
Foto: later.com
Teknologi.id – Pertarungan sengit di industri media sosial kini memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun TikTok mendominasi pasar video pendek berdurasi singkat (short-form video), Meta Platforms melalui fitur andalannya, Instagram Reels, dilaporkan berhasil membalikkan keadaan. Memasuki Januari 2026, Reels tidak hanya ramai diserbu oleh pengguna global, tetapi juga telah menjadi tulang punggung pendapatan iklan bagi perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut.
Fitur video vertikal ini kini telah berubah menjadi "mesin uang" yang sangat produktif, menggeser format konten tradisional seperti Feed dan Stories yang selama satu dekade terakhir menjadi primadona pengiklan.
Lonjakan Pendapatan Iklan: Reels Jadi Pilihan Utama Pengiklan
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen pasar Sensor Tower, lebih dari setengah total pendapatan iklan Instagram sepanjang tahun 2025 berasal dari Reels. Angka ini menunjukkan lompatan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan tahun 2024, di mana pangsa iklan Reels masih berada di angka 35%.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Para pengiklan global kini mulai memprioritaskan Reels sebagai kanal utama untuk menjangkau target audiens mereka, terutama generasi muda yang semakin enggan mengonsumsi konten video horizontal panjang seperti di YouTube atau konten statis di Feed.
Baca juga: Instagram dan TikTok Jadi Platform Utama Konten Video AI 2025
"Layanan lama melihat volume iklan bergeser secara masif. Pengiklan saat ini memprioritaskan Reels untuk menjangkau pengguna di tempat mereka menghabiskan waktu paling banyak," ungkap Abraham Yousef, Analis Wawasan Senior di Sensor Tower. Strategi Meta untuk menempatkan iklan di sela-sela konten video vertikal terbukti jauh lebih efektif dalam menangkap perhatian pengguna dibandingkan format iklan lainnya.

Foto: Meta
Waktu Luang Pengguna: Reels Mendominasi Perhatian
Keberhasilan monetisasi ini berbanding lurus dengan tingkat keterlibatan (engagement) pengguna. Di Amerika Serikat, Reels tercatat menyumbang 46% dari total waktu yang dihabiskan pengguna saat membuka aplikasi Instagram pada tahun lalu. Angka ini naik 37% dari tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa algoritma rekomendasi Meta semakin mahir dalam membuat pengguna "betah" berlama-lama di dalam aplikasi.
Tidak hanya di Instagram, tren serupa juga merambah ke Facebook. Di platform tertua milik Meta tersebut, Reels sudah menyumbang 29% dari waktu penggunaan. Secara keseluruhan, kehadiran video vertikal ini telah mendongkrak jumlah pengguna aktif harian (Daily Active Users) Instagram sebesar 2% di tengah persaingan pasar yang sangat jenuh.
Peran Vital AI dalam Menumbangkan Dominasi TikTok
Salah satu kunci sukses Reels dalam menyaingi TikTok adalah implementasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sangat masif. Meta telah merombak total sistem rekomendasi mereka agar mampu menyajikan konten yang benar-benar dipersonalisasi untuk setiap individu.
Dan Flax, Analis Riset Senior di Neuberger Berman, menjelaskan bahwa nilai jual platform media sosial saat ini bukan lagi sekadar fitur, melainkan kemampuan AI dalam menyajikan konten yang relevan. "Mesin rekomendasi yang dibangun Meta menjadi jauh lebih cerdas karena setiap detik mereka mendapatkan jutaan sinyal dari apa yang ditonton pengguna. Ini membantu mereka memprediksi video apa yang akan disukai pengguna berikutnya, dan pada akhirnya tercermin dalam angka pendapatan yang luar biasa," kata Flax.
Dengan AI, Meta mampu mempelajari durasi tontonan, interaksi suka (like), hingga perilaku berbagi konten untuk menyempurnakan algoritma Reels agar setara, atau bahkan melampaui keakuratan algoritma "For You Page" (FYP) milik TikTok.
Baca juga: Fitur Your Algorithm Dirilis! Ini Cara Setting Reels Instagram Agar Lebih Relevan
Tantangan di Balik Kesuksesan
Meskipun saat ini "mesin uangnya ngebul", perjalanan Reels tidaklah selalu mulus. CEO Meta, Mark Zuckerberg, sebelumnya sempat mengakui bahwa monetisasi untuk Reels merupakan sebuah tantangan besar. Pada tahun-tahun awal peluncurannya, efisiensi monetisasi video pendek cenderung lebih rendah dibandingkan dengan Feed utama Instagram yang sudah mapan.
Zuckerberg pernah mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pertumbuhan Reels yang terlalu cepat bisa "memakan" waktu yang dialokasikan pengguna untuk Feed, sehingga berisiko mengurangi pendapatan secara keseluruhan jika sistem iklan di Reels belum optimal. Namun, data di awal 2026 ini menunjukkan bahwa Meta telah berhasil melewati masa transisi tersebut dan menemukan formula yang tepat untuk menyeimbangkan antara keterlibatan pengguna dan profitabilitas iklan.
Dampak bagi Kreator dan Masa Depan Industri
Bagi para kreator konten, kesuksesan Reels ini membawa angin segar sekaligus persaingan yang lebih ketat. Dengan mengalirnya dana iklan ke fitur tersebut, peluang monetisasi bagi kreator melalui program bagi hasil iklan dan kerja sama brand menjadi jauh lebih terbuka lebar. Banyak kreator yang sebelumnya hanya fokus di TikTok kini mulai melirik kembali Instagram sebagai platform utama untuk mendulang pundi-pundi rupiah.
Fenomena ini juga menandai akhir dari era konten statis. Industri media sosial di tahun 2026 kini sepenuhnya bergerak ke arah video pendek yang didorong oleh algoritma AI. Keberhasilan Reels membuktikan bahwa perusahaan teknologi besar yang mampu beradaptasi dengan tren visual terbaru dan menguasai teknologi AI akan tetap menjadi pemimpin pasar di tengah munculnya berbagai aplikasi baru yang mencoba menawarkan diri sebagai "pengganti TikTok".
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar