Foto: ISRO

Teknologi.id –  India mencetak sejarah sebagai negara pertama yang mendarat di kutub selatan Bulan. Bersamaan dengan itu, India resmi bergabung dalam liga negara yang sukses mendarat di Bulan bersama Amerika Serikat, eks negara Uni Soviet, dan Cina.


Pada Jumat (14/07) lalu, pesawat ruang angkasa Chandrayaan-3 diluncurkan dari Satish Dhawan Space Center, memboyong wahana antariksa Vikram yang di dalamnya terdapat kendaraan penjelajah seberat 26 kg bernama Pragyaan. Sesuai rencana, pada Rabu (23/08) pukul 19.34 WIB, Chandrayaan-3 pun sukses mendarat di Bulan. Perdana Menteri India, Narendra Modi menyambut kabar ini penuh sukacita dengan memberi selamat kepada Indian Space Research Organisation (ISRO). Kepala ISRO, Sreedhara Panicker Somanath pun turut bersukacita.


Perdana Menteri Modi juga mengatakan, kesuksesan misi ini tak hanya milik India, tapi juga seluruh umat manusia dan kelak akan membantu misi-misi ke Bulan berikutnya dari negara-negara lain.

Baca juga: NASA Bakal Kirimkan Astronot Perempuan Pertama Ke Bulan

Wahana antariksa Vikram kini telah membuka akses bagi Pragyaan untuk mulai menjelajahi permukaan Bulan. Penjelajah ini akan mengembarai bebatuan dan kawah-kawah di Bulan sambil mengumpulkan data serta gambar yang nantinya akan dikirim ke Bumi untuk dianalisis. ISRO mengatakan, untuk melaksanakan ini, Pragyaan memboyong dua instrumen yang akan mengungkap jenis mineral pada permukaan Bulan seraya mempelajari komposisi kimiawi tanahnya. Penjelajah ini bergerak dengan kecepatan 1 cm per detik dan akan meninggalkan jejak logo ISRO di permukaan Bulan seiring berjalan.


Misi Chandrayaan-3 bukanlah satu-satunya yang mengincar kutub selatan Bulan. Pada Rabu (09/08) lalu, Rusia menyusul peluncuran India dengan wahana antariksa Luna 25 dari Kosmodrom Vostochny. Kedua peluncuran ini disebut-sebut sebagai sebuah perlombaan meskipun India meluncurkan Chandrayaan-3 26 hari lebih awal. Hal ini dikarenakan India mengambil lintasan yang lebih tidak tergesa-gesa yaitu berdurasi lima minggu, di mana Chandrayaan-3 mengorbit berulang kali di sekitar Bumi sebelum mencapai Bulan. Sementara itu, Luna 25 dikirim melalui jalur kilat, yang mana direncanakan mencapai Bulan dalam kurun waktu kurang dari dua minggu.


Luna 25 sukses mencapai orbit Bulan pada Rabu (16/08). Namun kemudian pada Minggu (20/08), ketika mengaktifkan mesin untuk menghaluskan pendaratan, Luna 25 malah jatuh ke permukaan Bulan. Pada hari yang sama, Chandrayaan-3 baru mulai memasuki orbit Bulan.


Penjelajahan kutub selatan Bulan merupakan sebuah pencapaian besar untuk India. Hal ini dikarenakan pendaratan-pendaratan sebelumnya belum ada yang mencapai area ini. Area kutub selatan terbilang sebagai salah satu bagian yang paling sulit didarati dari Bulan. Permukaannya dipenuhi batu-batu besar, tidak seperti hamparan luas dan datar di beberapa bagian lain. Negara-negara lain seperti Israel dan Jepang pun juga pernah melakukan upaya pendaratan di kutub selatan, tapi keduanya jatuh sebelum sempat mencapai permukaan. Di sinilah kita bisa melihat kecerdikan para insinyur Chandrayaan-3. Mereka menyiasati pendaratan dengan menggunakan mode melayang ketika berada 850 m di atas permukaan sebelum mencari tempat parkir yang aman.


Ada alasan kuat di balik upaya keras badan antariksa di berbagai dunia mengincar kutub selatan Bulan. Para ilmuwan meyakini bahwa kawah-kawah di kutub selatan merupakan sebuah danau beku. Teori itu dibuktikan wahana antariksa Chandrayaan-1 yang diluncurkan pada 2008 lalu. Spektrometer pesawat mengidentifikasi keberadaan regolith es. Probe yang dirilis pun membuktikan keberadaan air di kutub selatan. Misi berikutnya, yaitu Chandrayaan-2 pada 2019 hanya berhasil sebagian, di mana penjelajahnya gagal melakukan pendaratan, tetapi pengorbitnya masih terus mengelilingi Bulan dan saat ini membantu Vikram mengirim data-data gambar ke Bumi.


Eksplorasi Bulan masih terus diincar oleh negara-negara lain. Para ilmuwan tak hanya mengincar keberadaan air, tapi juga bersiasat memecah molekul H20 untuk menghasilkan oksigen, baik itu untuk bernapas maupun menggabungkan dengan hidrogen untuk membuat bahan bakar roket. Sebuah program pendaratan di kutub selatan Bulan dengan awak sedang dicanangkan NASA. Namun untuk saat ini, giliran Chandrayaan-3 yang lebih dulu bekerja. Hasilnya kelak diharapkan dapat mengungkap lebih banyak mengenai Bulan, membuka gerbang untuk kelanjutan penjelajahan di masa mendatang.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(nar)

Share :