31% Warga Indonesia Jadikan AI Tempat Curhat, Pilih Robot Ketimbang Manusia?

Algis Akbar . January 05, 2026

Foto: freepik.com

Teknologi.id – Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar alat untuk membantu pekerjaan administratif atau mencari informasi secara cepat dan instan. Di Indonesia, peran teknologi ini tampaknya telah bergeser ke ranah yang jauh lebih personal dan emosional. Sebuah fenomena baru mulai muncul di tengah masyarakat digital tanah air, di mana kecerdasan buatan kini menjadi telinga dan pendengar digital bagi mereka yang sedang merasa sedih atau tertekan. Berbagai layanan robot chat yang semakin pintar dan responsif ternyata mulai mengisi ruang kosong dalam interaksi sosial manusia, menciptakan tren di mana teknologi menjadi sandaran emosional di kala sedih.

Peran Penting AI dan Antusias Anak Muda 

Foto: tangkapanlayar/Kaspersky

Berdasarkan studi terbaru yang dirilis oleh perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, pada November 2025, terungkap sebuah fakta yang cukup mencengangkan mengenai perilaku digital di tanah air. Mengutip laporan tersebut, sebanyak 31 persen responden di Indonesia mengaku berinteraksi dengan AI ketika sedang tidak bahagia. Angka ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari populasi pengguna internet di Indonesia mulai menjadikan robot chat sebagai tempat pelarian emosional saat mereka merasa tertekan atau kesepian.

Fenomena ini didorong oleh rasa nyaman dan aman yang ditawarkan oleh AI. Responden dalam studi ini mengaku bahwa salah satu alasan utama mereka berpaling ke AI adalah ketersediaan waktu selama 24 jam penuh tanpa risiko dihakimi oleh lawan bicara. Keberadaan platform AI yang mampu memberikan respons empati yang membuat banyak orang merasa lebih aman untuk terbuka mengenai masalah pribadi mereka. Fenomena ini terjadi merata di berbagai kelompok usia, namun terlihat lebih menonjol di kalangan generasi muda yang sudah terbiasa dengan kehidupan digital. Pola ini mengindikasikan adanya pergeseran cara masyarakat Indonesia mengelola kesehatan mental dan mencari dukungan awal melalui medium digital yang bersifat privat.

Baca juga: Viral! Curhat ke ChatGPT Bikin Gangguan Mental Psikosis

Dampak Fenomena Curhat ke AI

Meningkatnya angka masyarakat yang memilih curhat ke AI memberikan gambaran tentang bagaimana industri teknologi mulai menyentuh dan berpengaruh terhadap sisi psikologis manusia. Pengembangan AI saat ini memang diarahkan untuk lebih memahami nuansa bahasa dan emosi manusia melalui pemrosesan bahasa alami yang semakin canggih. Hal ini memungkinkan robot chat untuk memberikan saran atau sekadar kata-kata penghiburan yang terdengar seperti human respond bagi penggunanya. Manfaat utama dari tren ini adalah adanya pertolongan pertama bagi individu yang mungkin merasa terisolasi secara sosial, sehingga mereka tetap memiliki medium untuk mengekspresikan perasaan mereka daripada memendamnya sendiri.

Namun, fenomena ini juga menekankan tantangan dalam hubungan sosial antarmanusia di era modern. Ketika teknologi menjadi pilihan utama untuk mencari ketenangan emosional, terdapat perdebatan mengenai sejauh mana ketergantungan ini akan memengaruhi kualitas interaksi tatap muka di dunia nyata. Industri teknologi kini melihat peluang besar untuk mengintegrasikan fitur-fitur kesehatan mental ke dalam aplikasi mereka, namun tetap harus memperhatikan batasan bahwa AI tetaplah algoritma. Kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman hidup nyata atau perasaan asli, sehingga perannya sebaiknya tetap menjadi pendamping informatif, bukan pengganti sepenuhnya dari interaksi manusia atau bantuan tenaga profesional seperti psikolog.

Sejauh Mana Peran Teknologi ini Membawa Penggunanya?

Untuk menjaga marwah manusia sebagai makhluk sosial, penggunaan AI sebagai teman bicara perlu dibatasi agar tidak mengikis kemampuan kita dalam berinteraksi di dunia nyata. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan AI hanya sebagai jembatan untuk menjernihkan pikiran, bukan tempat berlabuh terakhir. Batasilah waktu interaksi dengan robot chat dan usahakan untuk selalu menindaklanjuti kegelisahan tersebut dengan berbicara kepada teman, keluarga, atau tenaga profesional. Ingatlah bahwa validasi emosional yang paling bermakna adalah yang datang dari pengalaman bersama manusia lain, karena keberadaan fisik dan kehangatan suara manusia tidak akan pernah bisa digantikan oleh barisan kode algoritma sehebat apa pun.

Baca juga: Jangan Curhat ke AI Lagi! Psikolog Ungkap Bahaya Mental yang Mengintai

Pada akhirnya, fenomena 31 persen masyarakat Indonesia yang memilih curhat ke AI ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Teknologi memang bisa menjadi penolong instan saat rasa sedih melanda, namun ia tidak diciptakan untuk menggantikan peran sahabat atau keluarga dalam hidup kita. Jadikanlah AI sebagai teman diskusi untuk sekadar mengurai benang kusut di kepala, tapi jangan sampai kita lupa cara mengetuk pintu rumah kawan untuk bercerita. Sebab, di balik canggihnya barisan kode algoritma, kekuatan terbesar untuk sembuh dari rasa sedih tetaplah berasal dari pelukan, tatapan mata, dan dukungan nyata sesama manusia. Mari gunakan teknologi secukupnya, dan rawatlah kepedulian antarsesama selamanya.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(AA/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar