
Foto : Teknologi.id
Teknologi.id - Isu privasi kembali mengguncang dunia teknologi. Kali ini, Meta perusahaan induk WhatsApp ini diterpa tuduhan serius yang menyebut mereka mampu membaca isi pesan pribadi pengguna. Tuduhan tersebut langsung memicu kehebohan global, mengingat WhatsApp selama ini dikenal dengan klaim enkripsi end-to-end yang mampu menjaga kerahasiaan percakapan miliaran penggunanya di seluruh dunia.
Gugatan tersebut diajukan oleh sekelompok penggugat dari berbagai negara ke Pengadilan Distrik San Francisco, Amerika Serikat. Mereka menuding Meta dan WhatsApp tidak hanya menyimpan dan menganalisis data pengguna, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengakses seluruh isi pesan pribadi yang dikirim melalui platform tersebut.
Gugatan: Meta Disebut Menipu Pengguna Global
Dalam dokumen gugatan, para penggugat menyebut Meta dan jajaran pimpinan perusahaan telah menyesatkan publik. Mereka menilai klaim privasi WhatsApp hanyalah ilusi, sementara di balik layar perusahaan diduga tetap memiliki akses ke percakapan pengguna.
Sebagai dasar tuduhan, gugatan tersebut mengutip kesaksian seorang “whistleblower berani” yang mengklaim bahwa karyawan Meta dan WhatsApp dapat meminta akses untuk melihat pesan pengguna dengan prosedur yang disebut sederhana. Namun, gugatan ini menuai kritik karena tidak menyertakan penjelasan teknis maupun bukti konkret yang menjelaskan bagaimana sistem enkripsi WhatsApp bisa ditembus.Ketiadaan detail teknis ini membuat banyak pihak mempertanyakan kekuatan argumen para penggugat.
Baca juga: Jangan Salah Kirim! Ini Arti 21 Emoji WhatsApp Terpopuler 2026 yang Wajib Kamu Tahu
Enkripsi End-to-End Jadi Sorotan Utama

Foto : Tangkapan Layar WhatsApp
WhatsApp selama lebih dari satu dekade menjadikan enkripsi end-to-end sebagai fitur andalan. Dengan sistem ini, pesan dienkripsi di perangkat pengirim dan hanya bisa didekripsi di perangkat penerima. Artinya, bahkan WhatsApp sekalipun diklaim tidak memiliki kunci untuk membaca isi pesan.
Teknologi enkripsi yang digunakan WhatsApp berbasis protokol Signal, yang dikenal luas di kalangan pakar keamanan siber sebagai salah satu standar enkripsi paling kuat saat ini. Inilah alasan mengapa tuduhan bahwa Meta bisa membaca pesan WhatsApp langsung memicu perdebatan besar di komunitas teknologi.
Meta Tegas Membantah Tuduhan
Foto : Tangkapan Layar/Akun X WhatsApp
Menanggapi gugatan tersebut, Meta akhirnya buka suara. Perusahaan menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan bahkan tidak masuk akal. Juru bicara Meta menegaskan bahwa klaim pesan WhatsApp tidak dienkripsi adalah informasi yang sepenuhnya salah. “Segala klaim bahwa pesan WhatsApp milik banyak orang tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah dan tidak masuk akal,” ujar juru bicara Meta, dikutip dari PCMag.
Ia menambahkan bahwa WhatsApp telah menggunakan enkripsi end-to-end berbasis protokol Signal selama lebih dari sepuluh tahun. Meta bahkan menyebut gugatan tersebut sebagai karya fiksi dan menyatakan siap mengambil tindakan tegas terhadap isu yang tersebar tersebut.
Komentar Elon Musk dan Bos Telegram Ikut Memanaskan Situasi
Foto: Tangkapan Layar/Akun X Elon Musk
Kontroversi ini tidak berhenti di ruang sidang. Sejumlah tokoh teknologi ternama ikut angkat bicara, termasuk CEO Telegram Pavel Durov dan pemilik platform X, Elon Musk. Melalui unggahan di X, Musk menyebut WhatsApp tidak aman, sembari mengenalkan fitur X Chat sebagai alternatif. Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Head of WhatsApp, Will Cathcart. Ia menegaskan bahwa klaim dalam gugatan maupun komentar Musk tidak benar.
Baca juga: Laporan Reuters Bongkar “Akal-akalan” Meta Sembunyikan Iklan Penipuan
“Ini sepenuhnya salah. WhatsApp tidak bisa membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel Anda dan kami tidak dapat mengaksesnya,” tulis Cathcart dalam balasannya.
Cathcart juga menyebut gugatan ini sebagai upaya mencari perhatian media, bahkan menyinggung bahwa pihak penggugat berasal dari perusahaan yang sebelumnya membela NSO, pembuat spyware yang pernah menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah.
Privasi WhatsApp Menjadi Perhatian
Meski Meta membantah keras tuduhan tersebut, kasus ini kembali mengingatkan publik bahwa isu privasi digital tetap menjadi perhatian utama. Bagi pengguna, transparansi dan kepercayaan terhadap platform komunikasi menjadi hal krusial, terlebih di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan data.
Sambil menunggu hasil proses hukum, pengguna diimbau tetap memahami cara kerja fitur keamanan yang digunakan, termasuk enkripsi end-to-end, serta bijak dalam membagikan informasi pribadi. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan data akan terus menjadi sorotan utama, terutama bagi layanan yang digunakan miliaran orang setiap hari.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(ir/sa)