CEO DeepMind Ungkap Rutinitas Tak Biasa, Kerja Dini Hari dan Tidur Pagi

Wildan Nur Alif Kurniawan . April 27, 2026


Foto: Google

Teknologi.id – Rutinitas kerja CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, terbilang tidak biasa dan secara tegas diakuinya tidak untuk ditiru. Berbeda dengan petinggi perusahaan teknologi lain seperti Sundar Pichai, Tim Cook, dan Mark Zuckerberg yang dikenal memiliki jadwal tidur relatif teratur pada malam hari, Hassabis justru tidur sekitar enam jam per hari yang baru dimulai setelah waktu subuh.

Dalam wawancara terbarunya bersama Fortune, Hassabis membenarkan pola hidupnya yang di luar kebiasaan umum tersebut.

"Saya mencoba tidur enam jam, tetapi kebiasaan tidur saya tidak biasa. Saya mengaturnya (tidur) di siang hari," kata Hassabis.

Pola Kerja 'Dua Sif'

Dalam menjalankan kesehariannya, Hassabis membagi hari kerjanya ke dalam dua fase atau sif yang terpisah.

Pada hari kerja pertama, ia beraktivitas layaknya eksekutif pada umumnya. Ia berada di kantor untuk menyelesaikan berbagai agenda rapat dan aktivitas operasional perusahaan. Setelah jam kantor selesai, ia pulang ke rumah, makan malam, dan menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Namun, aktivitas kerjanya belum selesai. Setelah fase jeda tersebut, Hassabis memulai "hari kerja kedua" yang berlangsung dari pukul 22.00 malam hingga 04.00 pagi. Rentang waktu dini hari ini ia dedikasikan secara khusus untuk fokus berpikir, melakukan riset, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat kreatif.

Baca juga: Bill Gates Akui Menyesal Pernah Anggap Tidur Itu untuk Orang Malas

Alasan dan Sejarah Rutinitas


Foto: linkedIn/ Demis Hassabis

Mengenai pilihan waktu tersebut, Hassabis menyebut bahwa dirinya memang bukan tipe orang yang produktif jika harus bekerja penuh pada pagi atau siang hari. Berdasarkan pengalamannya, ia merasa bisa bekerja secara lebih optimal pada waktu dini hari. Baru setelah aktivitas sif keduanya selesai sekitar pukul 04.00 pagi, Hassabis pergi tidur hingga pukul 10.00 pagi, lalu kembali bersiap menuju kantor.

Pola kerja ekstrem ini bukan hal baru bagi Hassabis. Ia telah menjalankannya selama sekitar satu dekade, tepatnya sejak ia memimpin DeepMind. Laboratorium kecerdasan buatan (AI) tersebut didirikan pada tahun 2010, sebelum akhirnya diakuisisi oleh Google pada 2014.

Pada tahun 2023, Google mengambil langkah strategis dengan menggabungkan DeepMind dan Google Brain untuk membentuk divisi baru bernama Google DeepMind. Divisi gabungan inilah yang kini bertanggung jawab mengembangkan berbagai produk AI milik Google, termasuk pengembangan model bahasa besar (LLM) Gemini.

Baca juga: Tim Cook Mundur dari CEO Apple, John Ternus Siap Pimpin Mulai September 2026

Dampak Kesehatan dan Komparasi Tokoh Lain

Meski pola kerja tersebut telah dijalaninya bertahun-tahun, Hassabis menyadari bahwa kebiasaan tidurnya sama sekali tidak ideal. Ia secara terbuka mengakui rutinitas ini berpotensi membawa dampak kurang baik bagi otak. Hal ini sejalan dengan anjuran medis secara umum yang menyarankan orang dewasa untuk memiliki waktu tidur berkisar antara 7 hingga 9 jam per hari.

Di industri teknologi, pola kerja ekstrem yang memotong jam tidur memang kerap diungkap oleh petinggi perusahaan, terutama saat mereka berada di fase awal membangun bisnis. CEO Tesla, Elon Musk, adalah salah satu contohnya.

Dalam wawancara dengan Bloomberg pada 2018, Musk mengaku hanya tidur sekitar enam jam demi menjaga produktivitas kerjanya. Bahkan, Musk menyatakan pernah harus tidur di lantai pabrik Tesla selama periode produksi tertentu.

Kendati fenomena ini kerap terjadi di kalangan pemimpin industri teknologi, pengakuan Hassabis kembali menegaskan satu hal: pola kerja intens dan jam tidur minim bukanlah sebuah kebiasaan yang direkomendasikan untuk diikuti oleh publik.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News 

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar