Bos OpenAI Sam Altman: AGI Sudah Dekat, Kecerdasan Level "Dewa" (ASI) Segera Menyusul

Wildan Nur Alif Kurniawan . February 27, 2026


Foto: TED

Teknologi.id – Perkembangan akal imitasi atau Artificial Intelligence (AI) kini melesat dengan kecepatan eksponensial yang mencengangkan. Teknologi yang mulanya hanya difungsikan sebagai asisten obrolan virtual (chatbot) kini berevolusi menjadi entitas yang sanggup merancang kode pemrograman kompleks hingga memecahkan teka-teki matematika tingkat tinggi. Namun, semua itu ternyata baru sekadar "pemanasan".

Di tengah gegap gempita revolusi digital ini, CEO OpenAI, Sam Altman, melontarkan sebuah prediksi sekaligus peringatan keras yang sukses membuat gempar komunitas teknologi global. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) India-AI Impact 2026, Altman secara blak-blakan menegaskan bahwa era Artificial General Intelligence (AGI) sudah berada di pelatuk peradaban. Lebih mengejutkannya lagi, ia menyebut bahwa Artificial Superintelligence (ASI) yang kerap dijuluki sebagai kecerdasan level "dewa" akan menyusul dalam waktu yang jauh lebih singkat dari perkiraan siapa pun.

Bagi Anda yang tengah mengikuti laju disrupsi teknologi atau khawatir akan dampaknya terhadap masa depan karier dan kehidupan, berikut adalah bedah mendalam mengenai peringatan Sam Altman dan apa arti AGI serta ASI bagi peradaban kita.

Baca juga: Bos OpenAI Sam Altman: Dunia Tak Peduli Ide, Eksekusi yang Utama

1. AGI: "Cawan Suci" Industri Teknologi yang Kini di Depan Mata

Dalam hierarki kecerdasan buatan, model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini yang kita gunakan saat ini masih berada di tahap Narrow AI (AI Sempit). Mereka hanya dilatih untuk spesialisasi tugas tertentu seperti merangkum teks, melukis gambar, atau menulis kode logika.

Sebaliknya, AGI (Artificial General Intelligence) adalah "cawan suci" (holy grail) dari ilmu komputer. AGI adalah wujud kecerdasan mesin serbabisa yang daya nalar kognitifnya setara dengan otak manusia secara umum.

  • Belajar Mandiri: AGI tidak perlu diprogram ulang secara kaku untuk setiap tugas baru. Ia bisa beradaptasi, merencanakan sesuatu, dan mencari solusi atas masalah yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.

  • Operasional Setara Ahli: Mesin level AGI dapat beroperasi menyamai kapasitas intelektual seorang ilmuwan yang melakukan riset sains baru, pengacara yang menganalisis celah hukum, hingga dokter yang mendiagnosis penyakit kompleks.

"AGI terasa sudah cukup dekat pada titik ini," ujar Sam Altman di panggung KTT tersebut. Ia meminta publik untuk menengok kembali kondisi enam tahun lalu; bayangan bahwa sebuah mesin bisa meriset sains secara mandiri kala itu dianggap sebagai mimpi di siang bolong, namun kini prototipenya sudah beroperasi di laboratorium OpenAI.

Baca juga: Artificial General Intelligence: Ancaman, Peluang, atau Lawan Baru Manusia?

2. Efek Bola Salju: Titik Lepas Landas (Takeoff) yang Super Cepat

Pernyataan Altman bukanlah isapan jempol belaka. Di internal OpenAI, akselerasi pengembangan daya komputasi dan pemodelan mandiri bergerak dengan sangat masif. Bos OpenAI itu meramalkan bahwa fase takeoff (titik lepas landas) peralihan teknologi menuju AGI tidak akan berjalan lambat secara linear, melainkan melompat secara dramatis.

Ketika sebuah AGI yang setara dengan manusia berhasil diciptakan, AI tersebut dapat disuruh untuk meriset dan mengembangkan model AI generasi berikutnya. Kondisi di mana AI sanggup memperbaiki "dirinya sendiri" secara terus-menerus tanpa campur tangan manusia inilah yang akan memicu efek bola salju teknologi. Kecepatan evolusi ini diyakini akan jauh mengungguli prediksi awal para pesimis di lembah silikon (Silicon Valley).

3. Ancaman Disrupsi Terbesar: Datangnya Kecerdasan Level "Dewa" (ASI)

Hal yang paling menyita perhatian sekaligus memicu kekhawatiran global adalah pernyataan Altman mengenai fase setelah AGI. Ia menyinggung kedatangan wujud AI tertinggi, yakni Artificial Superintelligence (ASI).

Jika AGI memiliki kecerdasan kognitif yang "hanya" setara dengan rata-rata manusia, maka ASI berada pada tingkatan yang radikal. ASI dideskripsikan sebagai kecerdasan absolut yang melampaui batas kepintaran gabungan dari seluruh manusia-manusia paling genius di bumi, dalam semua aspek disiplin ilmu secara kolektif.

  • "Mengingat apa yang sekarang saya perkirakan sebagai fase takeoff yang lebih cepat, saya rasa superintelijen (ASI) tidak terlalu jauh (setelah AGI tercapai)," tegas Altman memaparkan prediksinya.


Foto: AiFA LABS

Mesin level ASI berpotensi sanggup menciptakan obat penawar untuk penyakit yang belum bisa disembuhkan manusia, mendesain teknologi energi fusi tanpa batas, hingga menyelesaikan krisis iklim. Namun di sisi kepingan uang logam yang berbeda, ASI juga memegang kendali penuh atas sistem keamanan, ekonomi, dan senjata dunia jika tidak dikerangkeng dengan protokol etika yang sangat ketat.

Prediksi berani dari sang nakhoda pencipta ChatGPT ini merupakan sinyal merah bagi dunia internasional. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mesin yang jauh lebih pintar dari penciptanya akan lahir, melainkan kapan, dan sejauh mana pemerintah, pembuat regulasi, serta masyarakat sipil siap menghadapi guncangan disrupsi terbesar dalam sejarah umat manusia ini.



Baca berita dan artikel lainnya di Google News


(wn/sa)

Share :