Varian Corona Delta di Jakarta Hingga Kudus Berbahaya?

Fabian Pratama Kusumah . June 15, 2021

Foto: Dinkes Sumsel

Teknologi.id - Pada bulan Mei 2021, WHO menyatakan strain B1617.2 sebagai varian 'Delta' dari SARS-CoV-2.

Varian itu diidentifikasi sebagai salah satu penyebab gelombang kedua infeksi virus corona yang menghantam India di awal tahun ini.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, melaporkan perkembangan kasus Corona di Indonesia kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Budi menyebut Corona varian Delta mendominasi di Kudus, Bangkalan dan Jakarta.

"Kami juga menambahkan melaporkan juga ke beliau kenapa ini penting karena beberapa daerah seperti Kudus kemudian, DKI Jakarta dan juga di Bangkalan,”

“Memang sudah terkonfirmasi varian deltanya atau B1617.2 atau juga varian dari India mendominasi," kata Budi dalam konferensi pers, Senin (14/3/2021).

Baca juga: Lokasi Vaksinasi COVID-19 Kini Ada Di Google Maps

Budi mengatakan varian ini lebih cepat penularannya. Karena itu, dia meminta penerapan protokol kesehatan diperketat.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasi di jurnal The Lancet, peneliti dari Skotlandia melihat orang yang terinfeksi varian Delta lebih mungkin dirawat di rumah sakit (RS).

Hal ini diketahui setelah peneliti melihat data 19.543 kasus COVID-19 di Skotlandia yang 377 di antaranya dirawat di RS.

Peneliti menemukan dari 19.543 kasus positif, sebanyak 7.723 kasus spesifiknya disebabkan oleh Corona varian Delta. Ada sebanyak 134 orang yang terinfeksi varian Delta membutuhkan perawatan.

Ahli kesehatan publik Profesor Chris Robertson dari University of Strathclyde mengatakan ini artinya varian Delta bisa memiliki risiko menyebabkan hospitalisasi sampai dua kali lipat.

Vaksin yang tersedia saat ini masih disarankan peneliti untuk mengurangi ancaman gejala parah dari varian Delta.

Vaksin Corona Pfizer dan AstraZeneca disebut 90 persen efektif mencegah risiko rawat inap pada pasien COVID-19 akibat varian Delta (B1617.2).

Varian asal India ini sempat ditakutkan para ahli lebih mudah menular dan memiliki kemampuan 'kabur' dari proteksi vaksin.

Baca juga: Berbagai Negara Curiga Covid-19 Berasal dari Lab Wuhan

Ini terungkap dalam riset terbaru oleh Public Health England (PHE), Senin (14/6/2021). Disebutkan, vaksin Pfizer/Biontech COVID-19 96 persen efektif terhadap rawat inap akibat varian Delta setelah 2 dosis.

Sementara Oxford/AstraZeneca 92 persen efektif melindungi pasien COVID-19 akibat varian Delta dari rawat inap.

Saat ini ilmuwan mendapati virus corona varian Delta telah bermutasi dan membentuk varian Delta Plus AY.1.

Data awal menunjukkan varian Delta Plus resisten terhadap pengobatan antobodi monoklonal, sebuah metode perawatan pasien Corona yang disahkan oleh Central Drugs Standard Control Organization (CDSCO).

Terbentuknya varian Delta plus merupakan hasil mutasi pada protein spike SARS-COV-2. Ini adalah protein spike yang sama yang memungkinkan virus masuk dan menginfeksi sel manusia.

Meski demikian para ilmuwan mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir karena prevalensi varian Delta Plus ini pun masih tergolong rendah.

 (fpk)

Share :