini di Gauteng (daerah perkotaan Afsel yang terdiri dari Pretoria dan Johannesburg) di mana kasus B.1.1.529 telah terdeteksi.

Para ilmuwan telah memperingatkan kehadiran Covid-19 varian Botswana yang disebut membawa jumlah mutasi yang sangat tinggi.

Dilansir dari CNN Indonesia, varian B.1.1.529 dari Botswana ini memiliki 32 mutasi pada bagian protein lonjakan virus (spike protein).

Padahal bagian ini banyak digunakan berbagai vaksin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh melawan Covid-19.

Dr Tom Peacock, seorang ahli virologi di Imperial College London, menekankan varian ini perlu perhatian khusus.

Peacock sendiri adalah ilmuwan yang memposting rincian varian baru tersebut di situs berbagi genom.

"Harus dipantau ketat karena profil (mutasi) protein lonjakan yang mengerikan itu," kata Peacock pada akunnya di Twitter.

Baca juga: Garuda Buat Beyond Fresh untuk Atasi Covid-19 di Rumah Sakit

Meski demikian ia membuka dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi varian ini hanya akan menjadi cluster aneh yang tidak terlalu menular.

Kemungkinan kedua, menjadi sangat menular dan menjadi gelombang Covid-19 berikutnya seperti Delta.

Prof Francois Balloux, Direktur Institut Genetika UCL menyebut varian dengan mutasi yang sangat tinggi seperti kasus varian Botswana ini mungkin terjadi akibat ledakan tunggal mutasi yang terakumulasi.

Ia memperkirakan ledakan mutasi ini bisa terjadi akibat infeksi kronis Covid-19 pada seseorang dengan sistem kekebalan yang lemah, misal ketika pasien HIV/AIDS yang tidak bisa diobati terinfeksi Covid-19.

(fpk)

Share :