
Foto: rm.id
Teknologi.id – Fenomena astronomi memukau berupa Gerhana Matahari Cincin (GMC) dijadwalkan akan menyapa penduduk Bumi pada 17 Februari 2026 mendatang. Meskipun peristiwa ini sering kali dinanti karena visual "Cincin Api"-nya yang estetik, para pakar astronomi dan kesehatan mata memberikan peringatan serius. Secara teknis, gerhana yang akan melintasi wilayah Antartika dan Pasifik Selatan ini justru dianggap lebih berbahaya bagi mata manusia dibandingkan dengan gerhana Matahari total.
Antusiasme publik terhadap peristiwa langka ini memang sangat tinggi, mengingat keindahan geometris yang tercipta saat cakrawala menggelap dan menyisakan lingkaran emas yang sempurna di langit selatan. Namun, di balik kemegahan visual yang memanjakan mata tersebut, terdapat ancaman radiasi yang sering kali diremehkan oleh para pengamat amatir maupun pemburu foto gerhana yang kurang teredukasi. Kekhawatiran ini muncul karena adanya perbedaan mendasar pada mekanisme tutupan piringan bulan yang menciptakan ilusi keamanan bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung tanpa perlindungan. Ilusi ini sangat berbahaya karena meskipun langit terasa sedikit lebih redup, intensitas radiasi yang mencapai permukaan Bumi tetap berada pada level yang mampu merusak jaringan biologis mata manusia secara permanen dalam waktu singkat.
Anomali Piringan Bulan dan Ketiadaan Fase Aman

Foto: shutterstock.com
Penyebab utama mengapa Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 sangat berisiko terletak pada posisi Bulan yang berada di titik terjauh dari Bumi (apogee). Kondisi ini membuat piringan Bulan tampak lebih kecil dibandingkan dengan piringan Matahari. Akibatnya, saat mencapai puncak gerhana, Bulan tidak mampu menutup cahaya sang surya secara sempurna, sehingga menyisakan sekitar 8 hingga 12 persen cahaya yang meluap di bagian pinggir.
Berbeda dengan Gerhana Matahari Total yang memiliki fase totalitas saat Matahari tertutup 100 persen dan aman dilihat sejenak dengan mata telanjang, Gerhana Matahari Cincin tidak memiliki fase aman sama sekali. Cahaya yang tersisa pada cincin tersebut tetap membawa radiasi ultraviolet (UV) dan inframerah yang sangat intens. Menatapnya tanpa alat bantu standar ISO sangat dilarang karena radiasi tersebut tetap mampu menghanguskan sel mata meski sebagian besar permukaan Matahari tampak gelap.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin Perdana 2026 Segera Tiba, Cek Wilayah Lintasannya di Sini!
Ancaman Solar Retinopathy: Kerusakan Tanpa Rasa Sakit
Risiko medis yang paling ditakuti dari fenomena ini adalah solar retinopathy. Kondisi ini terjadi ketika lensa mata memfokuskan sinar UV tepat ke retina sehingga memicu reaksi kimia berbahaya yang merusak sel fotoreseptor. Hal yang paling menipu dari bahaya ini adalah sifatnya yang tidak menimbulkan rasa sakit seketika. Hal tersebut dikarenakan retina manusia tidak memiliki saraf perasa sakit, sehingga seseorang tidak akan menyadari bahwa matanya tengah terbakar saat terpukau melihat cincin api di langit.
Gejala kerusakan biasanya baru mulai dirasakan antara 12 hingga 24 jam setelah paparan, sering kali saat korban bangun tidur keesokan harinya. Penderita mungkin akan mengalami pandangan kabur, munculnya bintik hitam atau skotoma di pusat penglihatan, hingga distorsi warna yang permanen. Secara statistik, hanya 50 persen penderita yang dapat pulih dalam waktu satu tahun, sementara sisanya harus menanggung kerusakan penglihatan seumur hidup karena sel retina yang mati tidak dapat diperbaiki secara medis.
Baca juga: Siap-siap! Fenomena 3 Gerhana Matahari Langka Bakal Hiasi Langit Mulai 2026
Metode Pengamatan yang Aman
Meskipun jalur utama gerhana 17 Februari 2026 tidak melewati wilayah Indonesia, masyarakat yang berada di zona gerhana, seperti Afrika bagian selatan dan Amerika Selatan, wajib mematuhi protokol keselamatan. Penting untuk dipahami bahwa penggunaan media improvisasi seperti kacamata hitam berlapis, negatif film, atau pantulan air sangat tidak disarankan karena alat-alat tersebut tidak memiliki filter pelindung radiasi inframerah yang memadai.
Para ahli menyarankan agar masyarakat memanfaatkan kanal live streaming resmi dari lembaga antariksa dunia jika tidak memiliki perlengkapan yang memadai. Mengabaikan prosedur keselamatan hanya demi menyaksikan fenomena selama beberapa menit dapat berakibat pada hilangnya kemampuan melihat detail dan warna secara permanen. Edukasi mengenai keselamatan ini harus disebarluaskan sedini mungkin, terutama kepada anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar namun belum memahami konsekuensi jangka panjang dari kerusakan penglihatan. Sebagai penutup, pastikan Anda hanya menggunakan kacamata gerhana yang telah tersertifikasi ISO 12312-2 demi menjaga kesehatan mata Anda.
Dengan persiapan yang matang dan pemahaman risiko yang benar, fenomena gerhana matahari cincin 2026 tetap bisa dinikmati sebagai peristiwa sains yang mengagumkan tanpa harus mengorbankan masa depan penglihatan kita. Mari menjadi pengamat yang cerdas dengan selalu mengutamakan keselamatan medis di atas kepuasan visual sesaat.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(AA/ZA)

Tinggalkan Komentar