Harta Karun Dunia Ada di RI, Pakar UGM Bocorkan Lokasinya!

Yasmin Najla Alfarisi . February 20, 2026

Foto: Freepik/ VecMes

Teknologi.id -  Indonesia saat ini tengah berada di ambang penemuan besar yang dapat mengubah peta industri teknologi global. Kekayaan alam nusantara ternyata menyimpan Logam Tanah Jarang (LTJ), sebuah komoditas yang sering dijuluki sebagai mineral ajaib karena perannya yang krusial bagi masa depan peradaban. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan bahwa potensi ini merupakan harta karun strategis yang lokasinya mulai terpetakan di beberapa wilayah Indonesia.

Logam tanah jarang merupakan komponen inti yang tidak tergantikan dalam pengembangan teknologi tinggi. Mineral ini menjadi bahan baku utama untuk mesin jet pesawat tempur, sistem persenjataan rudal, hingga perangkat komunikasi militer canggih. Selain untuk pertahanan, LTJ juga menjadi nyawa bagi industri komersial, mulai dari komponen elektronik, teknologi satelit, alat pelacak bawah laut, hingga sistem energi terbarukan. Penguasaan atas mineral ini secara otomatis akan memperkuat posisi geopolitik Indonesia di mata dunia.

Baca juga: Indonesia Kembangkan Baterai Sodium, Solusi Murah untuk Kendaraan Listrik

Riset Panjang dan Momentum Geopolitik

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, menjelaskan bahwa riset mengenai mineral ini sebenarnya telah berlangsung cukup lama di tanah air. Lucas sendiri terlibat dalam penelitian LTJ perdana pada tahun 2008 melalui proyek kerja sama internasional Indonesia dan Jepang yang didanai oleh JICA. Menurutnya, bagi kalangan peneliti, isu mengenai mineral ini bukanlah hal baru, namun memang memerlukan perjalanan riset yang sangat panjang untuk sampai pada tahap implementasi industri.

“Riset logam tanah jarang di Indonesia bukan perkara baru. Penelitian sejak 2008 dalam proyek kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai Japan International Cooperation Agency (JICA),” katanya.

Ketertarikan dunia terhadap logam tanah jarang meningkat secara dramatis setelah Tiongkok memutuskan untuk membatasi ekspor komoditas tersebut. Langkah Tiongkok ini memicu kekhawatiran global, terutama bagi negara industri seperti Jepang yang sangat bergantung pada pasokan LTJ untuk keberlangsungan sektor manufaktur mereka. Hal inilah yang kemudian mendorong gerakan eksplorasi LTJ secara masif di seluruh dunia. Jepang menjadi salah satu promotor utama riset di kawasan ASEAN melalui berbagai skema pendanaan serta beasiswa penelitian.

Potensi Geologi dan Kehati-hatian Pemerintah

Foto: Freepik/ ArthurHidden

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar, pakar UGM ini menekankan pentingnya membedakan antara potensi geologi dengan realitas produksi. Jika dibandingkan dengan komoditas seperti emas atau tembaga yang sudah ditambang secara masif, logam tanah jarang di Indonesia saat ini masih berada pada tahap eksplorasi serta pengujian tingkat keekonomian. Indonesia masih berada dalam fase awal untuk benar-benar bisa menikmati hasil dari mineral strategis ini secara komersial.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum mengeluarkan izin usaha pertambangan khusus untuk logam tanah jarang. Lucas menilai hal ini mencerminkan sikap kehati-hatian pemerintah dalam mengelola kekayaan negara sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

“Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah,” tegas Lucas.

Meskipun negara tetangga seperti Myanmar, Laos, dan Vietnam sudah mulai melakukan produksi, langkah hati-hati Indonesia dianggap perlu agar pengelolaan mineral ini tetap memberikan manfaat optimal bagi kedaulatan nasional.

Mamuju: Titik Fokus Pilot Project Nasional

Lucas mengungkapkan bahwa salah satu wilayah yang paling prospektif untuk pengembangan LTJ adalah Mamuju, Sulawesi Barat. Lokasi ini direncanakan akan menjadi proyek percontohan atau pilot project hilirisasi logam tanah jarang nasional. Penemuan potensi di Mamuju memiliki latar belakang yang unik karena awalnya daerah tersebut diteliti oleh BATAN terkait adanya anomali radioaktif. Namun dalam prosesnya, peneliti justru menemukan kandungan logam tanah jarang yang sangat tinggi.

UGM memiliki kontribusi besar dalam mengungkap potensi di Sulawesi Barat tersebut melalui riset akademis yang berkelanjutan. Selain di Mamuju dan wilayah Bangka Belitung, penelitian terbaru menunjukkan adanya potensi lainnya yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Temuan ini semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan mineral kritis yang sangat dibutuhkan dunia dalam jangka panjang.

Baca juga: Krisis Nikel Dunia! Harta Karun Indonesia Makin Langka, Jadi Rebutan AS dan China

Tantangan Teknologi Ekstraksi

Tantangan terbesar bagi Indonesia bukan hanya pada pencarian sumber daya, melainkan pada penguasaan teknologi ekstraksi. Lucas menjelaskan bahwa logam tanah jarang memiliki karakteristik yang sangat spesifik dan sering kali berasosiasi dengan unsur radioaktif. Karena karakter mineralnya berbeda di setiap lokasi, maka metode pengolahannya pun harus sangat spesifik dan membutuhkan penguasaan teknologi tingkat tinggi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) guna mengoordinasikan riset dan menyelaraskan kebijakan mineral strategis. Keberadaan BIM menjadi sinyal positif bahwa pemerintah mulai menempatkan hasil riset perguruan tinggi sebagai pilar utama dalam pengelolaan kekayaan alam. Dengan kolaborasi yang kuat antara akademisi dan pemerintah, Indonesia diharapkan mampu mengolah logam tanah jarang secara mandiri di masa depan.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar