.jpg)
Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi
Teknologi.id - Google Photos telah menjadi salah satu produk teknologi yang paling dicintai di seluruh dunia. Bagi sebagian besar pengguna, aplikasi ini adalah solusi pintar yang cepat dan nyaman untuk mengelola koleksi kenangan digital. Fitur sinkronisasi otomatis antar perangkat, pengenalan wajah berbasis AI, hingga kemampuan mencari foto lama hanya dengan kata kunci tertentu membuat aplikasi ini terasa tak tergantikan. Namun, di balik segala kenyamanan tersebut, tersimpan sebuah kesalahpahaman yang bisa berakibat fatal: banyak orang menyamakan Google Photos dengan alat pencadangan (backup) data yang sesungguhnya.
Kenyataannya, Google Photos hanyalah alat manajemen dan sinkronisasi foto, bukan sistem manajemen pencadangan terpercaya. Mengandalkan aplikasi ini sebagai satu-satunya cara untuk mengamankan foto-foto berharga adalah langkah yang sangat berisiko. Satu kesalahan kecil saja dapat menyebabkan hilangnya memori bertahun-tahun secara permanen.
Baca juga: Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik
Memahami Perbedaan Antara Sinkronisasi dan Backup

Foto: Tangkapan layar Google Foto
Hal pertama yang harus dipahami oleh setiap pengguna adalah bahwa sinkronisasi (sync) dan pencadangan (backup) bekerja dengan prinsip yang bertolak belakang. Sinkronisasi bertujuan untuk memastikan data di dua atau lebih perangkat selalu konsisten dan terkini. Artinya, jika Anda menghapus sebuah foto di handphone, foto tersebut juga akan terhapus secara otomatis dari penyimpanan cloud dan perangkat lain yang terhubung.
Sistem ini berfokus pada konsistensi, bukan keamanan. Google Photos beroperasi tepat seperti ini. Memang terdapat folder sampah, namun item di dalamnya hanya bertahan selama 60 hari. Jika Anda secara tidak sengaja mengosongkan folder sampah tersebut, maka semua file akan hilang selamanya.
Sebaliknya, sistem pencadangan yang sesungguhnya bekerja dengan menciptakan salinan data independen dan terpisah dari sumber aslinya. Alat pencadangan dirancang untuk melindungi data dari kesalahan manusia, kerusakan perangkat, serangan siber seperti ransomware, hingga kehilangan akses akun. Dalam sistem pencadangan, penghapusan file di perangkat utama tidak akan memengaruhi salinan yang tersimpan di tempat lain.
Risiko Fatal Mengandalkan Google Photos
Mengapa memercayakan seluruh kenangan Anda hanya pada satu layanan seperti Google Photos dianggap berbahaya? Setidaknya ada beberapa risiko nyata yang sering kali baru disadari pengguna saat musibah sudah terjadi. Pertama, masalah pemblokiran akun. Akun Google bisa saja ditangguhkan atau dinonaktifkan secara sepihak karena berbagai alasan, mulai dari pelanggaran kebijakan, sistem otomatis yang salah mengidentifikasi aktivitas, hingga peretasan. Jika Anda kehilangan akses ke akun Google, maka secara otomatis Anda kehilangan akses ke seluruh koleksi foto Anda.
Kedua adalah aspek kualitas. Tergantung pada pengaturan yang dipilih, Google Photos sering kali mengompres foto dan video untuk menghemat ruang penyimpanan. Meskipun teknik kompresi modern saat ini cukup baik, proses tersebut tetaplah tidak lossless. Begitu foto dikompres dalam mode storage-saver, Anda tidak akan pernah bisa mengembalikannya ke resolusi dan kualitas aslinya. Selain itu, Google Photos tidak memiliki fitur versioning atau riwayat pemulihan. Jika sebuah folder rusak atau terhapus, Anda tidak mengembalikannya ke keadaan semula seperti yang biasa tersedia pada alat backup profesional.
Baca juga: Sering Keliru, Ini Bedanya Restart dan Shutdown HP untuk Atasi HP Lemot
Strategi Pencadangan yang Benar: Aturan 3-2-1
Jika Google Photos bukan solusi backup yang tepat, lalu apa yang harus digunakan? Para ahli teknologi sangat menyarankan penggunaan aturan 3-2-1 untuk perlindungan data. Prinsip ini berarti Anda harus memiliki 3 salinan data, yang disimpan dalam 2 jenis media penyimpanan berbeda (misalnya hard drive eksternal dan cloud), dan 1 salinan disimpan di tempat lain (off-site) untuk mengantisipasi bencana fisik.
Alat pencadangan yang sesungguhnya harus memberikan independensi (file tidak terhapus di semua tempat secara otomatis), histori, serta akses offline. Metode yang paling umum adalah menggunakan hard drive eksternal dengan pencadangan otomatis, sistem NAS (Network-Attached Storage), atau layanan cloud khusus pencadangan seperti Google Drive, Backblaze, atau iDrive.
Meski begitu, bukan berarti Anda harus berhenti menggunakan Google Photos. Aplikasi ini tetap sangat luar biasa jika digunakan sebagaimana mestinya, yaitu untuk melihat, mencari, dan membagikan memori secara praktis antar perangkat. Namun, pastikan Anda tidak menggunakannya sebagai benteng utama penyimpanan data Anda. Dengan memisahkan antara akses harian dan pencadangan jangka panjang, foto-foto berharga Anda akan tetap aman apa pun yang terjadi pada akun atau perangkat Anda.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(yna/sa)