
Foto: Facebook
Teknologi.id – Raksasa teknologi Meta Platforms Inc. kembali membuat terobosan signifikan dalam ekosistem media sosial global. Perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut secara resmi mengumumkan peluncuran fitur terbaru berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diberi nama "AI Live Portrait".
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memanipulasi foto profil statis (diam) menjadi gambar bergerak yang tampak hidup, sebuah inovasi yang sebelumnya hanya dikenal dalam konsep fiksi ilmiah atau dunia sinematik seperti dalam seri film Harry Potter. Peluncuran ini menandai langkah strategis Meta dalam memperkuat dominasinya di ranah identitas digital dan Generative AI.
Transformasi Identitas Digital: Dari Statis Menjadi Dinamis
Dalam keterangan resminya, Meta menjelaskan bahwa AI Live Portrait dirancang untuk mengubah paradigma interaksi pengguna di media sosial. Selama hampir dua dekade, representasi pengguna di dunia maya (avatar/foto profil) terpaku pada format gambar diam (JPEG/PNG).
Melalui pembaruan perangkat lunak yang mulai didistribusikan secara bertahap mulai pekan ini, pengguna dapat mengunggah satu foto wajah, dan algoritma Deep Learning Meta akan menganalisis struktur biometrik wajah tersebut. Teknologi ini kemudian memprediksi dan mensimulasikan gerakan mikro (micro-gestures) yang natural.
Berbeda dengan format video pendek (GIF) atau Loop yang sering kali terlihat patah-patah dan berulang secara kasar, AI Live Portrait menghasilkan animasi yang sangat halus. Subjek dalam foto akan terlihat berkedip, bernapas dengan ritme teratur, memberikan senyuman tipis, hingga menolehkan kepala sedikit untuk merespons pengunjung profil.

Foto: Facebook
Mekanisme Teknis: Generative Adversarial Networks (GANs)
Secara teknis, fitur ini tidak "merekam" video. Fitur ini "menciptakan" gerakan dari data yang tidak ada sebelumnya. Meta menggunakan varian canggih dari Generative Adversarial Networks (GANs).
Sistem ini bekerja dengan memetakan titik-titik vital pada wajah pengguna (mata, hidung, mulut, garis rahang). Setelah peta wajah terbentuk, AI akan menyuntikkan data gerakan yang dipelajari dari jutaan sampel ekspresi manusia. Hasilnya adalah sebuah ilusi optik digital yang meyakinkan, di mana sebuah foto lawas tahun 1990-an pun dapat direkayasa seolah-olah sedang "hidup" di tahun 2026.
Meta menyediakan tiga mode utama bagi pengguna:
Mode Natural: Menampilkan gerakan standar manusia seperti berkedip dan bernapas, cocok untuk profil profesional di LinkedIn atau Facebook.
Mode Ekspresif: Meningkatkan intensitas interaksi, seperti senyum yang lebih lebar atau kontak mata yang mengikuti kursor pengunjung.
Mode Nostalgia: Sebuah fitur khusus yang dirancang untuk merestorasi foto hitam putih atau foto lama, memberikan warna (kolorisasi), sekaligus menganimasikannya.
Baca juga: Siap-siap Bayar! Meta Uji Coba Langganan WhatsApp & Instagram Demi AI
Isu Etika dan Protokol Keamanan Ketat
Peluncuran fitur manipulasi wajah berbasis AI tentu memicu kekhawatiran mengenai penyalahgunaan teknologi, khususnya terkait fenomena Deepfake dan pencurian identitas. Menanggapi hal tersebut, Meta menegaskan telah menerapkan standar keamanan berlapis.
Mark Zuckerberg, CEO Meta, dalam siaran persnya menyatakan bahwa transparansi adalah kunci dari fitur ini. Untuk mencegah misinformasi, setiap foto profil yang menggunakan teknologi AI Live Portrait akan secara otomatis dilabeli dengan dua metode penandaan:
Watermark Visual: Sebuah ikon kecil bertuliskan "AI" atau simbol bintang akan tersemat secara permanen di sudut foto, yang tidak dapat dipotong (crop) atau dihapus dengan mudah.
Metadata C2PA: Meta mengadopsi standar Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA). File gambar yang dihasilkan akan mengandung jejak digital terenkripsi yang memberitahu platform lain atau perangkat lunak verifikasi bahwa gambar tersebut adalah hasil rekayasa sintetis, bukan rekaman asli.
Selain itu, Meta membatasi penggunaan fitur ini pada tokoh publik dan politisi tertentu untuk menghindari manipulasi opini publik menjelang tahun-tahun politik di berbagai negara.
Strategi Menghadapi Kejenuhan Pasar
Para analis industri teknologi melihat langkah ini sebagai upaya Meta untuk menyegarkan kembali platform Facebook yang sering dianggap "kuno" oleh demografi pengguna muda (Gen Z dan Gen Alpha). Dengan menghadirkan elemen visual yang dinamis, Meta berharap dapat meningkatkan User Engagement (keterlibatan pengguna) dan Time Spent (waktu yang dihabiskan) di dalam aplikasi.
Fitur ini juga dipandang sebagai jembatan menuju visi Metaverse yang lebih luas, di mana batas antara realitas fisik dan representasi digital semakin kabur. Identitas digital yang "hidup" adalah fondasi bagi interaksi sosial masa depan yang dibayangkan oleh Meta.
Baca juga: Meta Akuisisi Manus Rp33 T! Teknologi AI Agent Kini Masuk ke Seluruh Produk Meta
Ketersediaan
Fitur AI Live Portrait mulai tersedia bagi pengguna Android dan iOS di wilayah Amerika Utara dan Eropa mulai 12 Februari 2026, dan akan diperluas ke pasar Asia, termasuk Indonesia, dalam beberapa minggu mendatang. Pengguna disarankan untuk memperbarui aplikasi Facebook dan Instagram mereka ke versi terbaru untuk menikmati fitur ini.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)