
Foto: HMSI
Teknologi.id – Sebuah laporan investigasi yang diterbitkan awal tahun 2026 mengungkap sisi gelap operasional Meta, induk perusahaan Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini dilaporkan telah menjalankan strategi "akal-akalan" untuk menyembunyikan iklan penipuan dari pantauan regulator pemerintah di berbagai belahan dunia. Bukannya melakukan pemberantasan total terhadap konten berbahaya, Meta justru dituding memanipulasi data transparansi mereka demi menghindari tekanan hukum dan kebijakan verifikasi yang ketat.
Temuan mengejutkan ini berawal dari laporan khusus Reuters yang didasarkan pada dokumen internal Meta selama periode empat tahun (2022-2026). Dokumen tersebut mencakup catatan dari tim keuangan, tim hukum, kebijakan publik, hingga divisi keamanan siber perusahaan. Dokumen-dokumen ini merinci bagaimana Meta secara sadar mengembangkan mekanisme untuk "membersihkan" hasil pencarian bagi regulator tanpa benar-benar mengurangi jumlah iklan penipuan yang beredar bagi pengguna umum.
Strategi Manipulasi "Ad Library"
Inti dari taktik Meta terletak pada eksploitasi fitur Ad Library (Perpustakaan Iklan). Secara publik, Ad Library dipromosikan sebagai alat transparansi yang memungkinkan siapa saja, termasuk regulator dan peneliti keamanan siber, untuk menelusuri iklan yang sedang aktif di platform Meta. Fitur ini seharusnya menjadi garda terdepan untuk melacak iklan investasi palsu atau penipuan bermodus perdagangan.
Namun, laporan tersebut mengungkap bahwa Meta memiliki panduan internal untuk memetakan kata kunci (keywords) yang biasa digunakan oleh regulator saat melakukan penyelidikan. Setelah kata kunci tersebut teridentifikasi, tim internal Meta akan menjalankan proses penghapusan iklan yang terdeteksi sebagai penipuan secara otomatis di hasil pencarian Ad Library.
Hasilnya, ketika regulator mencari iklan mencurigakan, mereka akan mendapati jumlah iklan bermasalah yang sangat sedikit, memberikan kesan seolah-olah platform Meta sudah bersih. Padahal, bagi pengguna biasa yang tidak menggunakan kata kunci pengawasan tersebut, iklan-iklan penipuan masih terus muncul di beranda (feed) mereka. Trik ini menciptakan ilusi kepatuhan hukum yang sangat meyakinkan namun menyesatkan.
Baca juga: Meta Akuisisi Manus Rp33 T! Teknologi AI Agent Kini Masuk ke Seluruh Produk Meta
Berawal dari Krisis di Jepang hingga "Global Playbook"
Investigasi menunjukkan bahwa taktik ini pertama kali diadopsi secara luas di Jepang. Saat itu, pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan aturan verifikasi pengiklan yang sangat ketat akibat lonjakan iklan skema investasi palsu. Iklan-iklan tersebut sering kali menggunakan wajah publik figur populer yang dibuat dengan teknologi Deepfake atau kecerdasan buatan (AI).
Meta dilaporkan khawatir aturan verifikasi tersebut akan menambah beban operasional dan mengurangi pendapatan iklan mereka. Oleh karena itu, mereka "membersihkan" Ad Library di wilayah Jepang sehingga regulator setempat mengira masalah tersebut sudah teratasi, yang pada akhirnya membatalkan rencana pemberlakuan aturan verifikasi tersebut.
Setelah dianggap sukses di Jepang, Meta menyusun sebuah dokumen yang disebut sebagai “Global Playbook”. Dokumen ini menjadi panduan standar bagi kantor-kantor Meta di seluruh dunia untuk menyembunyikan iklan palsu. Strategi serupa kemudian diterapkan secara sistematis di pasar-pasar besar lainnya, termasuk:
Amerika Serikat: Menghadapi pengawasan dari FTC terkait penipuan konsumen.
Eropa: Menghindari denda besar dari Digital Services Act (DSA).
Australia & India: Merespons tekanan pemerintah terkait maraknya penipuan keuangan berbasis AI.
Brasil: Mengatasi isu penipuan identitas di platform sosial.

Foto: Reuters
"Sandiwara Regulasi" dan Kerugian Pengguna
Sandeep Abraham, seorang konsultan keamanan siber dan mantan penyelidik penipuan di Meta, menyebut tindakan ini sebagai “Regulatory Theater” atau sandiwara regulasi. Menurutnya, tindakan ini menyimpang jauh dari tujuan transparansi dan membahayakan jutaan pengguna. Dengan menyembunyikan bukti dari regulator, Meta secara tidak langsung membiarkan sindikat penipu terus beroperasi dan mengeruk keuntungan dari pengguna yang tidak curiga.
Laporan internal bahkan memberikan indikasi bahwa Meta mendapatkan keuntungan finansial yang signifikan dari iklan-iklan penipuan tersebut. Meskipun Meta mengeklaim telah menghabiskan miliaran dolar untuk keamanan, efektivitas dari pengeluaran tersebut kinFi dipertanyakan oleh banyak pihak.
Baca juga: Tantang Sora dan Veo, Meta Siapkan Mango Jadi Game Changer AI Visual di 2026
Tanggapan dan Pembelaan Meta
Menanggapi laporan yang beredar luas ini, pihak Meta secara tegas membantah tudingan manipulasi tersebut. Dalam pernyataan resminya, Meta mengeklaim bahwa penghapusan iklan dari hasil pencarian Ad Library adalah bagian dari upaya penegakan hukum internal yang sah. Mereka berargumen bahwa tim keamanan mereka bekerja siang malam untuk mendeteksi penipuan dan penghapusan iklan tersebut adalah bukti nyata dari efektivitas sistem mereka, bukan bentuk penyembunyian fakta.
Namun, argumen Meta ini sulit diterima oleh para ahli karena adanya bukti dokumen "Global Playbook" yang menunjukkan strategi yang sangat terencana untuk target spesifik (regulator). Skandal ini diprediksi akan memicu gelombang penyelidikan baru di berbagai negara, termasuk kemungkinan sanksi denda yang jauh lebih besar karena adanya unsur kesengajaan dalam mengelabui otoritas negara.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

Tinggalkan Komentar