Megathrust Bisa "Meledak" Kapan Saja: Jawa dan Sumatra Masuk Zona Peringatan Tsunami

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 04, 2026


Foto: Kompas

Teknologi.id – Memasuki awal tahun 2026, kewaspadaan nasional terhadap bencana alam kembali meningkat tajam. Laporan terbaru yang dirilis oleh CNBC Indonesia menyoroti potensi "ledakan" energi dari zona Megathrust yang dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan dini yang lama. Sebagai negara yang dikepung oleh 13 hingga 14 segmen Megathrust aktif, Indonesia kini menghadapi risiko guncangan hebat yang tidak hanya berdampak pada kerusakan infrastruktur akibat gempa, tetapi juga potensi tsunami dahsyat yang mengincar pesisir padat penduduk di sepanjang Pulau Sumatra dan Jawa.

Kekhawatiran para ilmuwan berpusat pada fakta bahwa beberapa segmen tersebut telah lama tidak melepaskan energinya dalam skala besar, atau yang sering disebut sebagai seismic gap. Akumulasi energi yang tersimpan selama puluhan hingga ratusan tahun ini ibarat bom waktu geologis yang siap meledak, memicu pergerakan lempeng tektonik yang mampu memindahkan volume air laut dalam jumlah masif ke arah daratan.

Segmen Enggano dan Selat Sunda: Titik Paling Kritis

Fokus utama dari peringatan di awal tahun 2026 ini adalah Segmen Enggano di Sumatra dan wilayah Selat Sunda. Berdasarkan pemodelan terbaru, kedua wilayah ini memiliki keterkaitan yang sangat erat. Jika Segmen Enggano mengalami patahan hebat, efek domino atau rambatan energinya diprediksi akan menjalar hingga ke wilayah Selat Sunda dan Selatan Jawa bagian Barat.

Wilayah Selat Sunda menjadi sangat krusial karena merupakan salah satu titik dengan aktivitas logistik dan pariwisata tersibuk di Indonesia. Para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa jika gempa Megathrust benar-benar terjadi di zona ini, dampaknya tidak akan terbatas pada satu provinsi saja. Lampung dan Banten akan menjadi wilayah pertama yang merasakan hantaman langsung, mengingat posisi geografisnya yang berhadapan langsung dengan samudera lepas dan celah sempit selat.

Baca  juga: Benarkah Gempa Dahsyat Megathrust di RI Bakal Terjadi Sebentar Lagi? Ini Kata Ahli

Prediksi Ketinggian Tsunami dan Waktu Tiba di Berbagai Wilayah

Dampak paling mematikan dari gempa Megathrust bukanlah guncangannya semata, melainkan gelombang tsunami yang menyertainya. Berdasarkan skenario terburuk yang dipaparkan dalam laporan tersebut, ketinggian gelombang tsunami di wilayah pesisir Banten diprediksi dapat mencapai angka yang sangat membahayakan, yakni berkisar antara 4 hingga 8 meter, bahkan dalam beberapa pemodelan ekstrem untuk wilayah sekitar Ujung Kulon, tinggi gelombang bisa menyentuh angka 34 meter.

Wilayah Lampung, khususnya yang menghadap langsung ke arah Selat Sunda, diprediksi akan terdampak secara menyeluruh. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah waktu tiba gelombang (arrival time). Di wilayah Lebak, Banten, gelombang tsunami diperkirakan sampai hanya dalam waktu 18 menit setelah guncangan hebat terjadi. Untuk pesisir Jawa bagian Selatan secara umum, waktu evakuasi yang tersedia hanya sekitar 40 menit sebelum gelombang pertama menghantam daratan.

Bagaimana Dengan Jakarta? Peringatan untuk Pesisir Utara

Meskipun Jakarta tidak berhadapan langsung dengan samudera di selatan, ibu kota tetap tidak luput dari ancaman. Laporan menyebutkan bahwa gelombang tsunami mampu masuk melalui celah Selat Sunda dan menyebar hingga ke Teluk Jakarta di pesisir utara. Meskipun energinya diprediksi sudah berkurang saat mencapai Jakarta, ketinggian gelombang tetap diwaspadai berada pada kisaran 1 hingga 1,8 meter.

Estimasi waktu tsunami mencapai Jakarta adalah sekitar 2,5 jam setelah gempa utama. Walaupun waktu evakuasi di Jakarta lebih panjang dibandingkan wilayah Lebak atau Lampung, karakteristik Jakarta Utara yang memiliki daratan lebih rendah dari permukaan laut (akibat penurunan muka tanah) membuat gelombang setinggi satu meter pun tetap berisiko menimbulkan banjir rob yang destruktif dan memutus akses infrastruktur vital. Wilayah Jakarta Utara diprediksi menjadi area yang pertama kali merasakan dampak kenaikan air laut ini.


Foto: UNESA

Mitigasi: Antara Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan

Pihak BMKG dan pakar seismologi seperti Pepen Supendi menegaskan bahwa publikasi data mengenai potensi gempa Megathrust ini bukan bertujuan untuk menciptakan kepanikan massal di tengah masyarakat. Sebaliknya, informasi ini dirilis sebagai bagian dari upaya penguatan mitigasi bencana. Pengetahuan mengenai titik rawan, estimasi tinggi tsunami, dan waktu evakuasi diharapkan dapat mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih siap.

Pemerintah melalui BPBD diinstruksikan untuk memastikan jalur evakuasi dalam kondisi baik, rambu-rambu tsunami terlihat jelas, dan sistem peringatan dini (EWS) berfungsi 24 jam. Selain itu, pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir harus mulai mempertimbangkan aspek ketahanan terhadap tsunami, seperti penanaman vegetasi mangrove sebagai peredam alami atau pembangunan struktur pelindung pantai yang lebih kokoh.

Baca  juga: BMKG Sebut Gempa M 5,5 Gunungkidul Berhubungan dengan Zona Megathrust

Indonesia memang ditakdirkan hidup berdampingan dengan potensi bencana megathrust. Namun, dengan kemajuan teknologi pemodelan dari BRIN dan BMKG, kita tidak lagi "buta" terhadap ancaman tersebut. Peringatan di awal Januari 2026 ini harus dijadikan momentum bagi setiap individu, terutama yang tinggal di sepanjang pesisir Sumatra dan Jawa, untuk kembali mempelajari prosedur keselamatan diri, menyiapkan tas siaga bencana, dan selalu memperbarui informasi dari kanal-kanal resmi pemerintah. Ketangguhan sebuah bangsa dalam menghadapi bencana tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari seberapa tanggap dan disiplin masyarakatnya dalam merespons setiap peringatan dini yang diberikan.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar